by

Covid-19: Belum Ada Obat Spesifik

-Nasional-56 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Indonesia melaporkan 1.673 infeksi baru pada Selasa (18 Agustus) dan meyembuhkan 1.848 orang. Pasien meninggal 70 orang. Jumlah kasus terus meningkat dalam beberapa hari, tetapi sistem rumah sakit tidak kewalahan menangani pasien baru.

Meskipun kasus terinfeksi berkembang, kementerian kesehatan mengatakan bahwa sebagian besar kasus tidak memerlukan perawatan medis di rumah sakit. “Hanya empat persen yang membutuhkan perawatan rumah sakit,” kata Abdul Kadir, pelaksana tugas direktur jenderal pelayanan kesehatan masyarakat di kementerian kesehatan.

Kadir mengatakan ibu kota provinsi Jakarta memiliki kapasitas tempat tidur 4.700 untuk pasien Covid-19, tetapi hanya 2.500 yang terisi, mewakili tingkat hunian tempat tidur sebesar 53%. Kami belum mendengar laporan tentang kapasitas tempat tidur di daerah lain sejauh ini.

Untungnya, recovery rate sudah mencapai 66,8%, di mana beberapa provinsi melaporkan di atas 70%, antara lain Jawa Timur (75,3%), Sulawesi Selatan (70,2%, dan Bali (88%). Namun, pemerintah harus bekerja keras. meningkatkan kapasitas penanganan di Jawa Tengah (62,8%), Jawa Barat (54,3%), dan Sumatera Utara (46%).

Sayangnya pengujian belum membaik secara signifikan. Dalam beberapa hari terakhir, jumlah tes harian jauh di bawah target (30.000) bahkan ketika kapasitas laboratorium meningkat secara signifikan, mungkin jauh di atas 40.000 tes/hari. Alhasil, Indonesia baru menguji sekitar 1 juta orang, tak seberapa dibandingkan 270 juta penduduknya.

Kurangnya sumber daya manusia yang berkualitas dan metode pengujian yang diterapkan mungkin menyebabkan rendahnya kapasitas pengujian, yang sayangnya belum ditangani secara serius oleh pemerintah pusat dan daerah. Beberapa daerah menunggu hingga dua minggu untuk mendapatkan hasil tes swab, yang menyebabkan lambatnya penanganan di rumah sakit, yang pada akhirnya menyebabkan tingkat kematian yang tinggi (4,4% — jauh di atas Filipina).

Kami mencatat beberapa kabupaten telah menginvestasikan laboratorium baru di rumah sakit umum setempat, tetapi yang lain masih dalam tahap pengadaan. Keputusan yang sangat lamban dari pemerintah daerah dalam mengalihkan anggaran ke penanganan Covid-19 dan birokrasi yang besar membuat negara ini rugi dalam beberapa bulan terakhir.

Sementara itu, beberapa institusi mungkin hanya akan memperburuk reputasi Indonesia dalam penanganan wabah dengan klaim obat baru yang ditemukan oleh peneliti Universitas Airlangga dengan Badan Intelijen Negara (BIN) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI AD) sebagai sponsor utama. Komunitas ilmuwan mempertanyakan uji klinis obat-obatan yang diklaim, terutama ketika BIN dan TNI AD dikabarkan telah memberikan tekanan kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk mempercepat izin edar obat tersebut.

Meskipun kami menghargai upaya mereka, proses ilmiah tidak boleh dilewati oleh intervensi politik jangka pendek. Kami mempelajari beberapa pertemuan tingkat tinggi antara para pemimpin lembaga dalam beberapa hari terakhir untuk mengklarifikasi masalah tersebut.

Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc, Ph.D selaku Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19 Kemenristek/BRIN, mengatakan sampai saat ini belum ada satu pun obat spesifik yang bisa diklaim sebagai obat penyembuh Virus SARS-CoV-2, termasuk imunomodulator yang sedang dikembangkan oleh konsorium.

Dr. Anwar Santoso selaku Anggota Komite Nasional Penilai Obat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengatakan obat yang direkomendasikan untuk dipakai masih dalam status uji klinik.

dr. Agus Dwi Santoso, Sp.P(K), FAPSR, FISR selaku Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, di Indonesia sendiri, pengobatan terhadap pasien COVID-19 disesuaikan oleh severity yang dimulai dari tanpa gejala, gejala ringan, gejala sedang, pneumonia berat, sampai kemudian kritis. Hal tersebut dikarenakan masing-masing severity memiliki pilihan obat apa saja yang diberikan berdasarkan konsensus dan kesepakatan dari para profesi.

Ia menjelaskan untuk pasien tanpa gejala cukup dengan hanya minum vitamin, namun berbeda dengan pasien dengan gejala. Adapun pasien yang memiliki gejala ringan, sedang, dan berat sebenarnya dari perhimpunan itu sudah mengeluarkan panduan.

“Di dalam paduan itu ada pilihan-pilihan, yaitu ada pilihan 1, 2, 3, 4. Di situ bisa diberikan kombinasi dari azitromisin atau levo, hidroksikloroquin dengan kloroquin oseltamivir dan vitamin. Atau pilihan kedua azitromicin levodoxacin diberikan kloroquin hidroksiklorokuin favipiravir ditambah vitamin. Atau, pilihan yang ketiga ya, Azitromisin levo,hidroksiklorokuin atau klorokuin, lopinavir, ritonavir, vitamin. Sedangkan pilihan yang keempat saat ini tidak ada. Karena kita tidak tersedia remdesivir,” jelas Agus.

Lebih lanjut lagi, Agus memaparkan bahwa terdapat tambahan obat untuk kasus-kasus berat dan kritis. Ada pun obat-obat tersebut di antaranya adalah dexamethasone dan antikoagulan yang diberikan sesuai dengan assessment.

Comment

News Feed