DEPOK (eNBe Indonesia) – Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar US$3,26 miliar pada bulan lalu, terutama disebabkan oleh kenaikan nilai ekspor sebesar 14,33%, sedangkan impor turun 2,73% dari bulan Juni. Sementara ekspor meningkat dari bulan Juni (secara bulanan) atau month to month (m/m), tapi turun 9,9% dibanding Juli 2019 (secara tahunan) atau year on year (y/y). Impor juga turun tajam sebesar 32,55% y/y, menunjukkan investasi dalam negeri yang lemah dan perlambatan ekonomi.

Meski demikian, surplus perdagangan yang mencapai US$8,75 miliar selama tujuh bulan pertama tahun 2020 berkontribusi terhadap rupiah yang relatif kuat di tengah perlambatan ekonomi global dan pasar keuangan yang bergejolak. Surplus perdagangan pada tujuh bulan pertama tahun 2020 disebabkan oleh nilai ekspor yang naik 6,21%, sedangkan impor turun 17,17%.

Sisi ekspor

Kami mencatat beberapa titik terang dalam periode tersebut. Besi dan baja merupakan salah satu sektor unggulan dengan pertumbuhan hampir 19% m/m. Dalam tujuh bulan pertama tahun 2020, ekspor besi dan baja melonjak 35,31% menjadi US$5,39 miliar, berkat investasi yang agresif di industri pengolahan logam dalam beberapa tahun terakhir, terutama baja nikel-ke-stainless. Kapasitas pengolahan baja Indonesia telah tumbuh lebih dari 10 juta ton, sebagian besar berasal dari pabrik baru yang didirikan oleh investor China di Pulau Sulawesi.

Emas juga melonjak hampir 80% m/m menjadi US$1,02 miliar, antara lain karena harga rata-rata emas dan perak yang lebih tinggi ditambah produksi atau output yang lebih tinggi di Freeport, produsen emas terbesar di negri ini. Dalam tujuh bulan pertama tahun 2020, ekspor emas juga melonjak 39,21% menjadi US$5,38 miliar. Baik Freeport maupun Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) kemungkinan akan kembali ke tingkat produksi yang lebih tinggi dalam beberapa bulan mendatang, dan, didukung harga rata-rata emas yang lebih tinggi, Indonesia dapat menghasilkan lebih banyak dari sektor ini.

Minyak sawit dan turunannya juga tumbuh 17,34% m/m menjadi US$1,68 miliar bulan lalu, berkat kenaikan harga rata-rata minyak sawit mentah (CPO) dan minyak inti sawit (PKO). Dalam tujuh bulan pertama tahun 2020, nilai ekspor minyak sawit tumbuh 12%. Kami mencatat harga rata-rata CPO yang lebih tinggi di pasar internasional dalam beberapa minggu terakhir, sehingga kami dapat berharap lebih dari komoditas tersebut.

Otomotif adalah titik terang lainnya, yang nilai ekspornya melonjak 45,7% m m. Penurunan penjualan otomotif global pada paruh pertama tahun 2020 menyebabkan penurunan nilai ekspor sebesar 227,22% selama tujuh bulan pertama tahun 2020. Meski demikian, data bulan Juli masih cukup menjanjikan untuk pemulihan industri otomotif dalam negeri.

Perbaikan komoditas lain di pasar internasional, terutama pertanian (karet alam — terkait otomotif, teh, kopi, kakao) dan logam (bauksit-alumina-aluminium, nikel, seng) juga harus mendukung pemulihan ekonomi domestik. Sayangnya, batubara termal tetap berada pada harga rendah, yang mungkin bertahan cukup lama karena wabah Covid-19.

Sisi Impor

Impor minyak dan gas melonjak 41,5% / m, menunjukkan perbaikan operasi kilang minyak Pertamina (impor minyak mentah melonjak 592%) dan konsumsi domestik produk olahan (bensin, solar). Impor non migas, sayangnya, turun 5,7% m/m. Tidak selalu buruk.

Impor otomotif dan suku cadang turun tajam sebesar 33,6% menjadi US$2,79 miliar dalam tujuh bulan pertama tahun 2020 mencerminkan koreksi penjualan produk otomotif dalam negeri. Impor sereal juga menurun. Namun, pemerintah harus memperhatikan tekstil dan garmen, industri padat karya, yang perlambatannya tercermin dari penurunan impor bahan baku yang cukup besar.

Kabar gembira, impor peralatan listrik meningkat 15,77% m/m. Secara umum, impor barang modal meningkat 10,82% m/m, sedangkan impor penunjang/bahan baku/komponen turun hanya 2,5%, menunjukkan pemulihan bertahap investasi dalam negeri dan industri pengolahan. (yosefardi.com)