by

PAN akan masuk koalisi Jokowi?

-Politik-86 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Pada Minggu (23/8), Presiden Joko “Jokowi” Widodo secara virtual menghadiri acara peringatan 22 tahun Partai Amanat Nasional (PAN). Presiden dalam sambutannya menyampaikan keyakinannya akan semangat PAN yang menurutnya sejalan dengan semangat Pemerintah untuk melanjutkan reformasi. Ada yang mengatakan itu adalah pertanda dari Jokowi bahwa dia terbuka untuk PAN untuk bergabung kembali dengan koalisi yang berkuasa.

Kemungkinan kembalinya PAN ke koalisi yang berkuasa telah menjadi bahan diskusi selama berbulan-bulan. Bukan rahasia lagi jika Ketua PAN Zulkifli Hasan ingin Partai kembali bergabung dengan koalisi penguasa Jokowi. Pembicaraan tentang perombakan kabinet memberi kesempatan bagi Partai untuk melakukannya. Apalagi, kehadiran Jokowi di acara HUT PAN ke-22 membuat PAN terus berharap.

Selain Jokowi, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri juga hadir dalam acara tersebut. Megawati bahkan diberi kehormatan membuka acara dengan sambutannya. Kehadiran Jokowi dan Megawati sangat berarti bagi PAN karena terus menghidupkan harapan Partai untuk kembali ke koalisi yang berkuasa. Setidaknya, PAN bisa dibilang memiliki hubungan yang sangat baik dengan Jokowi maupun Megawati.

Orang bisa mengerti mengapa Jokowi dan Megawati tetap dekat dengan PAN. Secara politis, ini dapat membantu Pemerintah menjaga oposisi dan kelompok penekan. Ini mungkin juga membantu PDIP mengunci partai oposisi dari pemilihan presiden dengan PAN memilih untuk tidak berkumpul kembali dengan PKS dan Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Tanpa PAN, seperti diketahui, PKS dan Partai Demokrat tidak memiliki cukup kursi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk melewati ambang batas presiden.

Tapi 2024 masih empat tahun lagi. Apa pun masih bisa terjadi. Dengan Jokowi tidak dapat mencalonkan diri untuk ketiga kalinya, mungkin sulit untuk mempertahankan loyalitas PAN. PAN kemungkinan besar akan mencalonkan seseorang untuk mencalonkan diri pada tahun 2024. Ingat, pada masa jabatan pertama Jokowi, PAN adalah bagian dari koalisi yang berkuasa. Namun menjelang pemilihan presiden 2019, PAN mundur dari koalisi yang berkuasa untuk berkumpul kembali dengan Gerindra dan PKS untuk mendukung Prabowo Subianto. Mungkin, itulah alasan mengapa Jokowi masih berpikir dua kali sebelum menerima PAN kembali ke koalisinya.

Meski begitu, perlu dicatat bahwa yang mendesak PAN harus mendukung Prabowo adalah Amien Rais. Zulkifli, di sisi lain, ingin Partai mendukung pemilihan kembali Jokowi dan tetap dalam koalisi yang berkuasa. Bahkan Tempo mengabarkan, perbedaan tersebut menjadi alasan yang paling memicu perselisihan antara Amien dan Zulkifli. Saat ini, dengan Zulkifli tetap memimpin PAN dan Amien yang ingin berpisah dengan mendirikan partai politik baru, terbuka lebar peluang bagi Zulkifli untuk melanjutkan agendanya membawa Partai kembali ke koalisi Jokowi. Akankah Zulkifli berhasil? Waktu akan menjawab. Istana Negara, seperti kita ketahui, sekali lagi membantah akan ada reshuffle kabinet. Bantahan baru-baru ini datang dari Menteri Sekretaris Negara Pratikno yang dikenal sebagai salah satu ajudan terdekat Jokowi. Pratikno mengatakan pada akhir pekan lalu bahwa rumor bahwa Presiden akan melakukan perubahan besar di kabinet tidak benar. (yosefardi.com)

Comment

News Feed