by

Orang berutang itu seorang hamba, mendiang Yakob Oetama berutang? (Pastor Leo Van Beurden)

-Profil-225 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Yakob Oetama, pendiri Kompas Media Group, telah berpulang di usia 88 tahun, dan publik di negri ini berduka karena kehilangan seorang tokoh media nomor satu, seorang pahlawan bagi bangsa karena konsisten dan penuh totalitas (setia) memelihara nilai-nilai kehidupan berbangsa melalui pemberitaan-pemberitaan media miliknya, media yang mengutamakan pencerahan (enlightenment), yang mencerdaskan anak bangsa.

Mendiang Yakob Oetama

Mendiang Yakob Oetama akan terus dikenang oleh generasi bangsa, dan diapun akan tetap menjadi inspirator bagi generasi pegiat media di nusantara ini. Mendiang Yakob telah meninggalkan aset paling berharga bagi negeri ini, dan publik tentu berharap generasi penerus mendiang Yakob, terutama Kompas Media Group, tidak hanya fokus membangun konglomerasi tetapi mempertahankan cita-cita mendiang Yakob agar Kompas tetaplah menjadi media pemersatu bangsa.

Bicara tentang Yakob Oetama, sosok hebat itu, tentu tak akan habisnya. Sisi kemanusiaan mendiang Yakob, sosok yang sangat peduli dan penuh kasih memperhatikan orang lain, terutama ribuan karyawan yang berkarya di Kompas Media Group, dibahas khusus dalam acara pendalaman kitab suci oleh umat Katolik Lingkungan Anselmus de Canterbury, Paroki Herkulanus Depok tadi malam.

Apakah mendiang Yakob memberi dari kelebihannya atau dari kekurangan? Ini pertanyaan menggelitik yang dibahas kelompok diskusi kami tadi malam. Tak ada yang bisa menjawab, tapi permenungan kami bermuara pada semangat saling meneguhkan, agar tetap peduli pada sesama meski dalam situasi sulit seperti sekarang ini. “Kita boleh tetap jaga jarak akibat momok virus corona, tapi kita justru harus lebih dekat dengan Tuhan Yesus dan tetap mengandalkan Tuhan,” ujar salah satu umat dalam intensi bersama.

Pastor Leo Van Beurden OSC dalam kotbahnya di misa hari ini (Gereja Santo Petrus Bandung) mengatakan manusia itu adalah iblis jika hanya mengutamakan, memikirkan dirinya sendiri. Hakikatnya, manusia adalah makluk sosial, karena suka menolong, membahagiakan, dan menyelamatkan sesama.

Yang jadi soal, demikian Pastor Leo, manusia cenderung bertahan pada gengsi, karena sakit hati dan kecewa, maka tidak mau lagi menolong, menghidupi, dan mengampuni mereka yang telah bersalah. “Dalam Injil Mateus, Yesus tegas mengatakan kepada Petrus untuk mengampuni sesama hingga 70 x 7 kali, bukan 7 kali saja.”

Yesus juga meyakinkan Petrus bahwa kerajaan Allah seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Raja itu berbelas kasih pada seorang hamba dan menghapuskan utang seorang hambanya sebesar 10,000 talenta, padahal Raja sebelumnya menghendaki hamba itu menjual istri, anaknya untuk melunasi utang. Sayang, hamba tersebut justru menghakimi kawannya yang berutang padanya hanya 100 dinar dan memenjarakannya. Saat raja tahu, hamba jahat itupun diserahkan kepada algojo-algojo hingga dia melunasi utangnya. “Demikian BapakKu di surga akan menghukum kamu jika kamu tidak mengampuni sesamamu dengan segenap hatimu,” kata Yesus seperti ditulis Injil Mateus.

Mendiang Yakob Oetama juga seorang raja (media), tentu tidak seperti raja yang dilukiskan dalam Injil Mateus. Persis sama dengan konglomerat pada umumnya, mendiang Yakob tentu meninggalkan warisan utang bagi kerajaan bisnisnya. Tetapi sisi kemanusiaan Yakob telah membuat banyak orang merasa kehilangan dirinya, dan berutang budi padanya.

KERAJAAN BISNIS

Jakob Oetama telah mengembangkan kerajaan bisnis, media, properti, dan perhotelan terbesar di tanah air. Memulai karirnya sebagai guru SMA, Jacob akhirnya menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh di industri media.

Jakob memiliki dua anak: Lilik Oetama dan Irwan Oetama. Lilik adalah CEO grup, sedangkan saudara laki-laki Irwan adalah komisaris. Jakob mendirikan Grup Kompas Gramedia bersama almarhum Petrus Kanisius Ojong, yang memiliki enam orang anak (Remigius, Yusuf, Andreas, Carolus, Sri Melani, dan Sri Mariani). Beberapa dari mereka memegang posisi di berbagai perusahaan dalam grup.

Grup Kompas Gramedia telah mengembangkan bisnisnya di luar penerbitan surat kabar, majalah, tabloid, dan buku. Berikut adalah beberapa bisnis grup:

1 / Penerbitan:

Media Cetak: Koran Kompas, Makalah Kontan, Tribun News; Intisari (majalah), surat kabar lokal di seluruh nusantara; Bola tabloid; dll
TV: Kompas TV, TV7 (kemitraan dengan TransCorp Chairul Tanjung)
Online: kompas.com, tribunnews.com, dll
Radio: Sonora, SmartFM, Bali FM, Radio Gerak; Kalimaya Bhaskara; RIA FM di Solo; Serambi FM di Aceh;

2 / Perhotelan: Grup memiliki dan mengoperasikan lebih dari 110 hotel di Indonesia dan Singapura dengan merek seperti Santika, Amaris, The Samaya, The Kayana dan The Anvaya (resor di Pulau Bali), dan Kampi.

3 / Manufaktur: Gramedia Printing Group; MetaForm, Gramedia Mitra Edukasi Indonesia;

4 / Properti: MediaLand (Indonesia Convention Exhibition bekerja sama dengan Sinarmas Group; Allianz Tower di Jakarta); PT Translingkar Kita Jaya (jalan tol); Wisma Kompas Gramedia;

5 / Retail: Toko buku Gramedia (> 100 outlet); Cozyfield (kafe dan restoran); CoFi by Cozyfield (kedai kopi); Teen Teensy (43 gerai).

6 / MICE: Dyandra Group (tercatat di BEI); Bali Nusa Dua (pusat konvensi); Pusat konvensi surabaya

Comment

News Feed