by

KONTES SYIAR ANAK NEGERI: MAN Nagekeo-NTT Juara 2, Juri tak rela?

-Nasional-98 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Sekolah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Nagekeo, NTT, yang diwakili Ampera Nasyid MAN Mbay, sukses menyabet gelar terbaik kedua (runner-up) atau juara 2 di kontes Syiar Anak Negeri 2020 yang diselenggarakan Kementerian Agama RI bekerja sama dengan stasiun televisi nasional MetroTV.

Ampera Nasyid, mewakili propinsi NTT, tampil memukau secara konsisten dan menyingkirkan ratusan peserta dari seluruh propinsi di tanah air, hingga mencapai ajang puncak, grandfinal pada Minggu malam (13/9). Melly Goeslow, salah satu juri, sangat mengapresisasi penampilan Ampera Nasyid karena selalu tampil bagus, konsisten, penuh harmonisasi, dan sangat kompak sepanjang tahapan kontes hingga grandfinal.

Juri yang lain, Ahmad Umar, bahkan meneteskan air mata karena terpesona dan terpukau pada Ampera Nasyid yang sukses membuat nama Madrazah membahana di seantero negri ini.

Sayang, dua juri ini begitu mudahnya berubah, dan memilih rival tak diduga “AFSIN Voice” MAN Insan Cendekia Pekalongan menjadi pemenang, sang juara. Penampilan apik Afsin Voice di grandfinal dianggap sangat hebat, padahal tim ini tidak diandalkan Melly Goeslow untuk masuk tahap grandfinal. Penampilan apik di ujung kontes hanyalah kebetulan, karena Afsin Voice tidak tampil konsisten dalam kontes ini.

Juri ketiga pun menegaskan jika Afsin Voice tampil hebat di grandfinal, setelah tak tampil hebat di tahapan sebelumnya. “Anda seperti nyalip di tikungan, dan saya yakin anda bisa juara,” ujar juri minim referensi itu.

Tetapi biarlah, meski juri memang tak rela agar pemenang itu adalah pedatang baru (Ampera Nasyid dari NTT), publik tanah air akan lebih obyektif memberi nilai tertinggi bagi anak-anak MAN Mbay-Nagekeo, terutama kapasitas intelektual, moral, budaya, nilai-nilai agama, pendidikan kebangsaan, termasuk semangat menghilangkan sikap intoleransi, dan kelompok radikal yang memecah belah di negri tercinta ini.

Mari kita usir mereka yang tinggal nyaman dalam selimut hoaks (ujaran kebencian). Ini negeri kita, lahir di atas aroma keberagaman, kental perbedaan tapi selalu manis dalam cawan kebersamaan, damai dalam toleransinya, saling mengenal dan menjaga, bergandengan tangan membentuk ritme cinta dan setia yang utuh. Begitulah penggalan syair Ampera Nasyid.

“Islam adalah keselamatan dan cinta. Namun tindakan intoleransi, radikal dan ekstrim masih saja terjadi. Tren kebencian kepada satu kaum makin menjadi. Masih banyak kelompok yang merasa dirinya paling benar bahkan dengan mudahnya mengatakan kelompok lain adalah kafir. Sungguh ironis. Butuh akidah dan toleransi, toleransi tanpa perlu menggadaikan akidah seperti diajarkan Nabi Muhammad SAW. Tengoklah ke Indonesia Timur, walau Islam minoritas, mereka tetap satu dalam cawan keberagaman. Saat ini Madrazah adalah tumpuan harapan umat, menciptakan dan mempertahankan harmonisasi untuk NKRI. Salam cinta toleransi dari Nagekeo, kota kecil kami.”

Comment

News Feed