by

Ekonomi Resesi

-Ekonomi-163 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan perekonomian Indonesia sedang mengalami resesi karena kontraksi pada kuartal kedua dan ketiga tahun ini. Pada kuartal kedua (Q2), ekonomi Indonsia mengalami kontraksi 5,32%, dan pada Q3, kata Sri Mulyani, ekonomi mencatat pertumbuhan negatif sebesar 2,9% hingga 1,0%. Menteri juga memperkirakan ekonomi akan tetap mengaalami kontraksi pada Q4 tahun ini. Kementerian Keuangan merevisi proyeksi sebelumnya (minus 1,1%-positif 0,2% untuk Q3) karena ketidakpastian yang disebabkan oleh pandemi COVID-19.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, konsumsi rumah tangga menyusut menjadi 1,5% di Triwulan ke-3, investasi menyusut sebesar 8,5% menjadi 6,6%, ekspor turun 13,9% menjadi 8,7%, dan impor turun sebesar 26,8% menjadi 16%. Sedangkan belanja pemerintah tumbuh 9,8% menjadi 17%.

Untuk tahun ini, Sri Mulyani mengatakan ekonomi akan kontraksi 1,7% hingga 0,6%, dengan konsumsi rumah tangga mencatat minus 2,1% hingga minus 1%. Investasi masih lemah tetapi mulai pulih yang tercermin dari beberapa indikator seperti aktivitas bangunan, impor barang modal, dan penjualan kendaraan niaga.

Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh minus 1% tahun ini, namun akan tumbuh 5,3% tahun depan seiring dengan pemulihan ekonomi. Sementara itu IMF memprediksikan ekonomi Indonesia tahun ini mencatat minus 0,23% namun tumbuh 6,1% tahun depan. Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh nol persen tahun ini, tetapi akan tumbuh 4,8% tahun depan. Sementara itu, OECD memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh minus 2,8% tahun ini dan tumbuh 5,2% tahun depan.

Pandemi COVID-19, kata ADB, menghantam hampir semua indikator ekonomi Indonesia, termasuk konsumsi, investasi, dan perdagangan, seiring pandemi melanda aktivitas domestik dan permintaan eksternal. Permintaan domestik yang lemah akan mempengaruhi inflasi dan defisit transaksi berjalan akan bergerak moderat dan meningkat pada 2021. ADB mencatat pemulihan ekonomi bergantung pada penanganan pandemi. Perekonomian akan terancam pandemi berkepanjangan.

Sri Mulyani mengatakan, untuk tahun 2021 perekonomian diproyeksikan tumbuh sebesar 4,5% hingga 5,5%, namun hal tersebut bergantung pada perkiraan COVID-19 dan bagaimana pengaruhnya terhadap perekonomian Indonesia. Untuk menahan dampak negatif pandemi terhadap perekonomian, pemerintah telah dan akan terus mengambil langkah kebijakan yang luar biasa untuk menjaga dan memulihkan kesehatan masyarakat, kondisi sosial ekonomi, dan dunia usaha.

Pemulihan ekonomi melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) juga dilakukan untuk mencegah kontraksi yang lebih dalam dan memulihkan sisi permintaan, seperti konsumsi, investasi, ekspor, dan sisi penawaran atau sisi produksi.

Sri Mulyani mengatakan, kebijakan fiskal melalui instrumen APBN akan tetap memainkan peran vital hingga sisa tahun 2020 dan 2021 dalam rangka percepatan pemulihan ekonomi dan penguatan reformasi.

Sri Mulyani juga mengklaim belanja pemerintah mengalami percepatan, dengan penerimaan negara mencapai Rp1.034,1 triliun per Agustus 2020. Namun angka ini turun 13,1% (Rp156,1 triliun), dari Rp1.190,2 triliun per Agustus 2019. Penerimaan pajak turun 15,6% menjadi Rp676,9 triliun pada periode tersebut, mewakili 56,5% dari target tahun ini (Rp1.198,8 triliun).

Penerimaan pajak dari sektor minyak dan gas turun 45,2% menjadi Rp21,6% dari Rp39,5%, mewakili 67,8% dari target tahun ini (Rp31,9 triliun). Dan penerimaan pajak dari sektor nonmigas turun 14,1% menjadi Rp655,3 triliun dari Rp763 triliun pada tahun sebelumnya, mewakili 56,2% dari target tahun ini (Rp1.167 triliun). Cukai dan bea cukai menyumbang pendapatan Rp121,2 triliun, mewakili 58,9% dari target tahun ini (Rp205,7 triliun). Itu tumbuh 1,8% tahun ke tahun (y / y). Penerimaan bukan pajak turun 13,5% menjadi Rp232,1 triliun per Agustus 2020, mewakili 78,9% dari target tahun ini (Rp294,1 triliun). Defisit anggaran mencapai Rp500,5 triliun atau 3,05% dari PDB per Agustus 2020.

Comment

News Feed