by

Masuk Katolik meski akan masuk neraka (kisah wartawan)

-Profil-139 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Teungku Muhammad, seorang juru kamera (wartawan foto) sebuah televisi swasta, menjadi sosok paling populer bagi publik Indonesia (pemirsa televisi) karena keberaniannya meliput pertempuran tentara Amerika dan milisi Iraq medio Maret-April 2003.

Teungku dan dua rekannya dari Indonesia, demikian ratusan wartawan perang mancanegara, berlomba menyuguhkan peristiwa perang di Iraq tersebut tanpa mempedulikan maut yang kerap mengintai. Perjuangan Teungku dan wartawan perang asal Asia tidaklah mudah, ketika ingin menembus kota Baghdad, melalui Amman, Yordania.

Teungku meski mengaku berani, tampak gugup dan cemas, terlihat saat melakukan laporan live untuk televisi tempatnya bekerja di Jakarta. Berkali-kali Teungku salah memberi reportase, karena sedang berada di tengah situasi yang mencekam.

Tapi setelah itu, Teungku mendapat momen paling hebat. Berkat keberaniannya, Teungku, tanpa mengenakan rompi anti peluru, tiba-tiba saja sudah berada di medan perang dan dengan mantab merekam adegan maut itu. Adegan ini kemudian menghebohkan pemirsa televisi di seluruh wilayah Indonesia.

Sayang, Teungku pun harus mengalami situasi paling berat dan hampir saja mengorbankan nyawanya, ketika di sebuah perjalanan, satu peluru milisi Iraq menghujam kepalanya. Teungku beruntung ditolong pastor dan rohaniwan di Iraq, dan diapun sembuh. Publik Indonesia tentu berduka dan turut mendoakan Teungku.

Teungku sontak menjadi sosok yang sangat dicintai publik Indonesia kala itu, namun apa lacur, istri dan anak-anaknya berikut keluarga besar, justru berbalik membenci dan menjauhinya. Teungku tanpa tendeng aling-aling memutuskan meninggalkan keyakinannya, lalu mengimani Tuhan Yesus (masuk Katolik). Teungku bersikukuh bahwa Yesus sendiri yang telah menyelamatkannya di Iraq (ada penampakan), lalu dia memutuskan mengikuti Yesus.

Mulai 2010, Teungku jatuh sakit dan kondisi kesehatan tidaklah stabil. Tinggal seorang diri di rumah, tapi tetap berjuang menyekolahkan satu putranya dan dua putrinya, Teungku memilih tetap kuat, teguh dan bersemangat berkarya, sambil terus mendekatkan diri pada Tuhan Yesus dengan aktif dalam kegiatan gereja, juga persekutuan doa.

Sesekali ingat anak-anaknya, Teungku menulis di laman facebook, dan putranya setia menyapa ayahnya. Teungku menulis medio Otkober 2012, jika dia terus membayangkan wajah anak-anaknya, tapi tidak mengeluh jika kenyataannya, justru waktu yang merampok semua itu, mencuri saat-saat anak-anaknya tumbuh.

“Ayah melihat kalian begitu cemas menghadapi masa depan kalian. Dan ayah merasa cemas juga, bukan karena kalian tidak akan sukses, tapi karena ayah harus melepaskan kalian kelak. Ayah harus merelakan kalian memilih jalan yang kalian pilih. Ketahuilah bahwa ayah di sini jika kalian membutuhkan nasehat ayah. Ayah harap kalian masih sudi untuk bertanya. Ketahuilah bahwa ayah menginginkan yang terbaik untuk kalian, tetapi bagaimanapun kalian harus memutuskan sendiri.

“Sejak kalian lahir, ayah telah dipenuhi oleh mimpi-mimpi akan tempat yang akan kalian kunjungi, dan orang-orang yang akan kalian temui. Menyadari bahwa suatu saat, kalian akan pergi mencari pengalaman kalian sendiri. Bawalah bersama kalian rasa cinta dan sayang ayah. Ketika membuat kalian nyaman, ketika kalian sedang resah. Bawalah harapan ayah bersama kalian.

“Semoga dapat menjadi keberanian di saat kalian menghadapi kekalahan. Bawalah segala cahaya yang ayah punya. Semoga dapat menjadi penerang jika kalian mengalami kegelapan. Ini adalah proses dari kehidupan dan tujuan hidup kita. Ayah diberkahi dalam segala hal, tapi kalian, anak-anak ayah, kalian telah menjadi berkah terbesar buat ayah. Ayah akan selalu di sini menyayangi kalian,” tulis Teungku.

Kemarin (24/9), Teungku, yang dikenal dengan nama baru Bernardus, tutup usia setelah lama menderita sakit komplikasi, termasuk kanker otak. Romo di parokinya pun datang dan memberi persembahan paling istimewa untuk Bernardus, yakni upacara Misa Requiem, setelah sebelumnya Romo memberi Sakramen Perminyakan.

Ibu Teungku hadir dan sempat menghardik Romo. “Anak saya sudah naik haji. Dalam Islam, dia masuk neraka,” celoteh ibu Teungku. Romo sambil tersenyum membujuk ibu untuk turut mendoakan anaknya (Bernardus) di kesempatan terakhir dan meminta ibu, anak-anak dan keluarga memaafkan segala dosa dan kesalahan Teungku alias Bernardus.

Ibu Teungku dan keluarganya memilih pergi, tidak mengikuti misa itu, tapi putranya (seorang doktor dari kampus di Jerman) mengikuti misa dan memanjaatkan doa-doa bagi ayahnya. Putranya itu setia menyapa ayahnya selama hidup sendiri (juga ucap selamat Paskah dan Natal), dan tak lupa menyapa tetangga ayah yang setia merawat sakit ayahnya hingga ajal tiba. Dia pun menangis terisak-isak di kuburan, tentu mengekspresikan seluruh hasrat dan cinta pada ayah, ayah yang hanya bisa menulis kata hati bagi anak-anak di laman facebook setelah berpisah sejak balik dari Iraq.

Selamat jalan om Bernardus! Mas Teungku, Innalillahi wa inna ilaihi roji’un! Mas udah tenang sekarang, semoga husnul khotimah & mendapatkan tempat yang terbaik disisi Allah SWT. REQUIESCAT IN PACE! (RIP). Yesus berkata kepadamu, “Sesungguhnya setiap orang yang karena Kerajaan Allah meninggalkan rumahnya, isterinya, atau saudaranya, orangtua atau anak-anaknya.” (Lukas 18:29).

Comment

News Feed