DEPOK (eNBe Indonesia) – Satuan Tugas Mitigasi COVID-19 Indonesia melaporkan 4.174 kasus baru pada 1 Oktober. Penambahan tersebut membuat jumlah kasus aktif menjadi 61.321. Kabar baiknya, setelah lebih dari sebulan uji klinis tahap ketiga, tim di Universitas Padjadjaran yang memimpin uji coba di Indonesia tidak melaporkan adanya efek samping yang signifikan. Dengan asumsi semua berjalan dengan baik, Indonesia dapat mulai meluncurkan vaksinasi darurat pada awal 2021.

COVID-19 terus menyebar dengan kecepatan yang mengkhawatirkan di Indonesia. Rata-rata jumlah kasus terkonfirmasi harian selama tujuh hari terakhir di 4.222. Persentase rata-rata tingkat kepositifan dalam seminggu terakhir adalah 15,88 persen. Pada 25 September, ada 112.082 kasus suspect, hingga 30 September jumlahnya meningkat menjadi 132.693.

Presiden Joko “Jokowi” Widodo baru-baru ini berupaya meredam situasi dengan membandingkan beban kasus Indonesia dengan Amerika Serikat (AS). Tapi itu perbandingan yang menyesatkan mengingat tingkat pengujian di Indonesia bahkan tidak mendekati AS. Indonesia melakukan 7,18 tes per 1.000 orang, sedangkan Amerika Serikat melakukan 338,24 tes per 1.000 orang. Mengingat jumlah rata-rata kasus positif per putaran pengujian di Indonesia, jika kita mencocokkan kapasitas pengujian AS, jumlah harian kita dari kasus yang dikonfirmasi bisa jadi sangat tinggi.

Namun demikian, tim uji klinis Universitas Padjadjaran (Unpad), mitra Indonesia yang bertanggung jawab atas uji klinis fase ketiga vaksin Sinovac, baru-baru ini melaporkan kabar baik tentang kemajuan. Uji klinis fase ketiga vaksin Sinovac di Indonesia dimulai pada 11 Agustus. Sejak itu, hingga 30 September 2020, tidak ditemukan efek samping yang signifikan. Bio Farma, yang bertanggung jawab memproduksi vaksin di Indonesia, akan memulai persiapan produksi sepanjang November dan Desember 2020. Produksi penuh, setelah otorisasi penggunaan darurat, akan dimulai pada Januari 2021.

Badan Pengawas Obat dan Makanan, BPOM, akan berangkat ke China, didampingi perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI), untuk memeriksa fasilitas produksi Sinovac. Kunjungan tersebut akan memastikan kesesuaian produksi Sinovac dan bahwa vaksin akan halal sesuai standar MUI. Mengingat Indonesia adalah negara mayoritas Muslim, label halal MUI akan membantu Pemerintah menyelesaikan masalah tersebut. (yosefardi.com)