DEPOK (eNBe Indonesia) – Umumnya calon petahana (incumbent) lebih dipercaya publik memimpin daerah, entah kabupaten, kota, atau propinsi, bahkan negri ini (presiden), kecuali jika petahana terbukti buruk kinerja atau tersandung masalah berat.

Hanya sedikit bukti, calon petahana keok di periode kedua. Kekalahan petahana juga hanya bisa terjadi jika muncul calon baru yang hebat, populer, berprestasi. Dalam kondisi pandemi covid-19 sekarang ini, petahana justru lebih diuntungkan, karena publik kurang antusias mencoblos, takut momok covid, selain calon bukan petahana kehilangan kesempatan memperkenalkan diri dan program akibat dibatasinya jumlah massa dalam masa kampanye.

Akhirnya, publik hanya punya banyak narasi dari petahana, dan mereka memilih tak banyak berspekulasi untuk memilih calon pemimpin baru yang kurang dikenal. Pilkada serentak secara nasional dijadwalkan pada 9 Desember 2020, pemilihan kepala daerah untuk periode 2021-2024.

Dalam konteks Pemilihan Bupati (Pilbup) Kabupaten Ngada, tak muncul pasangan calon bupati dan wakil bupati yang menonjol dalam debat terbuka tahap pertama pada Jumat pekan lalu (2/10). Semua calon hampir memberi pandangan yang standar, ketika menjawab pertanyaan moderator Brigita Manohara.

Petahana, Paulus Soliwoa-Gregorius Upi (PAS-GUD) tidak berlebihan memberi pandangan namun fokus program dan kebijakan selaras dengan kondisi pandemi, memastikan ketahanan pangan, kekuatan ekonomi rakyat. Masyarakat diusahakan cukup pangan, sandang, dan semua kebutuhan, karena 95% sumber pendapatan berasal dari pemerintah pusat, sementara pertumbuhan nasional sedang menurun, bahkan mengalami kontraksi (pertumbuhan negatif).

Untuk mencapai ketahanan lebih baik ke depan, paket PAS-GUD akan bangun sinergitas, integrasi, mencanangkan program plus anggaran. Paket ini juga memberdayakan aparatur untuk tingkatkan pelayanan bagi masyarakat, dengan memberi tunjangan kinerja, menggantikan program tamsil (tambahan penghasilan) yang sudah ada.

Paket PAS-GUD, diusung Partai Nasdem & Demokrat, juga akan membantu para petani memasarkan komoditi pada harga yang wajar. “Kita akan tempatkan satu unit di birokrasi untuk mencari tahu informasi harga di Surabaya misalnya, karena prinsipnya pengusaha untung, petani juga untung. Pilihan lain, pembeli (buyer) dan petani buat kesepakatan harga. Pemerintah sebagai regulator inginkan adanya keseimbangan,” jelas Paulus Soliwoa.

Paket FIRMAN (Wilfridus Muga & Herman Sai), jalur independen, akan fokus pada pemberdayaan masyarakat dan kewirausahaan, dan mendorong peran swasta untuk berinvestasi. “Pemerintah perlu kembangkan daerah untuk pusat pertumbuhan baru, seperti di Riung (kawasan industri), So’a, Aimere, Mataloko. Kebijakan untuk permudah investasi jadi prioritas, termasuk akses permodalan bagi kelompok wirausaha muda,” ujar Wilfridus.

Paket AP-RB (Andreas Paru & Raimundus Bena), diusung Golkar dan PKB, akan menggenjot produksi pertanian, peternakan, nelayan, pariwisata untuk mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi, bergantung pada karakteristik dan potensi masing-masing wilayah. Komoditi unggulan seperti kopi akan ditingkatkan nilai ekonomisnya, dan pemerintah turut intervensi di dalam mengendalikan komoditi dari luar.

Paket CREDO (Christoforus Loko & Emanuel Dopo), diusung Hanura dan PAN, juga akan fokus memberdayakan kewirausahaan, mengembangkan sektor UMKM dengan memberi modal usaha, mengembangkan komoditi dengan nilai tambah ekonomi (value-added), dan mendorong daya saing. “Kami juga akan dorong penguatan SDM menuju ketahanan ekonomi, mengatasi keterisolasian wilayah, terutama dorong pertumbuhan ekonomi, pembukaan jalan-jalan ke kantong-kantong produksi secara proporsional,” jelas Christoforus.

Sementara Paket HEBAT (Helmut Waso & Yohanes Tay), diusung Perindo dan PDIP, akan memprioritaskan anggaran bagi penguatan sektor-sektor produktif, menggerakkan UMKM dengan membantu akses pada perbankan dan hasil usaha terserap pasar. “Kita akan tingkatkan anggaran bagi pertanian hingga 3-6 kali lipat, dan Ngada akan dijadikan sentra usaha ekonomi Flores,” ujar Helmut.