by

Predator Pedofil: Gereja tidak bungkam (Kyrie Eleison)

-Opini-227 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – SPM, pelaku pencabulan dan kekerasan seksual (predator pedofil) terhadap 23 anak misdinar (putra altar) di Gereja St Herkulanus, Depok, Jawa Barat, dituntut kurungan penjara minimal 20 tahun, dengan pasal berlapis (UU Perlindungan Anak).

Uskup Bogor, Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM mengakui peristiwa ini sebagai sisi gelap gereja, tetapi proses di pengadilan bagi pelaku adalah upaya menemukan jalan terbaik, terutama menolong anak-anak yang menjadi korban (penintas) dan keluarganya.

“Kita berusaha membantu meringankan, meneguhkan anak-anak kita dan keluarga yang ada. Kita semua bergerak bersama, mulai dari keluarga, lingkungan, paroki, keuskupan agar belajar dari pengalaman ini untuk menemukan yang terbaik. Bagaimana bertindak, berlaku satu terhadap yang lain,” ujar Uskup Paskalis dalam sebuah interaksi secara daring dengan umat Paroki Herkulanus Depok belum lama ini.

RD. Yosep Natet, Pastor Paroki Herkulanus Depok, menegaskan pihaknya tidak ragu meminta pertanggungjawaban pribadi pelaku (SPM) sebagai warga negara dan warga gereja, pada hukum yang berlaku.

Didukung Komisi Keadilan dan Perdamaian (KKP) KWI (RP Aegidius Eko Aldilanto, O.Carm.), RD. Natet turut menggugat SPM ke jalur hukum, bukti tanggungjawab seorang imam atau pastor untuk menegakkan kebenaran, keadilan, dan keberpihakan pada korban.

“Gereja sangat bertanggung jawab dengan kasus ini. Saya bangga dan terharu karena umat dan orangtua korban turut hadir hari ini (sidang di pengadilan-red), tentu ini menunjukkan kepedulian mereka. Korban dan keluarga korban semoga lebih dikuatkan,” ujar RD. Natet kepada Redaksi eNBe Indonesia Senin (12/10).

RD. Natet menandaskan Gereja Katolik sama halnya Gereja Perdana, apa yang dialami satu anggota juga dirasakan anggota lainnya. Artinya penderitaan dan sakit hati juga dirasakan umat gereja umumnya. “Umat tetap punya semangat kekeluargaan, kesatuan, untuk saling melengkapi.”

RD. Natet telah memberi kesaksian di sidang ke-3 Pengadilan Negeri Kota Depok pada Senin (19/10), bersama tiga saksi lainnya (korban). Pada sidang ke-2 (12/10), 4 saksi telah diperiksa. sidang berikutnya (2/11) akan menghadirkan saksi pelaku.

“Saya kesulitan menjawab banyak pertanyaan kuasa hukum pelaku dan jaksa penuntut, karena ini hal baru bagi saya. Tapi saya mau hadir untuk cari keadilan berdasarkan hukum formal. Ini momen luar biasa, kita rugi kalau kita lewati. Banyak korban berjatuhan dan mereka adalah generasi penerus gereja,” ujar RD. Natet Senin (19/10).

Pastor atau Imam, sama halnya dengan dokter dan pengacara, dilindungi oleh hukum, karenanya tidak diperkenankan memberi kesaksian atau menjadi saksi kasus hukum. Tetapi Romo Natet berkilah dirinya juga adalah warga negara, dan kasus hukum SPM terjadi di dalam institusi yang dia pimpin.

DUKUNGAN

Berbagai pihak sangat mendukung RD. Natet juga upaya Gereja dan umat yang secara aktif terlibat dan mendukung proses hukum bagi SPM. Pendeta Martin Luther Batubara, M.Th, Ketua Umum FKKUKD (Forum Komunikasi dan Kerjasama Umat Kristiani Kota Depok), bersama Pdt. Lie Nie Kie dan Pendeta James Burnama turut hadir saat RD. Natet memberi kesaksian di pengadilan. Suster Yovita Triwiludjeng (Lulud), RSCJ, pendamping korban dari Biara Suster Hati Kudus Yesus (RSCJ), juga hadir.

“Kami dukung tindakan yang dilakukan Romo Natet bahwa Gereja sangat peduli dengan masa depan anak-anak. Kami percaya tidak ada Gereja yang menghendaki hal ini terjadi. Orangtua, umat tak perlu malu tapi mari kita proses dengan baik agar jadi pelajaran ke depan,” ujar Pendeta Martin seraya menekankan betapa pentingnya upaya-upaya pemulihan bagi anak-anak dan keluarga korban.

“Kita semua komitmen untuk menyelesaikan (kasus ini), karena ini bukan soal Gereja tapi soal kemanusiaan. Apapun itu, kita semua perlu mendukung. Saya berpikir mudah berbuat baik tapi tidak mudah berbuat kebaikan dengan benar. Dalam hal ini kita akan membuat kebaikan dengan cara yang benar,” ujar Suster Lulud, RSCJ yang mengenal pelaku SPM sejak masih kecil.

Suster Lulud berharap agar Gereja tetap konsisten melakukan pembaharuan-pembaharuan termasuk struktur pelayanan di Gereja, umat terus diedukasi untuk tidak memandang kasus SPM sebagai aib, dan kedepankan aspek kemanusiaan (hati nurani), bukan soal Gereja semata-mata.

Ary Nurcahyo, Koordinator Sie Kerawam Paroki Herkulanus, menandaskan selain konsep gereja ramah anak, gereja akan tetap memberi perhatian pada upaya-upaya pemulihan korban. “Secara gradual para korban akan ditangani, termasuk mencermati aspek psikis, mental, dan spiritual. Upaya ini adalah bentuk pertobatan, gereja dan umat akan memperbaharui diri, agar ke depan peristiwa ini tidak terulang lagi,” jelasnya.

Kerawam turut membantu proses hukum terutama support bagi keluarga korban dalam persidangan. “Tapi yang paling besar yang dibutuhkan untuk giat awam bagaimana kita punya concern pada penanganan korban. Berikan trauma healing, secara mental, psikis, dan rohani, pendampingan psikologis, dan ini butuh tim yang besar. juga pembiayaan yang juga besar. Butuh kerja sama semua pihak. Gereja, Kerawam diharapkan menginisiasi advokasi korban,” tambah Ari.

Koordinator Kerawam Dekenat Utara Kesukupan Bogor Rudijanto Effendy dan Ketua Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) Kota Depok Rini Tarigan yang juga advokat, turut memberi dukungan dan kekuatan bagi korban, orangtua korban, para saksi juga pastor paroki Santo Herkulanus Depok RD. Natet. “Saya mendukung proses penyelesaian case ini berdasarkan hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ujar Rini.

Seperti Paus Fransiskus, umat Paroki Herkulanus, Pastor Paroki, Komisi Keadilan dan Perdamaian (KKP) KWI, kuasa hukum, satu kata berucap Kyrie Eleison (Tuhan Kasihanilah), dan tak akan lelah menuntaskan peristiwa pahit ini.

Comment

News Feed