by

Covid-19: Pelaku perjalanan di Nagekeo tidak karantina mandiri

-Nasional-89 views

Laporan Rovina Aleksandry & Rofin Selawolo

KUPANG (eNBE Indonesia) – Upah minimum propinsi (UMP) dan upah minimum kabupaten/kota (UMK) dipastikan tidak mengalami kenaikan tahun 2021 berdasarkan pertimbangan kondisi ekonomi selama pandemi covid-19. Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat mengatakan pihaknya sepakat mengikuti keputusan menteri ketenagakerjaan (menaker).

Ketua Komisi IV DPRD TTS, Marthen Tualaka meminta pemerintah untuk mengkaji kembali kebijakan untuk tidak menaikkan UMP tahun 2021, karena tidak pro nasib kaum buruh juga akan menambah jumlah masyarakat miskin di Indonesia. Sementara DPD KSPSI NTT memahami dan menerima kebijakan dimaksud. UMP NTT tahun 2020 sebesar Rp1,95 juta.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea juga menolak keputusan pemerintah yang tidak menaikkan upah minimum tahun 2021. Tetapi Ketua DPD KSPSI NTT Stanis Tefa bagaimanapun mengingatkan bahwa UMP guru-guru kontrak dan honor di tingkat kabupaten/kota belum disesuaikan. Sementara di tingkat propinsi telah disesuikan UMP. Secara nasional, 18 propinsi telah mendukung UMP tak naik.

Untuk NTT, kasus positif covid tercatat 690 kasus, dimana 499 pasien telah sembuh dan 7 meninggal dunia. Secara nasional, per hari ini, kasus positif bertambah 2.618 (total 415.402), pasien sembuh bertambah 3.624 (total 345.566), dan 101 meninggal dunia (total 14.044).

Jumlah kasus corona di kabupaten Nagekeo hingga saat ini berjumlah 18 kasus, termasuk anak usia 3 tahun pelaku perjalanan dari Batam. Namun 13 orang sudah dinyatakan sembuh.

Juru bicara covid-19 Nagekeo, Silvester Teda Sada mengatakan pihaknya menemukan satu kasus baru, wanita usia lanjut (77 tahun), pelaku perjalanan dari Papua yang tidak menjalankan karantina mandiri.

Wanita usia lanjut ini mengalami sesak nafas dan sudah dirawat di RSUD Ende. “Ybs (yang bersangkutan) dari Papua, tiba di Mauponggo tanggal 15 Oktober, membawa serta rapid test dengan hasil Non Reaktif per 12 Oktober saat di Papua.

Tanggal 22 Oktober (10 hari) harusnya ybs rapid kedua. Namun, karena satu dan lain hal, ybs tidak datang rapid dan tim satgas kecamatan pun tidak sempat mengunjungi/menjemput ybs untuk Rapid Test kedua,” ujar Silvester.

Tanggal 29 Oktober 2020, lanjutnya, ybs mengalami gejala sesak nafas dan batuk pilek. Setelah dirujuk ke RSUD Ende, ybs dinyatakan terkonfirmasi positif covid-19. “Tantangan Satgas adalah melacak kontak erat sejak 15-29 Oktober 2020. Mengapa demikian? Ybs diinformasikan bahwa sempat ke pasar, dan juga melayat orang mati di Aewoe. Rantai riwayat kontak eratnya berpotensi menyebar sangat banyak.

Untuk itu, kami menginformasikan bahwa Tim Satgas Bidang Pencegahan sangat membutuhkan perhatian dan kerja sama tim semuanya terutama di tingkat kecamatan untuk segera melakukan penelusuran secara menyeluruh dan total, melibatkan pelbagai pihak,” jelas Silvester.

Camat Mauponggo Leo Loda sigap menerjunkan tim dan fasilitas mendata kontak erat wanita usia lanjut terkonfirmasi positif covid di wilayah desa Aewoe.

Comment

News Feed