by

Polling: Ganjar terpopuler, AHY terkecil

-Politik-85 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Polling atau jajak pendapat yang dilakukan Indonesia Political Opinion (IPO) menemukan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, yang juga seorang politikus dari partai berkuasa PDIP, memimpin jajak pendapat (polling) calon presiden 2024. Sebelumnya, jajak pendapat Indikator Politik Indonesia (IPI) juga menemukan Ganjar yang memimpin. Sebaliknya, elektabilitas Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), putra mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tetap kecil.

Direktur Eksekutif IPO, Dedi Kurnia Syah, mengatakan dalam konferensi pers virtual yang diadakan pada 28 Oktober bahwa survei dilakukan selama 12 Oktober dan 23 Oktober 2020. Dedi mengatakan bahwa 170 pemimpin dan 1.200 responden di seluruh negeri terlibat.

IPO menemukan 17,9% responden akan memilih Ganjar jika pemilihan presiden dilakukan hari ini. Menyusul di belakang Ganjar adalah Prabowo Subianto dan Anies Baswedan dengan perolehan suara masing-masing 16,4% dan 15,3%.

Kemudian Sandiaga Uno memperoleh 8,8% suara, Ridwan Kamil dengan 6%, Agus Harimurti Yudhoyono 5,7%, Tito Karnavian 4,2%, Airlangga Hartarto 2,9%, Puan Maharani 1,9%, dan Muhaimin Iskandar alias Cak Imin dengan 1 %.

Sebelumnya menurut polling Indikator, Ganjar Pranowo memimpin dengan elektabilitas 18,7%, sedangkan elektabilitas Prabowo dan Anies masing-masing 16,8% dan 14,4%. Indikator melakukan survei pada September 2020.

Polling IPO adalah kabar baik berikutnya bagi Ganjar. Namun Gubernur enggan berkomentar. Ganjar, seperti dikutip Okezone, baru-baru ini mengaku sibuk menangani libur panjang akhir pekan.

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan, PDIP belum memikirkan pemilihan presiden 2024. Hasto juga mengatakan, keputusan siapa yang akan dicalonkan PDIP ada di tangan ketuanya Megawati Soekarnoputri. Pernyataan Hasto masuk akal. Empat tahun adalah waktu yang banyak dan banyak hal akan terjadi. Kalaupun PDIP serius mempertimbangkan Ganjar, Partai tidak akan memberi sinyal apapun guna melindungi Gubernur dari pembunuhan karakter.

Sedangkan elektabilitas AHY masih kecil. IPO menemukan elektabilitas AHY 5,7%, sedangkan Indikator menemukan elektabilitas AHY 4,2%. Pada Juli 2020, elektabilitas AHY sebesar 6,8% menurut Indikator dan 4% berdasarkan polling Charta Politika. Penunjukan AHY sebagai ketua baru Partai Demokrat masih belum bisa membantunya meningkatkan elektabilitasnya. Dengan masalah elektoral ini, ada keraguan bahwa AHY bisa menarik parpol lain untuk mendukungnya pada 2024. Partai Demokrat, seperti kita ketahui, hanya menguasai 54 dari 575 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) atau sekitar 9,4%. Oleh karena itu, Partai tidak dapat mendukung AHY tanpa berkoalisi dengan partai lain.

Kami tidak heran dengan masalah elektoral AHY. Pada Pilgub DKI Jakarta 2017, AHY bahkan tak mampu lolos ke putaran kedua setelah hanya mengumpulkan 937.955 suara (17,06%). Ia menempati urutan ketiga di belakang Anies Baswedan dan Basuki Tjahaja Purnama a.k.a Ahok. Menarik untuk melihat apa yang akan dilakukan AHY — dan ayahnya — untuk mencoba meningkatkan profilnya. Beberapa percaya bahwa dia mungkin mencari posisi menteri di kabinet Presiden Joko “Jokowi” Widodo, jika ada kesempatan. AHY membutuhkan lebih banyak perhatian publik dan akses ke pemodal untuk membuatnya relevan menjelang tahun 2024. Sebuah posisi menteri dapat memenuhi tujuan tersebut. Sementara yang lain bertanya-tanya apakah AHY akan mencoba peruntungan dan memperebutkan posisi gubernur Jakarta pada Pilkada Jakarta 2022. (yosefardi.com)

Comment

News Feed