DEPOK (eNBe Indonesia) – Pemilihan Presiden Amerika Serikat memasuki babak akhir. Jelang penghitungan suara, dua calon Presiden masih memanfaatkan hari terakhir untuk berkampanye. Suasana jelang penghitungan akhir suara dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat semakin memanas.

Pilpres AS kali ini tercatat dalam sejarah modern sebagai pilpres tersengit dan turut menciptakan polarisasi kuat di masyarakat Amerika sendiri. Partisipasi pemilih pun meningkat dan sudah tercatat menembus angka 97 juta pemilih di tahapan early voting atau pemungutan suara dini via pos. Dari hasil survei posisi Joe Biden diprediksi unggul dari petahana Donald Trump.

Joe Biden (77 tahun) adalah mantan wakil presiden AS bersama Obama. Dia mengatakan dapat membangun warisan Obama dan mempersatukan negara dalam situasi yang menantang ini. “Jika kita memberi Donald Trump delapan tahun di Gedung Putih, dia akan selamanya dan secara fundamental mengubah karakter bangsa ini, siapa kita, dan saya tidak bisa berdiri dan melihat itu terjadi,” tegas Joe Biden.

Joe Biden sangat kritis terhadap tanggapan Presiden Trump terhadap virus, menuduhnya bereaksi terlalu lambat. Terkait virus, Joe Biden telah mencari cara, merumuskan rekomendasi yang berakar pada saran dari para ahli kesehatan dan ekonomi. Saran tersebut termasuk membuat tes virus corona dapat diakses secara luas, dan gratis. Dia mengatakan seharusnya tidak ada biaya yang dikeluarkan sendiri bagi pasien untuk menerima vaksin pada akhirnya.

Makarim Wibisono

Dinna Prapto Raharja

Biden, yang bertugas selama beberapa dekade di Senat, sangat percaya pada nilai bipartisan dan bersikeras memperluas tawaran kepada Partai Republik. Sebagai mantan ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat, dia juga berbicara dengan penuh semangat, menegaskan dan mempertahankan peran Amerika sebagai pemimpin di panggung global.

Lalu apa pengaruhnya kepemimpinan Amerika Serikat bagi dunia maupun Indonesia? Apa dampaknya bila Trump kembali berkuasa dan juga sebaliknya bila Joe Biden sebagai nahkoda negeri paman sam? Dalam wawancara dengan KompasTV pada Selasa (3/11), Makarim Wibisono, Pengamat Politik Luar Negeri yang juga mantan Duta Besar RI untuk PBB, mengatakan setiap pemimpin AS bisa berkerja sama dengan Indonesia, tapi kali ini Joe Biden lebih bagus.

Dinna Prapto Raharja, pengamat Hubungan Internasional Universitas Bina Nusantara, lebih ingingkan Joe Biden karena lebih menghargai komunikasi, mekanisme kerjasama dengan sekutu-sekutu (multilateral), sementara Trump lebih tekankan pendekatan bilateral.