by

Jokowi mengejutkan Gatot Nurmantyo

-Nasional-108 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Presiden Joko “Jokowi” Widodo rencananya akan memberikan penghargaan kehormatan kepada para tokoh sejarah dan sejumlah tokoh sebagai bagian dari peringatan Hari Pahlawan Nasional pekan depan. Di antara tokoh yang akan dianugerahi adalah mantan Panglima TNI (Purn.) Gatot Nurmantyo, yang kini menjadi ketua presidium kelompok oposisi baru yang disebut Koalisi Penyelamatan Indonesia (KAMI).

Terkait penghargaan kehormatan tersebut, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Mohammad Mahfud MD menyampaikan kabar tersebut. Mahfud dalam akun Twitter pribadinya mengungkapkan bahwa Presiden Jokowi akan membagikan gelar Pahlawan Nasional kepada Sutan Mohammad Amin Nasution, tokoh sejarah dalam acara Sumpah Pemuda tahun 1928, dan Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo, ketua pertama Kepolisian Negara (POLRI). Mahfud juga mengatakan, Presiden akan memberikan medali Bintang Mahaputera kepada mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Arief Hidayat. Menurut Mahfud, upacara akan digelar pada 10 November dan 11 November.

Gatot Nurmantyo menjabat sebagai Panglima TNI dari 8 Juli 2015 hingga 8 Desember 2017. Ia digantikan oleh Marsekal Hadi Tjahjanto. Sejak saat itu, Gatot menjadi salah satu pengkritik Jokowi. Di Pilpres 2019, misalnya, dia mendukung Prabowo Subianto menantang Jokowi. Baru-baru ini Gatot mendirikan KAMI bersama-sama dengan sejumlah tokoh terkenal yang juga dikenal sebagai pengkritik Jokowi. Dia adalah ketua presidium KAMI bersama mantan Ketua Muhammadiyah Din Syamsuddin dan Ketua Nahdlatul Ulama (NU) 1926 Rochmad Wahab.

Gatot dan KAMI telah mengangkat isu anti komunis. Gatot belum lama ini mengaku dicopot dari jabatannya sebagai Panglima TNI karena memerintahkan pemutaran film G30S/PKI. KAMI mengkritisi pemerintahan Jokowi terkait penanganan pandemi COVID-19 dan pembahasan Omnibus Law Cipta Kerja. Belakangan ini, Bareskrim Polri menetapkan sembilan anggota KAMI sebagai tersangka terkait kerusuhan yang terjadi belakangan ini dalam aksi unjuk rasa memprotes Omnibus Law. Sembilan anggota KAMI tersebut, termasuk tiga pemimpinnya, dituduh menyebarkan hoax, ujaran kebencian, dan menghasut kerusuhan. Bareskrim mengungkap sebagian percakapan di grup WhatsApp (WA) KAMI Medan, di mana salah satu tersangka menulis tentang skenario untuk membuat unjuk rasa Anti Omnibus Law menjadi aksi unjuk rasa seperti tahun 1998, dengan penjarahan toko dan tempat tinggal Tionghoa. Tersangka tersebut juga menulis tentang keterlibatan preman dalam penjarahan. Selain sembilan tersangka tersebut, Bareskrim juga memanggil dua pimpinan KAMI lainnya untuk dimintai keterangan.

Selain itu, Polisi sangat ketat terhadap KAMI. Misalnya, pada 29 September lalu, Polisi membubarkan acara KAMI di Surabaya, Jawa Timur karena KAMI tidak mendapat izin dari Satgas Penanggulangan COVID-19 setempat sebelum menggelar acara tersebut. Polisi juga membubarkan acara KAMI di Jambi yang dihadiri Gatot dan Din.

Melihat latar belakang di atas dan reputasi Gatot sebagai pengkritik Jokowi, keputusan Jokowi untuk menyerahkan medali Bintang Mahaputera kepada purnawirawan jenderal Angkatan Darat cukup mengejutkan. Mayjen (Purn.) TB Hasanuddin, anggota parlemen PDIP di Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat, mengatakan keputusan itu tidak biasa. Dia mengatakan bahwa medali kehormatan biasanya akan diberikan sebagai bagian dari peringatan Hari Kemerdekaan Negara pada 17 Agustus dan itu tidak pernah diberikan pada November. Namun Hasanuddin mengatakan bahwa adalah hak prerogatif Presiden untuk memberikan medali kehormatan dan itu adalah wajar bagi Gatot untuk menerima medali kehormatan tersebut mengingat pengabdiannya sebagai Panglima TNI.

Pengamat politik Universitas Islam (UIN) Syarief Hidayatullah Jakarta Adi Prayitno, sementara itu, berspekulasi bahwa medali kehormatan kepada Gatot merupakan cara Jokowi untuk menunjukkan kepada publik bahwa Presiden tidak mempermasalahkan pihak yang mengkritiknya. Adi yang juga Direktur Eksekutif Paramater Politik mengatakan, medali kehormatan kepada Gatot bisa menjadi upaya Pemerintah untuk berdamai dengan kelompok oposisi.

Mungkin, Gatot sendiri kaget dengan langkah Jokowi, tapi Jokowi sudah pernah mengejutkan Gatot sebelumnya. Pada 2017, Gatot menginstruksikan jajaran militer di seluruh negeri untuk secara bersamaan menggelar pemutaran film G30S/PKI. Saat itu, ia membuka acara seni budaya wayang show di Museum Fatahillah, Jakarta. Secara mengejutkan Jokowi hadir di Markas Besar (Mabes) Bogor untuk bergabung dengan kerumunan dalam pemutaran film G30S/PKI. Sebagian besar menilai Gatot tidak mengantisipasi langkah Jokowi ke pemutaran film tersebut. Kaget, Gatot buru-buru meninggalkan pertunjukan Wayang di Museum Fatahillah untuk ikut bersama Presiden menyaksikan aksi G30S/PKI di Bogor. Hari ini, Jokowi kembali mengejutkan Gatot. (yosefardi.com)

Comment

News Feed