DEPOK (eNBe Indonesia) – Populi Center merilis hasil survei elektabilitasnya atas calon potensial pada pemilihan presiden (Pilres) 2024. Populi menemukan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, yang sekarang menjadi Menteri Pertahanan, memimpin jajak pendapat (polling suara). Sepertinya perang polling suara terlalu dini.

Populi Center, dalam keterangan tertulisnya, Senin (9/11), mencatat bahwa responden paling banyak memperkirakan Prabowo akan mencalonkan diri sebagai calon presiden (capres) pada 2024. Nurul Fatin, Peneliti Populi Center, mengatakan Prabowo memimpin dengan elektabilitas 18,3%. Di belakangnya ada Ganjar Pranowo dengan elektabilitas 9,9% dan Anies Baswedan dengan elektabilitas 9,5%. Pemungutan suara (polling) dilakukan dari 21 Oktober hingga 30 Oktober 2020 di 100 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Selain tiga besar tersebut, Populi juga menemukan ustadz Abdul Somad dengan elektabilitas 6,2%, disusul Ridwan Kamil (5,8%), Sandiaga Salahuddin Uno (4,8%), Tri Rismaharini (4,2%), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dengan elektabilitas 3,8%, Gatot Nurmantyo (2,4%), dan Khofifah Indar Parawansa dengan elektabilitas 2,2%.

Populi adalah satu-satunya lembaga survei yang menempatkan Prabowo di posisi teratas. Kesenjangan Prabowo dari Ganjar dan Anies, menurut Populi, sangat besar. Temuannya bertentangan dengan temuan Indikator Politik Indonesia (IPI) dan Indonesia Political Opinion (IPO). IPI dan IPO menemukan Ganjar memimpin pemungutan suara, dengan celah sempit yang memisahkannya dari Prabowo.

Menurut Indikator, Ganjar Pranowo memimpin pemungutan suara dengan elektabilitas 18,7%, sedangkan elektabilitas Prabowo dan Anies masing-masing 16,8% dan 14,4%. IPO pun menemukan temuan serupa. Ganjar memimpin dengan elektabilitas 17,9%, sedangkan elektabilitas Prabowo dan Anies masing-masing 16,4% dan 15,3%. Perlu dicatat bahwa Indikator melakukan pemungutan suara pada September 2020, sementara IPO melakukan pemungutan suara pada Oktober 2020.

Mengapa kami melihat hasil polling yang berbeda? Lembaga survei mana yang lebih dapat diandalkan? Waktu akan berbicara. Populi dan Indikator termasuk di antara lembaga survei yang memprediksi kemenangan Presiden Joko “Jokowi” Widodo atas Prabowo pada pemilihan presiden 2014 dan 2019. Populi dipimpin oleh orang-orang yang dikenal dekat dengan Jokowi, seperti Prasetyantoko yang tercatat sebagai ketua dewan penasihat Yayasan Populi Indonesia (Yayasan Populi Indonesia), dan Nico Harjanto yang tercatat sebagai ketua yayasan.

Yayasan Populi Indonesia adalah yayasan yang memiliki Populi Center. Prasetyantoko juga dikenal sebagai ekonom dan rektor Universitas Katolik Atma Jaya. Pada Juni 2015, Prasetyantoko menjadi salah satu ekonom yang diundang ke Istana Negara Jakarta untuk bertemu dengan Presiden Jokowi di tengah rumor perombakan kabinet. Presiden dilaporkan menyatakan kekecewaannya atas kinerja beberapa menteri ekonominya dalam pertemuan tersebut. Dua bulan setelah pertemuan tersebut, Jokowi memang melakukan beberapa perubahan pada kabinetnya. Sedangkan Nico Harjanto adalah mantan staf khusus Presiden Jokowi. Nama Nico sempat disebut-sebut sebagai calon menteri yang potensial ketika Jokowi memenangkan pilpres tahun 2019. Jadi, orang mungkin bertanya-tanya mengapa saat ini Populi tampak berpihak pada Prabowo. (yosefardi.com)