DEPOK (eNBe Indonesia) – Benar-benar cinta (benci) sangat tepat menggambarkan hubungan paling istimewa antara Pater Yosef Wiese, SVD dan umat di Paroki Boanio, Nagekeo, Keuskupan Agung Ende, Flores, NTT. Pimpinan tinggi SVD dan Vikjen Keuskupan Agung Ende pun tak bergeming, karena Pater kelahiran Jerman ini bersikukuh tetap tinggal dan berkarya di Paroki Boanio hingga ajal menjemputnya kemarin (14/11).

Pater Yosef Wiese SVD mulai berkarya di Flores di usia 30 tahun, 17 tahun berkarya di Paroki Ndora, Nagekeo dan sekitar 39 tahun berkarya di Paroki Boanio (mulai 1981). Setelah pensiun tahun 1998 pun, Pater Yosef Wiese SVD memilih tetap tinggal di Boanio, bahkan telah memilih sendiri tempat untuk liang kuburnya jika menemui ajal.

Sebelumnya, Pater Hans Rungkel SVD (pastor barat) juga sangat mencintai Paroki Boanio dan umatnya, dan enggan pindah ke paroki yang lain. Pater Yosef Wiese SVD lebih beruntung karena hanya bergeser dari Paroki Ndora (paroki induk) menuju Paroki Boanio.

Komunitas gereja dan umat Katolik di Flores mungkin bertanya-tanya apa gerangan hingga Pater Yosef Wiese SVD begitu jatuh cinta dengan Paroki Boanio, juga Pater Hans Rungkel SVD. Bisa jadi karena kontur wilayah yang indah, subur, juga keterbukaan umat di wilayah Paroki Boanio. Alasan sesungguhnya tentu hanya Pater Yosef Wiese SVD dan Pater Hans Rungkel SVD yang tahu. Umat Paroki Boanio bisa saja ikut penasaran dan masih bertanya-tanya.

Romanus Muda Kota, salah satu putra Boanio yang sangat dekat dengan Pater Yosef Wiese SVD mengakui sangat kehilangan sosok pastor yang sangat mencintai umat Boanio. “Pater Yosef Wiese mengabdi sangat total dan hanya memberi untuk umat, membangun komunikasi sangat baik dengan umat, bisa saling memahami, interaksi sosial religius begitu hebat,” ujarnya kepada Redaksi eNBe Indonesia hari ini.

Jasa besar Pater Yosef Wiese SVD, menurut Romanus, adalah pembangunan fisik gedung gereja, sekolah, balai pertemuan di Paroki Ndora dan Paroki Boanio. Mimpi Pater Yosef Wiese yang belum tercapai, lanjut Romanus, mungkin gereja yang layak dibangun di setiap stasi di Paroki Boanio. “Impiannya adalah terjadi distribusi pembangunan hingga ke stasi-stasi.”

Sosok Pater Yosef Wiese SVD tentu jadi barometer bagi sosok pastor yang lain saat berkarya di Paroki Boanio. Maka ketiadaan Pater yang sangat dicintai ini bisa saja menciptakan situasi gonjang-ganjing, tidak stabil, di kalangan umat, terutama terkait hubungan dengan setiap pastor yang bertugas di paroki ini.

Pendekatan kategorial yang diutamakan Pater Yosef Wiese SVD selama bertahun-tahun membuatnya mudah beradaptasi dan memenuhi kebutuhan umat (rohani spiritual), yang kemudian menciptakan banyak generasi cerdas dan kritis di wilayah paroki Boanio. Pater Yosef Wiese SVD fasih berbahasa daerah, fasih bertutur ala anak-anak, remaja, juga umat dewasa, membuatnya begitu dikenal dan dicintai.

Jelang hari-hari terakhirnya, Pater Yosef Wiese SVD terkagum-kagum pada perjuangan dan pengorbanan umat Paroki Boanio, yang bersatu padu membangun gereja megah, semegah kekuatan iman dan cinta pada Tuhan, Sang Pemberi Kehidupan. Dengan gereja megah, umat Paroki Boanio diharapkan terus membangun peradaban gereja yang lebih baik lagi, dan Pater Yosef Wiese SVD menjadi tonggaknya. Pastor Paroki Boanio saat ini (Pater Kalis Lega SVD) tentu menjadi anak emas Pater Yosef Wiese SVD karena sukses membuat seluruh komunitas gereja dan umat tersenyum bangga oleh hadirnya gereja megah itu.

SELAMAT JALAN PATER YOSEF WIESE SVD, KAMI TETAP MENGENANGMU DALAM DOA-DOA KAMI…RIP !!