by

Covid-19: NTT 910 kasus, 17 meninggal

-Nasional-74 views

Laporan Rovina Aleksandry (0852-3868-6980)

KUPANG (eNBe Indonesia) – Pemerintahan Kota Kupang akan memberi sanksi kepada pelanggar protokol kesehatan. Upaya ini dilakukan untuk mencegah penyebaran virus corona (covid-19). Walikota Kupang Jefri Riwu Kore mengatakan pihaknya sementara mengkaji untuk menerapkan pinalti kepada masyarakat yang tidak memakai masker, perkumpulan, dan resto atau hotel yang tidak menyiapkan tempat cuci tangan secara lengkap.

Hingga hari ini, Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 NTT melaporkan jumlah kasus terkonfimasi positif mencapai 910 kasus, sembuh 626, dan meninggal 17. Jumlah kasus terbanyak di Kota Kupang (316 kasus), disusul disusul Ende 111, Manggarai Barat 72, Manggarai 69, Sikka 55, Ngada 52, Sumba Barat 44, Flores Timur 31, dan Nagekeo 25. Hanya Sabu Raijua tanpa kasus (zona hijau) dan Manggarai Timur 1 kasus.

Secara nasional, Satgas Mitigasi COVID-19 Indonesia (Satgas Covid) melaporkan 4.265 kasus baru pada 18 November. Jumlah kasus baru Indonesia dalam sehari tercatat 5.444 dilaporkan pada 13 November. Sejak itu, jumlah kasus baru yang dilaporkan dalam sehari telah turun, kecuali kenaikan hari ini. Menariknya, jumlah kasus baru lebih rendah sesuai dengan jumlah tes harian yang lebih sedikit.

Dengan 3.711 dilaporkan sembuh dan 110 meninggal, jumlah kasus aktif sekarang menjadi 60.870. Jumlah kasus suspect secara nasional saat ini 64.430 kasus. Pada catatan itu, kami perlu menekankan bahwa dibutuhkan sekitar satu minggu bagi laboratorium untuk melaporkan kasus yang dikonfirmasi dari hari pengambilan sampel. Jadi jumlah kasus baru harian yang dilaporkan tidak mencerminkan kondisi saat ini. Waktu pemrosesan yang lambat dan kemungkinan penundaan pelaporan karena backlog semakin membuat data Indonesia tidak dapat diandalkan untuk tujuan analitis.

Pemerintah Indonesia tampaknya tidak tertarik untuk meningkatkan kualitas pengumpulan data epidemiologisnya. Sebaliknya, pemerintah mendukung memproyeksikan pesan yang dapat menumbuhkan optimisme, seperti menyoroti jumlah orang yang disembuhkan dan melaporkan jadwal vaksinasi yang terlalu ambisius. Presiden Joko “Jokowi” Widodo sangat menyukai yang terakhir.

Jokowi mengatakan kepada pers hari ini bahwa vaksin bisa tiba di Indonesia pada akhir November atau Desember. Tetapi kemudian dia mengatakan bahwa peluncuran program imunisasi tidak akan otomatis mengikuti. Masih ada tahapan yang harus dilakukan BPOM. Tentu, Presiden ingin membangun optimisme, tetapi kemudian dia menampar semua orang dengan kenyataan: distribusi produk medis yang kompleks. Akan lebih baik jika Jokowi tidak membuat perkiraan. Ini mirip dengan memberikan harapan palsu. Harapan palsu bukanlah harapan. Itu hanya akan merusak citranya dalam jangka panjang.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito memiliki tanggapan yang lebih profesional terhadap pertanyaan pengiriman vaksin. Penny mengatakan kepada Komisi IX Parlemen Indonesia pada Selasa (17 November) bahwa Emergency Use Authorization (EUA) vaksin Sinovac tidak dapat diberikan pada Desember karena kurangnya data. EUA dapat dikeluarkan pada minggu ketiga Januari 2021, dengan syarat semua data yang diperlukan untuk evaluasi dapat dikirim ke BPOM tepat waktu. Kabar baiknya adalah makalah yang ditinjau oleh rekan sejawat tentang hasil uji coba pertama dan kedua vaksin CoronaVac Sinovac baru saja diterbitkan di jurnal The Lancet.

Reuters melaporkan bahwa Coronavac dapat disimpan pada suhu pendingin 2 hingga 8 derajat Celcius (36 ° -46 ° F) dan dapat tetap stabil hingga tiga tahun, sedangkan “Vaksin Pfizer harus disimpan dan diangkut pada suhu -70C meskipun dapat disimpan. disimpan di lemari es biasa hingga lima hari, atau hingga 15 hari dalam kotak pengiriman termal. Calon Moderna diharapkan stabil pada suhu lemari es normal selama 30 hari, tetapi untuk penyimpanan hingga enam bulan perlu disimpan pada suhu -20C.”

Comment

News Feed