DEPOK (eNBe Indonesia) – Mikhael Meko termasuk salah satu sosok penting di dunia pendidikan kabupaten Ngada medio 1980-an. Ketika menjabat kepala sekolah SMA Malesama Wolosambi, Mikhael Meko, alumnus IKIP Negeri Karangmalang Yogyakarta, sukses membuat prestasi dan citra SMA Malesama dikagumi, setidaknya oleh masyarakat Maukeli, Lejo, Sawu, Maunori kala itu.

SMA Malesama dengan sekitar 500 siswa sungguh-sungguh menghadirkan kesan, Wolosambi itu kota pelajar dan pusat pendidikan, beriringan dengan SMPK Batarende, SD, TK, asrama putri dan asrama putra. Biara suster CIJ pun memberi warna pusat rohani di Wolosambi berikut megahnya gereja di bukit.

Alumni SMA Malesama tentu lebih paham dan menuai banyak pengetahuan, berikut kualitas guru-guru yang mumpuni. Faktanya, banyak alumni SMA Malesama sukses dan menjadi orang penting, entah di pemerintahan, di dunia pendidikan, keagamaan, sosial kemasyarakatan, mungkin juga politik.

Benar hari ini, SMA Malesama telah tiada, ditutup tahun 1993, setelah 12 tahun beroperasi. Tapi kehadiran SMAK Johanes Baptista di bekas lokasi SMA Malesama memberi harapan baru, Wolosambi akan meraih kembali masa kejayaannnya seperti era 80-90 itu.

SMA Malesama didirikan tahun 1981 di era Pater Anton Gantaler, SVD, pastor paroki. Lokasi SMA Malesama itu milik paroki (gereja), dibeli masa Pater Viktor Bunaning, SVD, bersamaan dengan Susteran, asrama Putri, TKK, Gedung Pertemuan, SMPK, Rumah Guru-guru SMPK dan SDK Sawu, Kompleks Gereja, Pastoran, Gua Maria dan Tanah sebelah Timur jalan raya.

Mengapa Mikhael Meko dipercaya memimpin SMA Malesama? Pertama tentu karena kapasitas diri, apalagi tidak banyak guru dengan titel dokterandus (Drs) di Ngada kala itu. Lulusan IKIP Negeri Karangmalang Yogyakarta dinilai paling prospektif dalam mengelola lembaga pendidikan di Ngada ketika itu.

Sementara pertimbangan sosial, Mikhael Meko adalah generasi penerus ayahnya Rofinus Raga, tokoh masyarakat, tokoh pendidikan, juga politisi Flores yang sering mengikuti sidang kenegaraan di Jakarta. Rofinus Raga, saat menjabat Kepala SDK Sawu, bersama Kepala Mere Phelipus Meo Gego, bekerjasama dengan pastor paroki, mendirikan Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) di Wolosambi. SMEP Batarende ini diberi nama oleh Pater Boots. Batarende artinya Pintu Gerbang pengetahuan.

Pasca kepindahan Mikhael Meko, SMA Malesama dipimpin oleh Bernabas Kaka, tokoh penting di Wolosambi. Mikhael Meko pindah ke SMAK Regina Pacis Bajawa, lalu ke kantor Depdikbud Ngada, mengajar di SMP Negeri 2 Bajawa, kembali lagi ke Depdikbud, dan pada 2001 pindah ke SMA Negeri 1 Mauponggo hingga pensiun 1 Oktober 2014.

Mikhael Meko sempat mendirikan sekolah menengah pekerjaan sosial (SMPS) di Batawa, Maukeli, namun terhenti karena gagal memperoleh ijin operasi.

Mikhael Meko, lahir di Wolosambi pada 17 Oktober 1954. Ibunda bernama Martina Anggo dan Ayahanda Rofinus Raga. Mikhael Meko tamat SR Katolik Wolokoli tahun 1967, tamat SMP Mauponggo tahun 1970, tamat SPG Boawae tahun 1973, selesai kuliah di fakultas keguruan Undana Kupang cabang Ende tahun 1977, dan menyelesaikan kuliah di IKIP Negeri Karangmalang Yogyakarta tahun 1983 jurusan BP. Saat kuliah di Ende, Mikhael Meko mengajar sebagai guru honor di SMA Muhamadya Ende (1976-1977), lalu mengajar diSMP Berdikari Nangaroro tahun 1978-1979, kemudian pindah ke Yasukda Ngada tahun 1983, lalu diangkat menjadi kepala sekolah SMA Malesama hingga 1987.

Mikael Meko telah mengakhiri pengabdiannya di dunia ini (paripurna) karena Sang Khalik memanggilnya pulang pada Selasa (17/11) lalu, meninggalkan istri tercinta Veronika Siti Saleh (kelahiran Ende) dan lima putra; Yohanes Berkhmans Gogo (almarhum), Konstantinus Jonathan Raga (Sarjana S1 dan politisi Gerindra Nagekeo), Kristianus Adinata Raga (Sarjana S1), Andiyanto Galus Jago (Sarjana S2) dan Aprilianus Meko.