by

Rizieq Shihab: Yang membela dan yang menentang (seri 1)

-Nasional-143 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Acara belum lama ini yang diselenggarakan oleh FPI Rizieq Shihab dan upacara pernikahan putri Rizieq di Petamburan, Jakarta Pusat mendapat kecaman karena acara tersebut mengundang banyak orang dan melanggar protokol kesehatan. Namun anehnya, Satgas Mitigasi COVID-19 tampaknya memfasilitasi upacara pernikahan putri Rizieq dengan mengirimkan sekitar 20.000 masker dan hand sanitizer.

Rizieq, seperti diberitakan secara luas, menggelar acara Maulid Nabi Muhammad (Maulid Nabi Muhammad) di markas FPI pada 14 November. Ia juga menggelar akad nikah putrinya. Kedua acara tersebut mengundang banyak orang. Sebelumnya, kedatangan Rizieq di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta pada 10 November lalu juga menyedot ribuan pendukungnya yang banyak di antaranya mengabaikan protokol kesehatan.

Gugus Tugas Mitigasi COVID-19, yang seharusnya membantu mencegah penyebaran virus, secara mengejutkan mengirimkan sekitar 20.000 masker dan pembersih tangan untuk upacara pernikahan putri Rizieq. Banyak yang mengkritik Satgas karena mereka seharusnya memastikan bahwa acara yang menarik orang banyak tidak digelar. Banyak juga yang mengkritik Pemprov DKI Jakarta di bawah Gubernur Anies Baswedan karena membiarkan massa berkerumun pada acara Rizieq.

Hubungan Anies sangat erat dengan Rizieq. Ia adalah sosok pertama yang mengunjungi kediaman Rizieq pada malam kepulangan Rizieq ke Indonesia pada 10 November. Rizieq adalah pendukung utama Anies. Rizieq, seperti kita ketahui, berkontribusi pada kebangkitan kelompok Muslim garis keras selama Pilgub Jakarta 2017 dengan mengadakan demonstrasi anti-Ahok. Demonstrasi anti-Ahok tersebut berpusat di sekitar kasus penistaan ‚Äč‚Äčagama yang melibatkan Gubernur Jakarta saat itu Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Ini membantu Anies memenangkan pemilihan gubernur Jakarta 2017.

Menanggapi kritikan tersebut, Ketua Satgas Penanggulangan COVID-19 Letjen Doni Monardo membela Pemprov DKI. Doni yang juga Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) itu menjelaskan, Pemprov DKI Jakarta tidak pernah memberikan izin kepada Rizieq dan FPI-nya atas kegiatan tersebut. Padahal, menurut Doni, Wali Kota Jakarta Pusat Bayu Meganthara justru mengirimkan surat kepada Rizieq dan FPI-nya agar mengikuti protokol kesehatan. Pernyataan itu disampaikan Doni dalam konferensi pers yang digelar Minggu (15/11). Ada yang bertanya-tanya mengapa Doni membela pemerintahan Jakarta. Apakah dia sudah menjadi juru bicara Jakarta, beberapa orang bertanya.

Juru Bicara Satgas Mitigasi COVID-19 Wiku Adisasmito menjelaskan, Satgas telah mengirimkan 20.000 masker dan hand sanitizer untuk memastikan akad nikah putri Rizieq mengikuti protokol kesehatan sehingga terhindar dari penyebaran COVID-19. Tapi tetap saja, yang lain melihatnya sebagai Satgas yang memfasilitasi acara tersebut. Satgas selalu merekomendasikan pembubaran kerumunan kepada aparat keamanan. Lantas kenapa mereka tidak menindak tegas Rizieq?

Kapolri Jenderal Idham Azis sebelumnya mengingatkan semua pihak untuk mengikuti aturan kesehatan dan tidak membuat keramaian. Namun PP Muhammadiyah, organisasi Islam terbesar di Tanah Air, menilai pernyataan Kapolri saja belum cukup. PP Muhammadiyah mendesak agar POLRI mengambil tindakan lebih tegas. Kritik terhadap Muhammadiyah disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Abdul Mu’ti. Ia mendesak aparat pemerintah menghadapi Rizieq dan FPI-nya agar mengikuti protokol kesehatan. Dia mengkritik pihak berwenang, termasuk Pemprov DKI, Satgas Penanggulangan COVID-19, dan Kepolisian Negara (POLRI), karena tidak mengambil tindakan tegas dan membiarkan massa berkerumun dalam acara Rizieq. Dia mempertanyakan mengapa Rizieq diizinkan melakukan apa yang dia lakukan. Dia membandingkannya dengan perlakuan berbeda yang diberikan kepada PKL, di mana dia mengatakan pihak berwenang membubarkan PKL dan menutup pasar untuk menghindari keramaian dan menyebarkan COVID-19.

Menarik sekali melihat kritik keras yang dikeluarkan Muhammadiyah. Namun kita semua tahu bahwa Muhammadiyah sangat prihatin dengan situasi COVID-19 di Tanah Air. Selain itu, bisa dipahami mengapa Muhammadiyah mengambil sikap melawan Rizieq. Lagipula, kebangkitan Rizieq dan kelompok Muslim garis kerasnya tidak baik untuk organisasi yang mempromosikan wajah Islam moderat seperti Muhammadiyah. Kita akan lihat apakah Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Muslim terbesar di negeri ini, juga akan mengambil sikap melawan Rizieq. (yosefardi.com)

Comment

News Feed