by

Outlook Ekonomi 2021

-Ekonomi-78 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Perekonomian Indonesia mengalami kontraksi 2,01% sepanjang tahun ini (year to date/ytd), memasuki resesi, karena krisis COVID-19 berdampak besar pada perekonomian. Tetapi ekonomi nasional telah tumbuh 5,05% di kuartal ketiga (K3), setelah kontraksi 4,19% di k2. Ini adalah pertumbuhan triwulanan pertama sejak Q3 2019 dan yang terkuat, karena ekonomi pulih dari kejatuhan yang dipicu oleh krisis COVID-19. Apakah akan terus tumbuh di k4 tahun ini dan tahun depan?

Konsumsi swasta tumbuh 4,7% di triwulan ke-3 tahun ini setelah menyusut 6,53% di triwulan ke-2, dan investasi tetap tumbuh 8,45% di triwulan ke-3 setelah menyusut 9,71% di triwulan ke-2. Pada saat yang sama, pengeluaran (belanja) pemerintah melambat, tumbuh 16,93% di triwulan ke-3, dibandingkan dengan pertumbuhan 22,33% di triwulan ke-2. Ada peningkatan ekspor yang kuat, tumbuh 12,14% di triwulan ke-3, dibandingkan dengan minus -12,83% di triwulan sebelumnya, dengan penurunan impor yang jauh lebih sedikit (-0,08% vs. -14,18%).

Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan ekonomi akan tetap mengalami kontraksi (1,7%) di triwulan ke-4 tahun ini, dengan konsumsi rumah tangga minus 2,1% hingga minus 1%. Ia mencatat, investasi masih lemah namun mulai pulih, tercermin dari beberapa indikator seperti aktivitas pembangunan, impor barang modal, dan penjualan kendaraan niaga.

Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) memproyeksikan ekonomi Indonesia akan kontraksi 1% tahun ini, namun akan tumbuh 5,3% tahun depan seiring dengan pemulihan ekonomi. Sementara itu IMF memprediksikan ekonomi Indonesia tahun ini minus 0,23% namun tumbuh 6,1% tahun depan. Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh nol persen tahun ini, tetapi akan tumbuh 4,8% tahun depan. Sementara itu, OECD memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh minus 2,8% tahun ini dan tumbuh 5,2% tahun depan.

Sri Mulyani mengatakan, untuk tahun 2021, perekonomian diproyeksikan tumbuh 4,5% hingga 5,5%, namun hal tersebut bergantung pada perkiraan COVID-19 dan bagaimana pengaruhnya terhadap perekonomian Indonesia. Untuk menahan dampak negatif pandemi terhadap perekonomian, pemerintah akan terus mengambil langkah kebijakan yang luar biasa untuk menjaga dan memulihkan kesehatan masyarakat, kondisi sosial ekonomi, dan dunia usaha.

Bank Indonesia (BI) mengatakan pertumbuhan ekonomi domestik kembali pulih sejalan dengan peningkatan realisasi stimulus fiskal dan mobilitas masyarakat yang lebih besar seiring dengan permintaan global yang lebih kuat. Realisasi stimulus yang lebih tinggi dan mobilitas publik yang lebih besar telah secara bertahap meningkatkan permintaan domestik dalam hal konsumsi dan investasi.

Sementara itu, kinerja ekspor juga membaik didukung oleh permintaan global, khususnya Amerika Serikat dan China. Perkembangan positif di beberapa indikator juga mengkonfirmasi pemulihan ekonomi domestik selama Oktober 2020, termasuk mobilitas publik, penjualan ritel non-makanan dan online, PMI manufaktur, dan pendapatan swasta.

BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan terus meningkat pada tahun 2021 sejalan dengan perbaikan ekonomi global, realisasi anggaran pemerintah pusat dan daerah yang lebih cepat, kemajuan dalam program restrukturisasi pinjaman, dan stimulus moneter dan makroprudensial yang dikeluarkan oleh BI.

Sri Mulyani mengatakan ekonomi Indonesia diperkirakan akan mengalami kontraksi 1,5% tahun ini, lebih baik dari kontraksi Korea Selatan 1,9% dan kontraksi Rusia 4,1%. Ekonomi China diperkirakan tumbuh sebesar 1,9% tahun ini. Indonesia, Korea Selatan, Rusia, dan China adalah anggota negara G20.

Sri Mulyani menjelaskan, semua negara melakukan countercyclical support melalui APBN atau kebijakan fiskal untuk menjaga ketahanan ekonomi di tengah dampak pandemi yang sedang berlangsung, meski berdampak pada bertambahnya utang. Perubahan kebijakan defisit bertujuan untuk mendukung perekonomian dan untuk kesehatan.

Untuk tahun 2021, defisit anggaran ditetapkan 5,7% atau Rp1.006,4 triliun, lebih kecil dari defisit anggaran 6,34% untuk tahun 2020 (Rp1.039 triliun). Pemerintah menetapkan pengeluaran/belanja untuk tahun 2021 sebesar Rp2.705 triliun (naik 0,4% dari tahun 2020), dengan fokus pada penanganan pandemi. Anggaran pendidikan pada tahun 2021 mencapai Rp550 triliun atau 20% dari total anggaran, dan anggaran perlindungan sosial mencapai Rp408,8 triliun.

Keberhasilan upaya pemerintah, termasuk penerapan Omnibus Law untuk Cipta Kerja dan vaksin COVID-19, akan berdampak pada prospek ekonomi di tahun 2021. Optimisme pelaku usaha harus terus dikembangkan, sedangkan hingar bingar politik dan sosial akan berdampak pada iklim investasi. Perlu dicatat, bahwa sekitar 80% dari PDB negara bergantung pada ekonomi domestik, dimana saat ini sisi permintaannya lemah. Pemerintah menetapkan pendanaan untuk stimulus sebesar Rp356,7 triliun tahun depan. Ini akan mendukung perekonomian negara.

Pemerintah perlu menggenjot dana program pemulihan ekonomi tahun depan untuk perlindungan sosial, segmen mikro-kecil-menengah, dan korporasi. Sektor-sektor yang berprospek positif pada 2021 antara lain pertambangan, teknologi, makanan dan minuman, serta keuangan.

Comment

News Feed