DEPOK (eNBe Indonesia) – Ivan Nestorman, musisi dan penyanyi populer tanah air asal NTT, meraih penghargaan AMI Awards 2020, dari Anugerah Musik Indonesia, untuk kategori lagu berbahasa daerah terbaik. Penghargaan ini diumumkan Kamis (26/11).

Ivan sukses menyisihkan tiga musisi dan penyanyi hebat di kategori ini yaitu Didi Kempot, Judika dalam kategori bergengsi yang mempunyai jutaan penggemar dan idola. “Ini bonus dari perjalanan panjang karir musik saya, hingga mendapat pengakuan dari AMI. Ini kemenangan terbesar saya,” ujar Ivan kepada Redaksi eNBe Indonesia hari ini.

Ivan mengakui puas dan bangga karena lagu Mata Leso Ge dianugerahi award oleh AMI, lagu berbahasa daerah terbaik tahun ini, tapi Ivan memahami jika AMI memilih Mata Leso Ge sebagai sebuah karya baru, segar dalam sentuhan musikalitas, selain musiknya memang indah dengan aransemen musik yang berkualitas.

Ivan tentu juga sukses menyisihkan ribuan pencipta lagu berbahasa daerah di negeri ini, mungkin berkat track record (rekam jejak) yang hebat, berikut konsistensi berkarya dalam musik. “Music is a journey, maka saya akan tetap berkarya, dan tidak menjadi buta oleh awards dari AMI ini. Dan semoga saya bisa menginspirasi generasi muda untuk berani membawakan lagu berbahasa daerah sendiri, tidak harus bahasa Indonesia,” ujar Ivan. Lagu bahasa daerah bisa mendunia, asal disampaikan secara kekinian, tapi modern, tanpa membuang otentiknya.

Selain Mata Leso Ge, lagu Ivan berirama reagge (Komodo Sunset) juga berhasil masuk nominasi AMI Awards tahun ini, namun harus bersaing ketat dengan lagu reagge karya Steven Coconut dan Shagy Dog. Ivan juga pernah menerima SCTV Award untuk kategori rekaman paling inovatif. Dua tahun lalu (2018), lagu Mogi karya Ivan berhasil masuk nominasi folk song terbaik.

Publik NTT tentu bangga dengan prestasi luar biasa penyanyi dan musisi asal NTT. Selain Ivan, Admesh Kemaleng dan Marion Jola juga menerima AMI Award untuk kategori lagu pop. “Semua awards yang saya dapatkan menjadi kado istimewa bagi istriku karena dia adalah matahari (mata leso), bulan, bintang, dan embun pagi dalam kehidupanku,” ujar Ivan.

Ivan bercerita, terinspirasi menulis lagu Mata Leso Ge ketika melihat istri dan tiga putrinya tidur berdesak-desakan, tidak lagi sebuah mimpi tapi kenyataan yang menggugahnya mengekresikan rasa syukur dan kagum pada penyelenggaraan Yang Ilahi, kemudian Ivan mencipta lagu dalam 5 menit saja, menggambarkan istri cantiknya sebagai matahari, sementara rambut keriting (fu kugu) tapi cantik adalah anugerah (blessing) dari Tuhan sendiri.

SINGING SOCIETY

Ivan Nestorman juga diangkat Kementerian Parekraf (pariwisata, ekonomi kreatif) dalam tim kreasi nasional untuk akselerasi Labuan Bajo. “Saya punya narasi bahwa Flroes itu the singing society (masyarakat bernyanyi). “Saya akan jadi mentor untuk buat produk-produk musik dan tari, melibatkan sekujur Flores, terutama koridor-koridor pariwisata,” pungkasnya.