by

Rizieq Shihab & Pertarungan Raksasa

-Nasional-122 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Beberapa orang percaya bahwa ketegangan baru-baru ini terkait dengan Rizieq Shihab adalah bagian dari pertempuran raksasa yang lebih besar. Jadi ketegangan bisa meningkat hingga agenda krusial terkait suksesi Polri dan Tentara Nasional Indonesia (TNI), serta perombakan kabinet, selesai.

Bukan rahasia lagi, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Penanaman Modal (Purn.) Luhut Binsar Pandjaitan dan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang juga mantan Ketua Umum Partai Golkar, memiliki hubungan yang sulit. Beberapa bahkan percaya bahwa mereka adalah musuh satu sama lain. Pertengkaran antara keduanya terlihat jelas di masa jabatan pertama Presiden Joko “Jokowi” Widodo dan di Partai Golkar.

Pada 2015, misalnya, Kalla mengkritik penambahan kewenangan yang diberikan kepada Kantor Staf Kepresidenan (KSP) pimpinan Luhut. Ia prihatin dengan peran Luhut yang semakin meluas karena peran Luhut dapat berbenturan dengan tugas Wakil Presiden. Lalu, dalam Muktamar Ketua Luar Biasa (Munaslub) Golkar 2016, Luhut mengesahkan Setya Novanto a.k.a Setnov, sementara Kalla mendukung pesaing terbesar Novanto Ade Komarudin a.k.a Akom. Itu hanya sebagian dari sekian banyak contoh pertarungan antara Luhut dan Kalla.

Saat ini, Luhut pada dasarnya adalah orang paling berkuasa di kabinet. Beberapa mengatakan bahwa dia adalah seorang Perdana Menteri, tangan kanan Presiden. Satu-satunya perhatian Presiden adalah menyelesaikan sesuatu dan dia tahu bahwa dia dapat mengandalkan Luhut untuk mendapatkan hasil. Memang, Luhut selalu mampu menjalankan misi yang diberikan Presiden kepadanya. Pantas saja Presiden memberi lebih banyak kekuasaan kepada Luhut.

Berbeda dengan Luhut, Kalla sudah tidak ada lagi di kabinet. Masa jabatannya sebagai Wakil Presiden berakhir pada 20 Oktober 2019. Konon, Kalla masih memiliki jaringan dan pengaruh yang luas di dalam maupun di luar kabinet. Di kabinet, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Polisi (Purn) Budi Gunawan dikenal dekat dengan Kalla. Budi Gunawan, yang juga mantan Wakil Kepala Polisi (Wakapolri), adalah ketua Dewan Ahli Dewan Masjid Indonesia (DMI). DMI, seperti kita ketahui, dipimpin oleh Kalla. Budi Gunawan juga dekat dengan pendahulunya Jenderal (Purn) AM Hendropriyono.

Melihat latar belakang kepolisiannya, Budi Gunawan tak pelak tertarik menentukan siapa yang akan menjadi Kapolri berikutnya menggantikan Jenderal Idham Azis (yang sebentar lagi akan memasuki usia pensiun pada 30 Januari 2021). Sementara Hendropriyono kemungkinan besar tertarik dengan siapa yang akan menjadi Panglima TNI berikutnya mengingat menantunya Jenderal Andika Perkasa, Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) saat ini, adalah salah satu dari dua calon yang berpotensi menggantikan Panglima Hadi Tjahjanto.

Lalu ada Menteri Dalam Negeri dan mantan Kapolri Jenderal (Purn.) Tito Karnavian yang dikenal dekat dengan Luhut. Polri saat ini di bawah kendali anak buah Tito. Beberapa anak buah Tito termasuk yang disebut-sebut sebagai calon Kapolri.

Selain Luhut dan Kalla, ada Tommy Soeharto yang dikenal dekat dengan Rizieq. Di antara keluarga mantan Presiden Republik, tampaknya keluarga Soeharto adalah satu-satunya yang tidak memiliki hubungan baik dengan Jokowi dan pemerintahannya. Ada yang mengatakan, alasannya karena pemerintahan Jokowi mempersulit Tommy dan keluarga Soeharto untuk menguasai aset di dalam dan luar negeri.

Mengingat raksasa-raksasa ini sedang bermain, kita mungkin melihat ketegangan semakin meningkat. Orang bertanya-tanya siapa yang akhirnya akan keluar sebagai pemenang pertempuran antara raksasa-raksasa ini. (yosefardi.com)

Comment

News Feed