by

Pilbup Ngada: Andreas Paru dan rencana Tuhan

-Profil-437 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Andreas Paru tidak percaya diri memulai kontestasi pemilihan bupati (pilbup) kabupaten Ngada untuk periode 2021-2025, karena minim modal sosial dan politik. Maklum Andreas adalah warga Ngada diaspora, mengabdi sebagai polisi Indonesia untuk wilayah Papua, keluar dari Ngada sejak 1980.

“Kita berkumpul di sini hanya karena rencana Tuhan, apa yang kita bicarakan, kesepakatan kita hari ini, komitmen kita hari ini, bisa terjawab pada 2020 nanti, itu hanya karena rencana Tuhan,” ujar Andreas saat tatap muka dengan warga di sebuah kampung di Ngada medio Februari 2020, tersiar dalam video youtube milik Athanasius L. Sawo (SEMAT98 youtube channel).

Andreas sudah bertekad mencalonkan diri menjadi Bupati Ngada sejak Pilbup 2015, namun terpaksa mengurungkan niatnya karena popularitas Marianus Sae sebagai petahana (incumbent) masih sangat tinggi. Tapi semenjak itu, Andreas mempersiapkan diri untuk bertarung pada pilbup berikutnya (tahun ini).

Sesungguhnya belum banyak modal sosial dan politik dimiliki Andreas, selain memberi bantuan bagi kelompok nelayan di Maumbawa, bantuan untuk kapela-kapela di beberapa desa, bantuan untuk beberapa desa persiapan, juga seragam bola. “AP (Andreas Paru-red) datang dengan hati, dan itu yang mereka ingat,” ujar Andreas, mantan sekretaris pribadi empat kapolda di Papua ini.

Hasil quick count KPU menetapkan pasangan Andreas Paru dan Raymundus Bena (AP-RB) sebagai bupati dan wakil bupati Ngada yang baru, memimpin dengan 27,6% suara dari data yang masuk sekitar 45,38%. Pasangan yang lain menyusul, Helmut Waso-Yohanes Tay (19,3%), Kristoforus Loko-Emanuel Dopo (18,7%), Paulus Soliwoa-Gregorius Upi (17,7%), dan Wilfridus Muga-Herman Say (16,9%).

“Saya tidak akan memimpin (Ngada) dengan gaya seorang polisi yang hanya memerintah, tapi akan memberdayakan semua potensi ASN yang ada. Bagaimana supaya semua berpikir agar ada perubahan. Prinsipnya saya harus ada perubahan, menyangkut dengan kehidupan orang-orang desa. Sederhana, jika selama ini makan 2 kali sehari misalnya, harus jadi 3 kali, atau saat ini (mereka) uang minus, harus mulai punya sedikit yang disimpan di bank,” tegas Andreas dalam wawancara dengan mantan wartawan ibukota Jakarta Athanasius L Sawo.

Comment

News Feed