by

Pilkada Surakarta: Gibran menang

-Profil-87 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Penghitungan cepat (quick count) berbagai lembaga pemungutan suara menunjukkan kemenangan telak Gibran Rakabuming Raka, putra tertua Presiden Joko “Jokowi” Widodo, dalam Pilkada Surakarta. Kakak iparnya Bobby Afif Nasution juga memenangkan pilkada di kampung halamannya Medan (Sumatera Utara) dengan selisih yang sangat besar berdasarkan hasil quick count. Setelah kemenangannya yang meyakinkan, beberapa orang mulai berspekulasi tentang masa depan Gibran.

Gibran memenangkan pemilihan walikota Surakarta dengan telak berdasarkan hasil hitung cepat dua lembaga pemungutan suara.

Menurut Charta Politika, Gibran-Teguh menang dengan 87,15%, sedangkan Bagyo Wahyono-FX Supardjo hanya berhasil mengamankan 12,85%. Menurut Voxpol Center, Gibran-Teguh menang dengan 86,65%, sedangkan Bagyo Wahyono-FX Supardjo hanya berhasil mengamankan 13,34%.

Hasil hitung cepat tersebut tidak mengejutkan. Banyak yang perkirakan Gibran akan dengan mudah memenangkan pilkada. Meski begitu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) tetap perlu melakukan penghitungan resmi. KPU diharapkan mengumumkan hasil akhir penghitungan resminya pada sekitar 13-17 Desember 2020.

Karena itu, mengingat hasil quick count, harus diakui bahwa performa Gibran sangat mengesankan. Dia harus berurusan dengan masalah dinasti politik. Selain itu, beberapa orang mungkin mencoba meremehkan pencapaian Gibran dengan mengatakan bahwa dia memenangkan pemilihan walikota karena Jokowi, dan karena dia bersaing dengan lawan yang tidak meyakinkan. Pasangan independen Bagyo Wahyono-FX Supardjo, seperti kita ketahui, merupakan pendukung Jokowi pada Pilpres 2019 dan Pilkada DKI. Mereka didukung oleh kelompok relawan Jokowi.

Mari kita ingat hal kekalahan putra tertua Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam pemilihan gubernur Jakarta 2017. Faktor SBY tak membantu putranya memenangkan pilkgub DKI Jakarta. Ada juga kekalahan telak dari keponakan Wakil Presiden Jusuf Kalla Munafri Arifuddin dalam Pilkada Kota Makassar 2018. Faktor Kalla tidak dapat membantu Munafri bahkan ketika dia berhadapan dengan kotak kosong. Jadi, orang-orang harus tetap menghargai Gibran.

Mengingat kemenangannya yang meyakinkan di Surakarta, beberapa orang sudah mulai berspekulasi tentang masa depan Gibran. Seperti yang sudah kami sebutkan sebelumnya, kemenangan di Pilkada Surakarta bisa menjadi batu loncatan bagi Gibran untuk mencalonkan diri dalam Pilgub Jakarta 2022 atau bahkan Pilpres 2024. Kemungkinan ada bagi Gibran untuk mengikuti jalan ayahnya. Bedanya, Jokowi telah menyelesaikan masa jabatan pertamanya sebagai Walikota Surakarta dan di masa jabatan kedua ia memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur Jakarta. Jadi, banyak yang percaya bahwa Gibran lebih baik tetap tinggal di Surakarta, daripada mengejar jabatan gubernur dan presiden Jakarta.

Medan

Penghitungan cepat berbagai lembaga pemungutan suara juga menemukan kemenangan meyakinkan menantu Presiden Muhammad Bobby Afif Nasution dalam pemilihan walikota Medan, ibu kota provinsi Sumatera Utara.

Menurut Charta Politika, Bobby-Aulia memperoleh 55,19%, sedangkan Akhyar-Salman 44,81%. Sedangkan Poltracking melaporkan Bobby-Aulia memperoleh 54,15%, sedangkan Akhyar-Salman memperoleh 45,85%. Populi Center melaporkan Bobby-Aulia dengan 54,18%, dan Akhyar-Salman 45,82%. The Voxpol Center melaporkan Bobby-Aulia dengan 53,30%, dan Akhyar-Salman 46,69%

Margin yang memisahkan Bobby dan Akhyar sekitar 10%. Jika hasil penghitungan resmi KPU membenarkan hasil quick count, Bobby akan menjadi Wali Kota Medan yang baru.

Mungkin juga ada yang meremehkan penampilan Bobby dengan mengatakan bahwa dia memenangkan pemilu karena Jokowi. Namun sekali lagi, fakta bahwa Bobby harus berurusan dengan masalah dinasti politik dan belajar dari kekalahan memalukan putra SBY di Pilgub Jakarta 2017 dan kekalahan telak keponakan Kalla dalam Pilkada Kota Makassar 2018, seseorang harus menghargai Bobby. Ingatlah bahwa dia menghadapi lawan yang kuat. Akhyar adalah penjabat Walikota Medan. Dia adalah petahana.

Kemenangan putra Jokowi di Surakarta dan Medan merupakan kemenangan besar bagi PDIP. Dengan Gibran dan Bobby, PDIP akan memiliki dua kepala daerah lagi dari generasi muda. Gibran masih sangat muda. Dia baru berusia 33 tahun. Bobby bahkan lebih muda karena usianya baru 29 tahun. Karier politik mereka masih sangat panjang. Tapi pertama-tama, kita harus melihat apa yang bisa mereka lakukan sebagai kepala daerah.

Terkait Bobby, sekutunya dan kawan-kawan harus berpesan agar berhati-hati dalam memimpin Pemkot Medan. Dalam dekade terakhir, tiga walikota dari tiga partai politik yang berbeda telah memimpin kota. Dua dari tiga walikota tersebut berakhir di penjara. Mereka adalah Dzulmi Eldin, politisi Partai Golkar, ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena suap. Pendahulu Dzulmi Eldin Rahudman Harahap, politikus dari Partai Demokrat SBY, juga dihukum dalam kasus korupsi. (yosefardi.com)

Comment

News Feed