by

Frans Gelu, tokoh fenomenal PDI berpulang

-Profil-392 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Publik Ngada, Nagekeo, terutama Mauponggo tentu sangat kehilangan tokoh hebat, Frans Gelu Mere Yua, tokoh paling fenomenal sejak 1970 di kancah politik lokal. Frans juga seorang guru, petani, pengusaha, pejabat pemerintah, berikut tokoh gereja.

Frans telah berpulang dari dunia ini, meninggal pada 7 Desember 2020 di usia 78 tahun 10 bulan, setelah menderita penyakit parkinson sejak 2014. Mantan anggota DPRD Ngada (1971-1977) dan anggota DPRD Provinsi NTT (1999-2004) ini meninggalkan istri tercinta Beatrix Wae (putri Kepala Mere Phelipus Meo Gego) dan 5 anak kandung, berikut 9 anak angkat.

Kelima anak kandung telah berkeluarga dan semuanya sarjana (S1); Robertus Aries R. Raga (istri Emiliana Mbewu), Hendrikus A Meo Gego (istri Wrenges Widjoraran), Maria Patrisia Yasinta Ngole (suami Florentinus Jolo), Yanuarius Thadeus Mere Yua (istri Dorotea Upi Kisa), dan Yohanes Maria Vianney Jago (istri Maria Imelda Fraga). Robertus Aries R. Raga juga adalah mantan anggota DPRD Nagekeo.

Sementara sembilan anak angkat (beberapa juga sarjana); Yuliana Owa, Rofinus Laja, Dorotea Sugi, Fransiskus Gelu, Yohana Bosco Timu, Ludgardis Menge, Hildegardis Bupu, Yolenta Buka Oma, dan Saturminus Raga Wea.

Frans Gelu Mere Yua adalah anak ke-5 dari pasangan Yudas Thadeus Mere Yua dan Wilhemina Oko. Keempat saudaranya adalah Yakob Babo (almarhum), tokoh penting dan pengusaha di Wolosambi dan Mauponggo, berikut empat saudara perempuan Maria Yua (almarhuma), Co’o Polu (almarhuma), Adelina Co’o (almarhuma), Veronika Teku.

Setelah menyelesaikan pendidikan di SMEA Syuradikara (1961), Frans Gelu berkarya sebagai guru di SMEP Baterende Wolosambi, sekolah yang didirikan mertuanya (Kepala Mere Phelipus Meo Gego) bersama Ronfinus Raga (Kepala SDK Sawu) dan Pater Boots. Frans sebelumnya menempuh pendidikan di SR Mauponggo, SR Sawu, dan SMP Kota Goa Boawae.

Hanya bertahan 1 tahun mengajar, Frans Gelu memutuskan bekerja di PT Surya Wijaya Aimere sebagai staf administrasi (1962-1964), lalu menjadi staf koperasi kopra (KOKOP) Mauponggo tahun 1964-1966. Pada tahun 1971, Frans Gelu dipilih sebagai Kepala Desa Ululoga dan di masa ini Frans aktif mendorong masyarakat untuk menanam tanaman komoditi seperti kelapa, kopi, dan cengkeh. Khusus untuk cengkeh, Frans sudah mulai menanam pertama 2 pohon pada tahun 1968 di kebun Aetungu. Akhirnya tanaman cengkeh menjadi tanaman komoditi favorit di Desa Ululoga dan sekitarnya.

Pada tahun 1971, Frans Gelu menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Ngada dari Partai Katolik (hingga 1972) dan DPRD Ngada dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pada 1972 hingga 1977. Selain sebagai anggota DPRD Ngada, Frans kembali menekuni dunianya sebagai petani yang inovatif dan visioner.

Frans selalu mendatangkan tanaman-tanaman baru yang belum dimiliki orang lain seperti cengkeh, vanili dan kakao, tanaman buah-buahan seperti durian, rambutan, kokosan, langsat, kelengkeng, mangga arumanis dan jeruk, dan tanaman pakan ternak seperti kinggres dan satria.

Frans juga seorang kontraktor dan direktur CV Lembah Indah. Beliau juga bergulat di bidang politik di PDI kab Ngada pada tahun 1970-an dengan jabatan sekretaris partai dan ketuanya almarhum Emil Waso Ea, yang akhirnya membawa beliau duduk sebagai anggota DPRD Provinsi pada tahun 1999-2004.

Frans juga aktif di gereja sebagai anggota DPP Paroki Wolosambi selama 30 tahun dengan jabatan yang paling lama sebagai bendahara. Dia juga menjabat Ketua BP SMAK Malesama. Bersama tokoh lainnya; Alex Wae, Eduardus Sabu, Nikolaus Nua dan Bernabas Kaka, Frans mendirikan koperasi Malajaya dan dia dipercayakan menjadi ketua koperasi selama beberapa periode. Pada period 2009-2011, Frans menjadi ketua panitia pembangunan gereja St. Joanne Baptista Wolosambi.

“Kami di Wolosambi ini sangat kehilangan tokoh penting, bapak Frans Gelu. Beliau adalah perintis budidaya cengkeh di Mauponggo bersama kakaknya bapak Yakob Babo. Masyarakat dan umat Wolosambi saat ini tentu sangat bangga dan berterima kasih karena perjuangan bapak Frans juga menjadikan Gereja Wolosambi sebagai icon saat ini,” ujar Bruno Sawi, anggota DPRD Nagekeo kepada Redaksi eNBe Indonesia kemarin (11/12).

Maria Margareta Bhubhu, politisi Partai Nasdem, mengakui sangat bangga dan mengidola sosok Frans Gelu karena berani membawa perubahaan dalam tatanan politik lokal. “Ini tokoh yang berani menembus perubahan jaman itu (1970-an) saat semua orang tunduk pada kekuasaan dengan dominasi Partai Golkar. Om Frans, salah satu yang berani menghadirkan PDI berada di tengah masyarakat Ngada waktu itu. Dia berani membuat perbedaan, karena di satu sisi om Frans adalah tokoh swasta, yang tidak tersentuh langsung dengan rezim,” paparnya.

PDI akhirnya menjadi partai nomor satu dan terbesar saat ini, partai yang mampu melahirkan pemimpin terbaik bagi bangsa Indonesia. Komitmen kader seperti Frans Gelu layak menjadi panutan dan inspirasi bagi semua kader politik lokal, khusus di Nagekeo dan NTT.

Selamat Jalan om Frans Gelu !! Upahmu besar di Surga.

Comment

News Feed