by

Rangkaian kasus Rizieq Shihab

-Profil-143 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Hanya satu bulan setelah kembali ke Indonesia, pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab ditetapkan sebagai tersangka karena melanggar protokol kesehatan bersama lima orang lainnya. Tersangka lainnya bertanggung jawab menyelenggarakan pernikahan putri Rizieq yang diiringi dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Masih jelas dalam ingatan kita bagaimana FPI dan sekutunya menggelar serangkaian aksi unjuk rasa bersama dan menuntut agar Gubernur DKI Ahok dipenjara. Kelompok itu menamakan diri mereka GNPF-MUI. Unjuk rasa pertama rombongan digelar pada 4 November 2016. Unjuk rasa kedua digelar pada 2 Desember 2016 yang kemudian melahirkan Gerakan 212. Ketika Gubernur Ahok akhirnya mendekam di penjara pada 2017 lalu, banyak pendukungnya yang menuntut perlakuan yang sama terhadap Rizieq, hanya karena tak terhitung banyaknya laporan dugaan pelanggaran hukum terkait Rizieq.

Dalam catatan kami, hingga pertengahan 2017 Rizieq diperiksa karena:

  1. dugaan pencemaran Pancasila dilaporkan oleh Sukmawati Soekarnoputri (sejak 27 Oktober 2016)
  2. dugaan penistaan ​​agama yang dilaporkan oleh Persatuan Pelajar Katolik Indonesia (PMKRI) (sejak 26 Desember 2016)
  3. tuduhan ujaran kebencian yang dilaporkan oleh Student Peace Institute (sejak 27 Desember 2016)
  4. dugaan ujaran kebencian yang dilaporkan oleh Rumah Pelita (sejak 30 Desember 2016)
  5. tuduhan fitnah yang dilaporkan oleh Jaringan Intelektual Muda Anti-Fitnah dan yang disebut Solidaritas Merah-Putih, terkait dengan kehadiran simbol palu arit komunis dalam cetakan Rupiah yang baru (sejak Jan . 8, 2017 dan 10 Januari 2017 masing-masing)
  6. Tuduhan fitnah yang dilaporkan oleh Generasi Muda Siliwangi, terkait dengan ucapan Rizieq yang melontarkan lelucon budaya Sunda ketika ia mengubah istilah lokal “sampurasun” menjadi “campur racun” atau campuran beracun
  7. dugaan pencaplokan properti milik BUMN kehutanan PT Perhutani di Megamendung, Bogor, Jawa Barat
  8. Tuduhan pelanggaran undang-undang pornografi karena bertukar obrolan WhatsApp dengan Firza Husein, dilaporkan oleh Aliansi Mahasiswa Melawan Pornografi (sejak 30 Januari 2017).

Yang kita ketahui selama ini, dari kasus-kasus tersebut, Rizieq hanya ditetapkan sebagai tersangka dalam dua kasus, yakni dugaan pencemaran Pancasila dan kasus terkait Firza Husein. Sayangnya, sebelum Polri melakukan tindakan apapun, Rizieq memutuskan untuk berangkat umrah dan tidak pernah kembali hingga 10 November 2020. Sayangnya, pada 2018, penyidikan kasus yang dilaporkan oleh Sukmawati Soekarnoputri juga terhenti. Rizieq didakwa dengan tuduhan melanggar ketentuan Pasal 154a KUHP tentang tindak pidana terhadap lambang negara dan / atau Pasal. 320 KUHP tentang pencemaran nama baik, namun pada 4 Mei 2018, Polisi mengumumkan bahwa mereka telah menghentikan penyidikan kasus tersebut. Status Rizieq dalam laporan polisi lainnya masih sebatas sebagai terlapor. Meski demikian, polisi tampaknya tidak menganggap serius laporan yang ada.

Sebelumnya telah kami sebutkan bahwa jika Polisi serius ingin menjatuhkan Rizieq dan kelomponya, pasti ada kasus lain yang bisa membuatnya bertanggung jawab; kasus yang kuat. Bukan rahasia lagi kalau Rizieq dan FPI-nya punya sejarah panjang kekerasan. Mereka diduga melakukan pembunuhan terhadap jemaah Ahmadiyah di Cikeusik pada Februari 2011. Rizieq sendiri dipenjara selama tujuh bulan pada 2003 karena mencemarkan nama baik Polri. Pada tahun 2008, FPI yang dipimpin oleh Munarman secara brutal menyerang aksi damai yang diorganisir oleh AKKBB untuk merayakan lahirnya Pancasila dengan alasan bahwa hajatan tersebut merupakan penyamaran terhadap pendukung Ahmadiyah. Rizieq dipenjara selama satu tahun enam bulan.

Dengan daftar kasus yang sangat panjang, kemudian kita bertanya-tanya apakah Polri tidak dapat menemukan kasus lain seperti ini? Siapa sangka kita harus menunggu lebih dari tiga tahun sebelum kita bisa menyaksikan Yang Maha Kuasa Rizieq Shihab menyerahkan diri ke polisi. Dia langsung ditetapkan sebagai tersangka setelah melalui pemeriksaan awal yang cukup lama.

Rizieq dianggap melanggar Pasal 160 KUHP, yang mencatat hasutan untuk melakukan kejahatan terhadap otoritas umum, dan Pasal 216 KUHP, yang membahas tentang hukuman bagi mereka yang dengan sengaja tidak mematuhi, atau menghalangi perintah atau permintaan yang dibuat menurut hukum oleh pejabat yang berwenang. Tersangka lainnya ditetapkan sebagai tersangka karena melanggar protokol kesehatan dalam Undang-Undang Karantina Kesehatan. Rizieq langsung ditahan, sedangkan tersangka lainnya tidak. Kecurigaan muncul mempertanyakan berbagai pasal yang digunakan. Pemeriksaan para tersangka kasus baru tersebut rencananya akan digelar hari ini, 14 Desember 2020. (yosefardi.com)

Comment

News Feed