by

PERSIS (Persatuan Islam)

-Profil-150 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Persatuan Islam (Persis) adalah salah satu kelompok Muslim di Indonesia. Basisnya di Jawa Barat. Di era Presiden Soekarno, Persis berafiliasi dengan Partai Masyumi. Saat ini, Grup tersebut berafiliasi dengan partai oposisi PKS.

Persis didirikan pada 12 September 1923 di Bandung, ibu kota Jawa Barat. Jawa Barat merupakan provinsi terbesar di Indonesia dengan jumlah penduduk hampir 50 juta. Pendiri Persis adalah Haji Zamzam dan Haji Muhammad Yunus.

Persis memiliki lebih dari 2 juta anggota yang tersebar di Jakarta, Banten, Jawa Timur, Lampung, Bengkulu, Riau, Jambi, Gorontalo, dan provinsi lainnya. Dalam situs resminya, www.persis.or.id, Persis mengaku memiliki 16 pengurus provinsi, 62 pengurus kabupaten/kota, dan 358 cabang.

Persis memang fokus di bidang pendidikan. Kelompok ini mengklaim memiliki 230 Pondok Pesantren (Pesantren), sebagian besar berlokasi di Jawa Barat. Berbeda dengan kelompok Muslim tradisional, Persis mengkritik akulturasi Islam dengan budaya lokal. Mereka ingin menyebarkan Islam hanya berdasarkan Alquran dan Hadist (perkataan dan perbuatan Nabi Muhammad).

Beberapa tokoh Persis adalah Muhammad Natsir, Mohammad Isa Anshary, dan Ahmad Hassan. Muhammad Natsir menjabat sebagai Perdana Menteri (PM) Indonesia dari September 1950 hingga Maret 1951. Ia adalah salah satu pemimpin kunci Partai Masyumi, partai Islam terbesar di era Soekarno. Dalam pemilihan umum demokratis pertama di Indonesia pada tahun 1955, Masyumi berakhir sebagai runner-up di belakang PNI, partai Soekarno setelah memperoleh 7.903.886 suara atau sekitar 20,9%. Masyumi mengumpulkan suara lebih banyak dibandingkan Nahdlatul Ulama (NU) yang berakhir di posisi ketiga dengan 6.955.141 suara (18,4%). Konon, Soekarno membubarkan Masyumi pada tahun 1960.

Seperti Natsir, Mohammad Isa Anshary juga pemimpin Masyumi, Ahmad Hassan a.k.a Hassan Bandung a.k.a Hassan Bangil dikenal sebagai mitra debat Soekarno selama beberapa tahun terakhir di Bandung.

Saat ini, Persis berafiliasi dengan partai Islam PKS, yang merupakan partai oposisi utama saat ini. Dalam artikel yang dimuat di situs resmi PKS, Wakil Ketua Persis Jeje Jainudin mengakui bahwa Persis berafiliasi dengan PKS karena secara historis kader Persis merupakan salah satu pemrakarsa PKS.

Salah satu tokoh kunci PKS yang dikenal sangat dekat dengan Persis adalah Hidayat Nur Wahid (HNW). HNW adalah mantan ketua umum PKS. Ia adalah Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), dan dikenal memiliki kedekatan dengan Lippo Group, kelompok usaha yang dikendalikan oleh Mochtar Riady dan keluarganya.

Ketua Persis saat ini adalah KH Aceng Zakaria. Lahir di Garut, Jawa Barat pada 11 Oktober 1948, Aceng Zakaria kini berusia 72 tahun. Ia tamat dari Pesantren Persis 1-2 Pajagalan di Karang Anyar, Bandung. Ia kini menjadi ketua Pesantren Persis 99 Rancabango di Tarogong Kaler, Garut. Dia juga ketua STAI Persis Garut.

Aceng juga aktif di Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PII) dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Ia tercatat sebagai penasihat ICMI Garut. Ia rutin memberikan ceramah Islam di Masjid Salman Institut Teknologi Bandung (ITB) dan di Yayasan Madani (Yayasan Madani), sekolah geologi ITB.

Aceng menikah dengan Euis Nurhayati, dan memiliki 8 orang anak, yaitu Evi Nurhasanah, Yanti Nurlaeli, Luthfi Lukman Hakim, Yudi Wildan Rosid, Rifqi Aulia Rahman, Husni Muttakin, Zaki Shiddiqi, dan Rahmi Rasyidah.

Pada 17 Oktober 2017, Presiden Jokowi mengunjungi markas Persis di Jalan Perintis Kemerdekaan Bandung. Presiden bertemu dengan Aceng dan pimpinan Persis lainnya. Jokowi melakukan kunjungan tersebut setelah pemilihan gubernur Jakarta 2017 untuk menjangkau lebih banyak kelompok Muslim. Sebelumnya, para pimpinan Persis termasuk di antara pimpinan 17 ormas Islam yang diundang ke Istana Negara untuk berdialog pada November 2016. Pilgub Jakarta 2017, seperti yang Anda ketahui, menandai bangkitnya kelompok Muslim garis keras yang dipimpin, antara lain, Rizieq Shihab. Rizieq, Pimpinan Tertinggi FPI, termasuk di antara mereka yang mengorganisir unjuk rasa anti-Ahok.

Jelang Pilpres 2019, Sandiaga Uno dan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan bertemu dengan Aceng Zakaria di Pesantren Persis Rancabango pada 14 Oktober 2018. Saat itu, Sandiaga adalah cawapres Prabowo Subianto yang merupakan ketua umum Gerindra. (yosefardi.com)

Comment

News Feed