by

Surplus Perdagangan

-Ekonomi-191 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Indonesia membukukan surplus perdagangan sebesar US$ 2,6 miliar pada November 2020 karena kombinasi pertumbuhan ekspor 9,54% (year-on-year) dan penurunan impor 17,5%. Bulan ke bulan, ekspor dan impor tumbuh masing-masing sebesar 6,36% dan 17,4%.

Ada beberapa faktor yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekspor:

1 / Harga rata-rata komoditas yang lebih tinggi: Total volume ekspor sebenarnya turun 4,8% tahun-ke-tahun, tetapi harga rata-rata naik 15%. Bulan ke bulan, bagaimanapun, volume meningkat secara signifikan hampir 13%. Ini pertanda baik pulihnya permintaan global, terutama untuk minyak sawit dan batubara. Pendapatan ekspor dari minyak nabati meningkat hampir 24% bulan ke bulan, berkat kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO) internasional. Pendapatan ekspor dari batubara termal juga meningkat 21,7% dari bulan Oktober, karena kombinasi dari harga dan volume yang lebih tinggi.

Kami memperkirakan akhir tahun harga minyak kelapa sawit (CPO) meningkat, saat ini diperdagangkan pada US$ 925 per ton (CIF) di Rotterdam, meningkat 81,4% dari titik terendahnya di tahun ini. Pada Januari-November 2020, pendapatan ekspor minyak nabati sudah tumbuh 16,3%.

2 / Kinerja besi & baja yang kuat: Industri besi dan baja Indonesia menghasilkan pendapatan ekspor sebesar US$1,28 miliar pada bulan November, meningkat 19,72% dari bulan Oktober. Dalam 11 bulan pertama tahun 2020, besi dan baja (HS 72) menghasilkan pendapatan ekspor US$9,64 miliar, melonjak 42,54% dari periode yang sama tahun lalu.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, besi & baja merupakan titik terang industri manufaktur, berkat operasi komersial pabrik karbon dan baja tahan karat di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara pada awal tahun ini. Di HS 72, peningkatan kapasitas produksi nikel pig iron (NPI) juga berkontribusi pada pertumbuhan ekspor yang cukup besar. Harga rata-rata nikel juga melonjak hampir 60% dari titik terendahnya di bulan Maret menjadi US$17.594 per ton di LME kemarin. Dengan kapasitas baru yang memasuki operasi komersial tahun depan, besi & baja dapat menggantikan batubara termal sebagai komoditas ekspor terbesar kedua dalam waktu dua tahun.

3 / Pemulihan raksasa Asia: Ekspor Indonesia ke India tumbuh 10% bulan ke bulan, mencerminkan pemulihan ekonomi setelah beberapa bulan terakhir. Ekspor ke Jepang juga meningkat 11,7%, sedangkan China tumbuh 16,2%. Pemulihan ekonomi India penting untuk komoditas utama Indonesia, terutama batubara termal dan minyak sawit.

Secara umum, kami perkirakan ekspor akan terus tumbuh tahun depan karena dua perusahaan utama emas dan tembaga, terutama Freeport Indonesia dan Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), kemungkinan akan kembali beroperasi normal.

Dari sisi impor, beberapa bulan ke bulan diperkirakan akan membaik, terutama dengan pertumbuhan nonmigas 19,3%. Namun volume impor justru naik tipis 0,56% saja, sedangkan volume non migas tumbuh 2,1%. Jadi, impor yang lebih tinggi terutama disebabkan oleh kenaikan harga rata-rata produk impor hampir 17%. Itu berarti permintaan domestik belum pulih meskipun pembacaan PMI kembali ke mode ekspansi. (yosefardi.com)

Comment

News Feed