by

Momentum Pemulihan Ekonomi

-Ekonomi-93 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Bank sentral (Bank Indonesia / B.I.) Pada Kamis (17/12) memutuskan untuk menahan BI 7-Day Reverse Repo Rate pada level 3,75% sejalan dengan proyeksi inflasi yang rendah dan stabilitas eksternal yang terjaga, ditambah dengan upaya mendukung pemulihan ekonomi.

B.I. menjelaskan pihaknya akan terus mengarahkan seluruh instrumen kebijakan untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional, sekaligus mengendalikan inflasi, serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan stabilitas sistem keuangan.

Sementara itu, perbaikan ekonomi global, menurut B.I., masih terus berlangsung dan diproyeksikan akan meningkat pada tahun 2021. Peningkatan ekonomi global tersebut terjadi di tengah meningkatnya mobilitas dan imbas dari stimulus kebijakan yang sedang berlangsung di berbagai negara, khususnya Amerika Serikat dan China.

Beberapa indikator awal pada November 2020 menunjukkan perbaikan ekonomi global yang sedang berlangsung. Tren PMI Manufaktur dan Jasa yang naik terus berlanjut di Amerika Serikat dan Cina, kepercayaan konsumen dan bisnis tumbuh di Amerika Serikat, Cina dan Eropa, dan pengangguran telah turun di banyak negara.

B.I. mengatakan ekonomi global diproyeksikan tumbuh sekitar 5,0% pada 2021 setelah berkontraksi 3,8% pada 2020. Ke depan, kecepatan pemulihan ekonomi global akan dipengaruhi oleh peluncuran vaksin Covid-19, peningkatan mobilitas serta fiskal yang berkelanjutan dan rangsangan moneter.

B.I. juga mengatakan pertumbuhan ekonomi domestik diperkirakan akan mendapatkan momentum dan akselerasi secara bertahap pada tahun 2021. Hal tersebut dikonfirmasi oleh beberapa indikator positif pada November 2020, antara lain meningkatnya mobilitas masyarakat di beberapa kawasan, perbaikan PMI Manufaktur yang berkelanjutan serta keyakinan dan ekspektasi konsumen yang semakin kuat terkait pendapatan, ketersediaan pekerjaan dan aktivitas bisnis.

Vaksinasi dan disiplin dalam penerapan protokol Covid-19 merupakan prasyarat bagi proses pemulihan ekonomi nasional. B.I. mengharapkan pertumbuhan ekonomi nasional mendapatkan kembali momentum positif pada kuartal keempat (K4) tahun 2020, dan mencatat -1% hingga -2% pada tahun 2020 sebelum meningkat menjadi 4,8-5,8% pada tahun 2021.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemulihan ekonomi pada K4 tahun ini membaik seiring dengan meningkatnya mobilitas masyarakat atau warga. Sisi produksi tumbuh tercermin dari manufaktur PMI yang kembali ekspansif pada November 2020.

Meski demikian, kata Menkeu, momentum pemulihan masih perlu dipertahankan seiring dengan maraknya kasus COVID-19 di beberapa negara, seperti negara-negara di kawasan Eropa. Untuk Indonesia, kata Sri Mulyani, pemerintah melakukan upaya pendukung di bidang kesehatan, ekonomi, melalui instrumen anggaran dan belanja (APBN), termasuk menyiapkan anggaran (sekitar Rp167 triliun) untuk penanganan pandemi COVID-19 pada 2021, di luar anggaran untuk vaksin.

Untuk tahun 2021, pemerintah memproyeksikan ekonomi tumbuh 4,5-5%, tergantung bagaimana dan seperti apa upaya penanganannya, pencegahan pandemi COVID-19 melalui penerapan disiplin kesehatan dan program vaksin. Pemerintah tahun depan akan fokus menangani pandemi COVID-19 dan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi.

Bank Pembangunan Asia (ADB) baru-baru ini memproyeksikan perekonomian Indonesia akan mengalami kontraksi sebesar 2,2% pada K4 tahun 2020. Momentum pertumbuhan belum muncul karena pemilu dengan protokol kesehatan yang ketat, juga kampanye yang terbatas, tidak memberikan dampak ke segmen konsumsi masyarakat.

Sementara Bank Dunia merevisi turun PDB Indonesia dari kontraksi 1,6% menjadi minus 2,2% pada tahun ini, karena pembatasan mobilitas dan jarak sosial yang terus diterapkan di tengah meningkatnya kasus COVID-19. Namun, pertumbuhan tersebut diperkirakan akan pulih menjadi 4,4 persen pada tahun 2021 dengan catatan pembatasan secara bertahap dikurangi dan ketersediaan vaksin yang luas membantu meningkatkan kepercayaan konsumen dan bisnis.

Comment

News Feed