by

Organisasi Islam: Al-Irsyad

-Profil-658 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Al-Irsyad Al-Islamiyyah adalah salah satu ormas Islam tertua di Indonesia. Seperti banyak ormas Islam lainnya, Al Irsyad juga memiliki jaringan yang luas.

Al Irsyad didirikan pada 6 September 1914 sebagai organisasi Islam yang fokus pada bidang pendidikan dan keagamaan. Tanggal berdirinya Al Irsyad tersebut mengacu pada hari berdirinya sekolah Al Irsyad pertama di Petamburan, Tanah Abang, Batavia (nama sebelumnya Jakarta). Sekolah tersebut mendapatkan pengakuan dari pemerintah kolonial Belanda pada 11 Agustus 1915.

Pada tahun 1917, Al Irsyad memperluas organisasinya ke Tegal (Jawa Tengah) dan Surabaya (Jawa Timur) dengan mendirikan sekolah. Al Irsyad berafiliasi dengan Jam’iyat Dakwah wa Al-Irsyad yang didirikan oleh Muhammad Rashid Rida di Mesir.

Saat ini, Al Irsyad memiliki 130 cabang di seluruh Indonesia, mulai dari Sumatera hingga Papua. Selain sekolah, Al Irsyad juga memiliki rumah sakit. Dua rumah sakit terbesarnya adalah RSU Al Irsyad di Surabaya dan RS Siti Khadijah di Pekalongan (Jawa Tengah).

Pendiri Al Irsyad adalah Syekh Ahmad Surkati, seorang ulama asal Sudan yang tinggal di Mekkah, Arab Saudi. Dia kemudian datang ke Indonesia sesuai permintaan Jamiat Kheir atau Jamiat Khair untuk memberi ceramah tentang Islam. Jamiat Kheir didirikan pada tahun 1905 oleh orang Indonesia keturunan Arab.

Pendiri Al Irsyad lainnya adalah Umar Manqush, Sa’id bin Salim Masy’abi, Shalih ‘Ubaid’ Abdat, dan Salim bin ‘Iwad Balwa’al. Di antara ulama Indonesia yang mendukung perkembangan Al Irsyad adalah Ahmad Dahlan, anggota Jamiat Kheir dan pendiri Muhammadiyah, dan Haji Zamzam, pendiri Persatuan Islam (PERSIS). Ahmad Dahlan adalah murid Syekh Ahmad Surkati. Muhammadiyah Ahmad Dahlan sekarang menjadi organisasi Muslim terbesar kedua di Indonesia.

Pada tahun 1922, Al Irsyad memprakarsai Muktamar Islam (kongres Islam) pertama di Cirebon, Jawa Barat bersama dengan Syarekat Islam dan Muhammadiyah. Sejak itu, Syekh Ahmad Surkati menjalin hubungan dekat dengan Agus Salim dan HOS Tjokroaminoto. Juga dalam kongres Islam pertama di Cirebon tersebut, pimpinan Al Irsyad berdebat dengan pimpinan Syarekat Islam Merah seperti Semaun, Hasan, dan Sanusi tentang Islam dan Komunisme.

Al Irsyad juga berkontribusi pada pendirian Masyumi, partai Islam terbesar di era Soekarno. Dalam pemilu demokratis pertama yang diadakan Indonesia pada tahun 1955, Masyumi adalah runner-up di belakang PNI partai Soekarno.

Al Irsyad kini dipimpin oleh Faisol bin Madi. Faisol terpilih menjadi ketua umum PP Al Irsyad untuk masa jabatan 2017-2022. Ia menggantikan Abdullah Djaidi pada kongres kepemimpinan Al Irsyad 2017 yang diadakan di Hotel Sahira Butik di Bogor, Jawa Barat. Kongres tersebut dibuka oleh Presiden Joko “Jokowi” Widodo, sedangkan Ketua PAN Zulkifli Hasan saat itu sebagai Ketua MPR menutup kongres tersebut. PAN adalah partai politik yang berafiliasi kuat dengan Muhammadiyah. Faisol adalah pengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Jember. Ia juga ketua himpunan alumni UIN Jember.

Sedangkan Fahmi Bahreisy adalah Ketua Umum PB Pemuda Al Irsyad, organisasi sayap pemuda Al Irsyad. Ia lulusan LIPIA Jakarta dan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Fahmi juga seorang dosen. Dia terdaftar di komite pengarah (SC) dari Asean Youth Leadership Foundation (AYLF).

PB Wanita Al Irsyad, organisasi sayap perempuan Al Irsyad, dipimpin oleh Fahimah Askar. Ia lulus dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), tempat ia memperoleh gelar sarjana di bidang Teknik Kimia.

Salah satu tokoh Al Irsyad yang terkenal adalah Abdurrahman Baswedan a.k.a A.R. Baswedan, almarhum kakek Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. A.R. Baswedan adalah seorang jurnalis, wakil menteri penerangan (1946-1947), dan pendiri Partai Arab Indonesia (Partai Arab Indonesia).

A.R. Baswedan menikah dengan Sjaichun, tetapi Sjaichun meninggal pada tahun 1948 karena malaria. A.R. Baswedan kemudian menikah dengan istri keduanya Barkah Ganis, seorang anggota keluarga Ganis, pada tahun 1950 di kediaman Ahmad Dahlan di Yogyakarta. Muhammad Natsir, salah satu tokoh kunci Partai Masyumi, adalah yang memimpin akad nikah.

Tokoh lain dari Al Irsyad yang patut disoroti adalah Sulaiman Ganis, yang kini menjadi sekretaris Dewan Syuro (dewan tertinggi) Al Irsyad. Dewan Syuro Al Irsyad dipimpin oleh Abdullah Jaidi. Bersama Abdullah Jaidi dan Sulaiman Ganis, ada Muhammad Noer, Lukman Mahfoedz, Abdullah Baharmuz, Mahzum Baisa, dan Husein Thalib di Dewan Syuro Al Irsyad.

Sulaiman Ganis juga orang Indonesia keturunan Arab. Ia adalah adik bungsu Ahmad Ganis, pemilik perusahaan minyak & gas PT Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS). RUIS, didirikan pada tahun 1984, merupakan anak perusahaan dari Radiant Utama Group. Ahmad Ganis juga merupakan pendiri Rumah Sakit Wanita & Anak Brawijaya (BWCH).

Bersama kakaknya Ahmad Ganis, Sulaiman menjabat sebagai komisaris PT Radiant Nusa Investama, pemegang saham mayoritas RUIS. Sulaiman juga menjabat sebagai komisaris PT Supraco Lines, anak perusahaan RUIS. Dia juga pendiri PT Tara Cell Intrabuana.

Sebelum menjabat sebagai sekretaris Dewan Syuro Al Irsyad, Sulaiman mengepalai departemen sosial & ekonomi Al Irsyad. Saat itu, dialah yang aktif mengumpulkan donasi untuk program sosial ekonomi Al Irsyad. Dengan bantuan PT Medco Energi E&P dan Koperasi Nusantara (koperasi pekerja Medco), misalnya, Al Irsyad menyalurkan paket Bantuan Sosial (Bansos) untuk korban banjir di Jakarta. Medco adalah perusahaan migas milik Arifin Panigoro yang juga keturunan Arab. Arifin, bersama mantan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie, adalah alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 1973. Adik Sulaiman, Ahmad Ganis, juga alumni ITB (angkatan 1961). (yosefardi.com)

Comment

News Feed