by

Spekulasi Resuffle Kabinet

-Nasional-70 views

DEPOK (eNBe Indonesi) – Kita mengantisipasi kemungkinan Presiden Joko “Jokowi” Widodo segera mengumumkan perombakan kabinet. Inti dari spekulasi adalah siapa yang akan diangkat sebagai Menteri Sosial yang baru dan Menteri Kelautan dan Perikanan yang baru untuk menggantikan Juliari P. Batubara dan Edhy Prabowo. Mengenai apakah Presiden akan membuat perombakan yang lebih besar dalam kabinetnya, waktu akan menjawabnya.

Rabu besok adalah hari istimewa bagi Presiden Jokowi. Presiden, seperti anda ketahui, lahir pada tanggal 21 Juni 1961, hari Rabu Pon menurut penanggalan Jawa. Bagi orang Jawa, hari lahir adalah hari yang sakral, penuh berkah. Mungkin, Jokowi memperhitungkannya.

Kebetulan, di masa jabatan pertamanya, perombakan kabinet pertama Jokowi diumumkan pada 12 Agustus 2015 sedangkan yang kedua dilakukannya pada 27 Juli 2016. Menariknya, baik 12 Agustus 2015 maupun 27 Juli 2016 adalah hari Rabu Pon. Patut dicatat bahwa dalam perombakan kabinet putaran pertama dan putaran kedua tersebut, Jokowi melakukan perubahan yang lebih bsar pada kabinetnya. Sedangkan di putaran ketiga tahun 2018 lalu, dia melakukan perubahan sebanyak tiga kali — pada 17 Januari, 15 Agustus, dan 24 Agustus. Semua tanggal itu bukan Rabu Pon. Namun pada putaran ketiga tersebut, Jokowi tidak melakukan perubahan yang lebih besar, tetapi terbatas hanya satu jabatan menteri.

Belajar dari pola tersebut, beberapa pihak berspekulasi bahwa jika Jokowi melakukan perombakan kabinet yang lebih besar, ia mungkin akan mengumumkannya pada Rabu Pon. Menariknya, Rabu Pon terdekat adalah pada 23 Desember 2020. Selain itu, kita akan bertemu lagi Rabu Pon tahun depan pada 27 Januari 2021. Tapi jika bukan perombakan kabinet yang lebih besar, hari pengumumannya bisa kapan saja.

Belajar dari masa lalu, Jokowi tidak pernah melakukan perubahan kabinet pada akhir tahun. Sebaliknya, Presiden sempat mengguncang kabinetnya pada awal tahun lalu pada 17 Januari 2018 seperti yang telah kami sebutkan di atas. Belajar dari itu, ada yang percaya bahwa Jokowi mungkin tidak akan melakukan perombakan kabinet yang lebih besar pada bulan ini, tetapi menunggu hingga awal tahun depan, mungkin, pada 27 Januari 2021.

Inti dari perombakan itu adalah siapa yang akan diangkat sebagai Menteri Sosial baru dan Menteri Kelautan & Perikanan yang baru menggantikan Juliari P. Batubara dan Edhy Prabowo. Banyak nama disebut-sebut sebagai calon potensial. Untuk penggantian Juliari, setidaknya ada empat nama dari PDIP yang disebut-sebut sebagai calon potensial. Mereka adalah Walikota Surabaya Tri Rismaharini yang populer, Djarot Saiful hidayat (mantan Gubernur Jakarta), Eriko Sotarduga, dan Sukur Nababan. Semuanya politisi PDIP. Apalagi Risma akan segera mengakhiri masa jabatannya sebagai Wali Kota Surabaya. Dia telah menjabat sebagai Walikota Surabaya selama dua periode. Dari empat calon potensial tersebut, Risma dikabarkan menjadi favorit.

Adapun pergantian Edhy Prabowo, banyak nama baik dari Gerindra maupun di luar Gerindra disebut-sebut sebagai calon potensial. Beberapa tokoh kunci Gerindra yang banyak disebut-sebut adalah Sandiaga Uno, Ahmad Muzani, Fadli Zon, dan Sufmi Dasco Ahmad. Sementara beberapa calon potensial dari luar Partai Gerindra yang disebut-sebut adalah pendahulu Edhy Susi Pudjiastuti, Safri Burhanuddin (Wakil Luhut di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman & Investasi), Nimmi Zulbainarni (penasihat Edhy Prabowo di Kementerian Kelautan & Perikanan, dan seorang dokter dari IPB), Arif Satria (Rektor IPB), Agus Suherman (mantan Direktur Jenderal Kementerian Kelautan & Perikanan di bawah Susi Pudjiastuti dan mantan Dirut BUMN Perindo), dan Zulficar Mochtar (mantan Dirjen Kelautan & Perikanan) Kementerian). Dari nama-nama tersebut, Sandiaga Uno dikabarkan menjadi favorit. Sandi, seperti kita ketahui, adalah calon wakil presiden Prabowo di Pilpres 2019.

Tapi yang jadi pertanyaan, apakah Jokowi akan tetap mempertahankan posisi Menteri Kelautan & Perikanan dan Menteri Sosial untuk Gerindra dan PDIP. Jika Jokowi memberikan satu atau kedua posisi kepada partai politik lain, maka akan terjadi pertukaran portofolio antar partai politik dalam koalisi yang berkuasa. Jika terjadi pertukaran semacam itu, hal itu bisa mengarah pada perombakan kabinet yang lebih besar.

Jika akan ada perombakan kabinet yang lebih besar, orang bertanya-tanya apakah itu juga akan memengaruhi beberapa menteri yang telah menjadi sasaran kritik selama berbulan-bulan. Seperti yang kita ketahui bersama, ada kelompok tertentu yang mengecam Menteri Kesehatan Letjen (Purn) dr. Terawan Agus Putranto, Menteri Agama Jenderal (Purn.) Fachrul Razi, Menteri Pendidikan & Kebudayaan Nadiem Makarim, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto, Menteri Pariwisata Wishnutama, Kepala Badan Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia, Jaksa Agung ST Burhanuddin, bahkan Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto. Beberapa dari menteri ini —-Terawan, Fahcrul Razi, dan Nadiem Makarim —- dikritik oleh pihak-pihak tertentu bahkan sebelum mereka mengambil sumpah. Beberapa kemungkinan akan mengambil kesempatan untuk mendorong Jokowi untuk memecat mereka dari kabinet. Tetapi mengingat pandemi COVID-19, beberapa orang mungkin bertanya-tanya apakah adil menilai kinerja para menteri.

Ada yang berspekulasi bahwa Budi Gunadi Sadikin, Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) saat ini, kemungkinan akan diangkat menjadi Menteri Kesehatan. Jika dikonfirmasi, ini akan menjadi kejutan terbesar karena kementerian tidak pernah dipimpin oleh seseorang tanpa latar belakang pendidikan kedokteran.

Jenderal (Purn.) Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman & Investasi, juga mendapat kritik keras dari pihak-pihak tertentu. Tapi mengingat Luhut adalah tangan kanan Presiden, kami pikir Luhut aman. Luhut adalah orang kepercayaan Jokowi. Jokowi tahu bahwa dia bisa mengandalkan Luhut untuk mendapatkan hasil. Memang, Luhut selalu mampu menjalankan misi yang diberikan Presiden kepadanya.

Pertanyaan lainnya, apakah reshuffle juga akan mempengaruhi suksesi Kapolri dan Panglima TNI. Panglima TNI Hadi Tjahjanto, seperti kita ketahui, sudah lama disebut-sebut sebagai calon menteri (mungkin urusan perhubungan menggantikan Budi Karya Sumadi) jika Jokowi merombak kabinetnya. Jika Jokowi menjadikan Panglima Hadi sebagai menteri, itu akan memicu suksesi awal di TNI. Dan jika perombakan terjadi bulan ini atau awal tahun depan, kemungkinan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Perkasa, yang merupakan menantu mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal (Purn). AM Hendropriyono, menjadi penerus Hadi memang tinggi. Namun jika tidak terjadi suksesi tahun ini atau awal tahun depan, peluang Andika menjadi Panglima TNI berikutnya akan sirna. Dalam konteks ini, Jokowi bisa saja mengangkat Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Yudo Margono sebagai Panglima TNI yang baru.

Adapun Kapolri, suksesi tak terelakkan karena Jenderal Idham Azis akan genap berusia 58 tahun pada 30 Januari 2021. Ia hanya memiliki waktu satu bulan dalam masa tugas aktif sebelum harus memasuki masa pensiun wajib. Memang, Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) menyatakan akan segera menyerahkan nama-nama calon Kapolri kepada Presiden Jokowi. Banyak nama dari kelompok jenderal polisi bintang tiga dan jenderal polisi bintang dua disebut-sebut sebagai calon Kapolri untuk menggantikan Idham Azis. Tetapi ada opsi yang mungkin dipilih Jokowi untuk memperpanjang masa jabatan Idham setidaknya satu tahun lagi. Namun, memperpanjang masa jabatan Idham dapat memicu perdebatan sengit yang dipelajari dari masa lalu ketika Jokowi berencana memperpanjang masa jabatan Badrodin Haiti. (yosefardi.com)

Comment

News Feed