by

Ekonomi & Resuffle Kabinet

-Nasional-62 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Perombakan kabinet akan disambut baik oleh dunia usaha karena enam menteri baru memiliki kualifikasi untuk mendukung upaya pemerintah mengakselerasi perekonomian tahun depan. Latar belakang para menteri tersebut, baik di bidang bisnis maupun politik, menjadi faktor utama dalam membangun kepercayaan kepada dunia usaha.

Sandiaga Uno sebagai menteri baru pariwisata dan ekonomi kreatif memiliki peran vital dalam mengatasi dampak pandemi COVID-19 di sektor pariwisata. Sandiaga memiliki pengalaman dalam urusan pemerintahan, politik, dan bisnis. Sandiaga diharapkan mampu memimpin ekonomi kreatif sebagai lokomotif penciptaan lapangan kerja di tengah perlambatan ekonomi global saat ini.

Menteri baru dinilai mudah berkolaborasi dan membangun sinergi antara pemerintah dan dunia usaha karena sudah lama menjalin hubungan baik. Menteri baru dapat segera bekerja dan beradaptasi dalam proses transisi singkat, kemudian mengambil langkah strategis di kementerian terkait, dan memperkuat kepercayaan investor dan dunia usaha terhadap prospek ekonomi nasional.

Muhammad Lutfi, Menteri Perdagangan yang baru, juga dinilai akan meningkatkan diplomasi perdagangan, kemudian akses ekspor akan ditingkatkan, utamanya diplomasi perdagangan dengan mitra dagang seperti Amerika Serikat, negara-negara Eropa, China dan Turki. Lutfi adalah mantan Menteri Perdagangan pada masa pemerintahan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), juga Duta Besar Jepang dan Amerika Serikat, dan Kepala Badan Penanaman Modal Indonesia (BKPM).

Budi Gunadi, sebagai menteri kesehatan yang baru, diharapkan memiliki pengetahuan dan kapasitas yang lebih baik dalam menangani pandemi COVID-19 di Tanah Air. Budi adalah mantan Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (SoE), Direktur Utama Inalum, dan Bank Mandiri.

Sementara itu Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati kembali merevisi penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi minus 2,2 hingga 1,7 persen pada tahun ini akibat tingginya tekanan pandemi COVID-19. Pada Agustus 2020, dia masih optimistis ekonomi nasional hanya akan mengalami kontraksi 1,1 hingga 0,1 persen. Sri Mulyani mencatat, pertumbuhan yang melandai karena lemahnya konsumsi rumah tangga dan daya beli masyarakat.

Japan Credit Rating Agency, Ltd. (JCR) mempertahankan sovereign credit rating Indonesia di BBB + dengan outlook stabil (investment grade), mencerminkan kepercayaan investor global tetap terjaga atas ketahanan ekonomi Indonesia di tengah pandemi COVID-19. JCR menegaskan peringkatnya untuk Indonesia, seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang solid, didukung oleh permintaan domestik.

Presiden Joko “Jokowi” Widodo juga optimistis perekonomian Tanah Air akan semakin cepat pulih pada tahun 2021 seiring dengan konsumsi masyarakat yang semakin membaik, sedangkan investasi diperkirakan akan tumbuh didukung oleh penerapan Omnibus Law Cipta Kerja.

Perbaikan ekonomi global, menurut bank sentral (Bank Indonesia / BI), telah berlangsung dan diproyeksikan akan meningkat pada tahun 2021. Penguatan ekonomi global terjadi di tengah meningkatnya mobilitas dan imbas dari stimulus kebijakan yang sedang berlangsung di berbagai negara, khususnya Amerika Serikat dan China.

Di dalam negeri, B.I. mengatakan pertumbuhan ekonomi domestik diperkirakan akan mendapatkan momentum dan akselerasi secara bertahap pada tahun 2021. Hal tersebut dikonfirmasi oleh beberapa indikator positif pada November 2020, antara lain meningkatnya mobilitas masyarakat di beberapa kawasan, perbaikan PMI Manufaktur yang berkelanjutan serta keyakinan dan ekspektasi konsumen yang semakin kuat terkait pendapatan, ketersediaan pekerjaan dan aktivitas bisnis.

Untuk tahun 2021, pemerintah memproyeksikan ekonomi tumbuh 4,5-5%, tergantung bagaimana dan seperti apa upaya penanganannya, pencegahan pandemi COVID-19 melalui penerapan disiplin kesehatan dan program vaksin. Pemerintah tahun depan akan fokus menangani pandemi COVID-19 dan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi.

Comment

News Feed