by

Pelaku Pedofil SPM: Hanya dihukum 5 tahun?

-Opini-164 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Besok (Rabu 6/1), majelis hakim pengadilan negeri Kota Depok dijadwalkan membacakan vonis atas SPM, pelaku pencabulan dan kekerasan seksual (predator pedofil) terhadap 23 anak misdinar (putra altar) di Gereja St Herkulanus, Depok, Jawa Barat.

SPM sudah dituntut penjara 11 tahun oleh jaksa penuntut umum, ditambah denda Rp.200.000.000,00 (dua ratus juta Rupiah) subsider kurungan 3 bulan, serta ganti rugi sekitar Rp.18.000.000,00 (delapan belas juta Rupiah) untuk 2 korban subsider 3 bulan kurungan. Ini tentu mengecewakan karena harapan agar SPM dituntut penjara minimal 20 tahun dengan pasal berlapis (UU Perlindungan Anak) telah sirna.

Apakah besok majelis hakim menjatuhkan vonis penjara 11 tahun untuk SPM? Sekiranya vonis penjara 11 tahun untuk SPM sudah sangat minimal, maka publik tidak mengharapkan vonis penjara untuk SPM lebih sedikit dari 11 tahun, apalagi hanya 5 tahun misalnya.

Sekedar info, proses pengadilan kasus SPM beberapa kali tertunda karena kuasa hukum terdakwa SPM tidak hadir, belum siap. Ini wajar karena SPM memang menggunakan hak hukumnya.

Orangtua, keluarga, korban dan umat gereja akhirnya tidak bisa mengikuti perkembangan proses sidang secara utuh. Bahkan pada titik kulminasi, mereka dalam ketakberdayaan berusaha memahami jika penundaan pembacaan vonis oleh majelis hakim pada 16 Desember 2020 lalu disebabkan oleh tidak hadirnya kuasa hukum terdakwa.

Majelis hakim, berdasarkan hukum acara, KUHAP, tidak dapat membacakan vonis hukuman jika tidak dihadiri kuasa hukum dua belah pihak. Jika dipaksakan, maka vonis itu akan batal demi hukum.

Administrasi dan beracara yang tak rapi bisa menjadi titik lemah kuasa hukum di mata majelis hakim di pengadilan.

Rini Tarigan, A.M.D., S.H., M.Kn

“Saya prihatin dan sungguh mengapresiasi orang tua sudah melaporkan perbuatan (SPM) ke pihak kepolisian. Kami harapkan negara melalui majelis hakim yang memeriksa perkara ini bisa memberi hukuman yang seberat-beratnya,” ujar Rini Tarigan, A.M.D., S.H., M.Kn, kuasa hukum saksi, Romo (RD) Yosep Sirilus Natet, Pastor Paroki Santo Herkulanus Depok, yang diwawancarai oleh Tim Redaksi pada 9 Desember 2020 lalu.

Rini berharap korban-korban yang lain berani bersuara (melapor), agar tidak muncul lagi kasus serupa. “Anak-anak harus semakin dilindungi, dan orangtua, keluarga yang baik tentu peduli pada generasi masa depan anak. Bagi para korban kita bersatu dan berdoa menyembuhkan mereka dan para saksi. Kita ingin siapapun yang bertugas di gereja, harus sehat rohani tapi juga sehat jiwa. Umat tidak perlu takut sampaikan hal-hal ini langsung ke pastor, agar tidak menjadi gosip.”

Romo (RD) Yosep Sirilus Natet, Pastor Paroki Gereja Santo Herkulanus Depok, berharap majelis hakim bisa melihat secara luas peristiwa yang terjadi, tidak sekadar menghadirkan korban anak-anak, tetapi menghadirkan perasaan tenang kepada anak-anak dan keluarga yang saat ini terluka.

“Kejahatan kekerasan seksual oleh terdakwa diyakini terjadi setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir. Jika tidak dihukum setimpal, kejahatan serupa bisa menimpa anak-anak lain. Selayaknya ada pertimbangan etis dan moral sebagai manusia agar bisa menjadi kebaikan untuk semuanya,” kata Romo Natet seperti dikutip kompas.com.

Romo Natet

Romo Natet pun berharap agar para korban dan orangtua korban, dalam terang kehidupan Yesus Kristus, memiliki kemampuan untuk keluar dari masalah paling berat ini. “Keputusan pengadilan terhadap pelaku semoga menjadi tonggak sejarah bagi hidup mereka dan anak-anaknya. Mereka merasa menang, tidak harus hanyut dalam kesedihan, cari kepastian hukum, cari keadilan. Ini juga pengajaran bagi anak-anak, bahwa apa yang dilakukan ada konsekuensinya.”

Salah satu orangtua korban mengaku jika kondisi psikis anaknya sudah berangsur-angsur pulih berkat dukungan banyak pihak, pastor paroki, suster, umat paroki, tim terapi, dan LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban). “Mohon dukungan doanya agar anak kami dan kami orangtua bisa menghadapi masalah ini,” ujarnya kepada Redaksi eNBe Indonesia belum lama ini.

Comment

News Feed