by

Sriwijaya Air & Masalahnya

-Profil-119 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Boeing 737 Sriwijaya Air jatuh ke laut pada Sabtu (9 Januari) menewaskan 50 penumpang dan 12 awak. Maskapai tersebut terbang dari Jakarta ke Pontianak, Kalimantan, namun sayangnya pesawat tersebut jatuh ke laut di Kepulauan Seribu, karena pesawat telah tua.

Sriwijaya tahun lalu dilaporkan menghadapi masalah dengan kemampuan keuangannya. Sejak November 2018, Sriwijaya dan NAM Air menjalin aliansi strategis (KSO) dengan Citilink, anak perusahaan Garuda Indonesia.

Sayangnya, perjanjian tersebut tidak menghasilkan kabar baik. Selain harus menghadapi pemeriksaan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) atas dugaan praktik serupa kartel dan kepemilikan silang, Sriwijaya Air juga kesulitan memenuhi persyaratan kelaikan terbang.

Pada tanggal 30 September 2019, Direktur Operasi Sriwijaya Capt. Fadjar Semiarto dan Direktur Teknis Ramdani Ardali Adang mengirimkan surat permohonan yang meminta Perseroan untuk menghentikan sementara operasional Sriwjaya Air Group, karena Perseroan dianggap tidak layak, dalam hal operasional, teknis, dan finansial. Berdasarkan hasil penilaian, identifikasi, dan penilaian risiko (HIRA), status Sriwijaya Air Group saat ini berada di zona merah atau berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan.

Sriwijaya Air telah menghentikan pengoperasian 18 pesawatnya karena dianggap tidak memenuhi syarat. Sriwijaya Air hanya memiliki 30 pesawat, artinya hanya 12 pesawat yang masih beroperasi sedangkan frekuensi terbang maskapai hanya 50 persen dari 245 rute yang dimiliki sebelumnya.

Sementara itu kuasa hukum Sriwijaya, Yusril Ihza Mahendra, mengungkapkan semula Sriwijaya beroperasi dengan manajemen sendiri, namun kini ditangani oleh Garuda Maintenance Facility Aeroasia (GMFI) sehingga biayanya semakin mahal. Apalagi, awak pesawat yang semula ditempatkan di asrama kini dipindahkan ke hotel. Hal ini justru membuat utang Sriwijaya Air semakin membengkak di bawah pengelolaan Garuda. Lebih lanjut, Yusril menjelaskan, melalui kerjasama ini, Garuda menerapkan management fee sebesar 50% dan bagi hasil sebesar 60% dari pendapatan kotor perseroan. Hal ini tentunya bisa membuat Sriwijaya Air bangkrut, ujarnya.

Garuda mengklaim bahwa Sriwijaya telah membukukan laba pada kuartal pertama (K1) 2019, berbalik dari kerugian Rp1,6 triliun pada 2018. Sriwijaya, sebaliknya, menghadapi risiko yang semakin besar seiring meningkatnya konflik kepentingan dengan GMFI. Jadi, kata Yusril, Sriwijaya saat ini sudah tidak mempercayai Garuda.

Comment

News Feed