by

Presiden Jokowi & Debut Vaksin

-Nasional-80 views

Presiden Joko “Jokowi” Widodo pagi ini telah disuntik vaksin Covid-19 (dosis pertama vaksin CoronaVac Sinovac) di Istana Merdeka, Jakarta, namun menghadapi risiko suhu tubuh yang begitu rendah (36,3 derajat celcius), di bawah normal 36,5- 37.2, tulis rri.co.id. Jadi, Tim Dokter Kepresidenan masih menunggu di Istana untuk melihat dampak pasca vaksinasi terhadap presiden.

Penyuntikan vaksin kepada Jokowi ini merupakan debut program vaksinasi nasional. Kelompok prioritas pertama (penerima) adalah tenaga kesehatan, tenaga pendamping kesehatan, tenaga penunjang yang bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan, TNI/Polri, aparat hukum, dan aparat layanan publik lainnya.

Ada harapan vaksin yang akan diberikan kepada penerima yang ditargetkan secara gratis, dapat membantu negara mengendalikan penyebaran COVID-19 dan mempercepat pemulihan ekonominya, tulis yosefardi.com.

Di akun Facebook-nya, Jokowi menyatakan bersedia menjadi penerima vaksin pertama; Bukan karena ingin diutamakan, melainkan karena ingin meyakinkan masyarakat bahwa vaksin itu aman dan halal. Banyak yang memuji keberanian Jokowi dan inisiatifnya untuk mengajak masyarakat berpartisipasi dalam program vaksinasi. Namun, yang lainnya mengkhawatirkan Presiden. Jika sesuatu terjadi pada Jokowi setelah vaksinasi, pergolakan politik akan menyusul. Lagi pula, orang berharap vaksinasi berjalan lancar dengan Presiden tetap sehat dan aman.

Program vaksinasi COVID-19 di Indonesia kini dapat dimulai setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan Otorisasi Penggunaan Darurat untuk vaksin CoronaVac Sinovac pada Senin (11 Januari). Di hari yang sama, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan sertifikasi halal untuk vaksin tersebut. Sejauh ini, baru Sinovac China yang telah memberi komitmen dan akses ke vaksinnya bagi Indonesia.

Pemerintah masih berupaya mengakses vaksin yang diproduksi oleh Pfizer (USA), AstraZeneca (UK), dan lainnya. Vaksin Pfizer dan AstraZeneca dibutuhkan untuk vaksinasi lansia (di atas 60 tahun). Pemerintah diharapkan mengamankan vaksin Pfizer dan AstraZeneca pada Maret atau April 2021.

Masalahnya, masih belum ada kesepakatan antara Pemerintah dengan Pfizer dan produsen lain. Pfizer menuntut klausul yang membebaskannya dari konsekuensi hukum jika ada masalah selama vaksinasi di Indonesia. Mungkin inilah alasan mengapa Pemerintah melanjutkan program vaksinasi Sinovac untuk tahap pertama program vaksinasi.

Perlu juga disebutkan bahwa Pemerintah sedang bekerja untuk mengembangkan apa yang disebut sebagai vaksin Merah Putih (Merah Putih), vaksin yang sepenuhnya dikembangkan oleh Indonesia. Vaksin merah putih ini sedang dikembangkan oleh konsorsium yang terdiri dari perusahaan farmasi negara Bio Farma, Kementerian Riset & Teknologi, Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, BPPT, LIPI, BPOM, dan beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Menteri Riset & Teknologi Bambang Brodjonegoro sebelumnya mengatakan sekitar Rp280 miliar akan dialokasikan pada 2021 untuk pengembangan vaksin Merah Putih.

Program vaksinasi COVID-19 nasional merupakan langkah penting untuk mengendalikan penyebaran COVID-19. Untuk mencapai tujuannya, pemerintah daerah dan masyarakat harus bekerja sama. Namun, sebagaimana kita ketahui bersama, sebagian masih menolak vaksinasi karena alasan tertentu, termasuk keamanan.

Comment

News Feed