by

JAGA IDENTITAS,  GEMBALA YANG SALEH

-Opini-95 views

Oleh Yohanes Don Bosco Do, Tokoh Umat*)

Pertama-tama, mari kita doakan orang tua, kakek nenek, kakak adik para imam yang ditahbiskan hari ini. Mereka sudah membesarkan anak-anaknya yang hari ini diberikan kepada umat ssebagai gembala. Saya ajak kita untuk kenangkan juga para guru, dosen pembimbing selama mereka melaksanakan tahun orientasi pastoral (TOP). Juga umat sekalian yang sudah membentuk mereka hingga sampai pada tahap layak ditahbiskan. Kita doakan mereka semua yang sudah meninggal.

IMAM MILENIAL

Menjadi imam milenial abad ke-21, punya tantangan tersendiri. Para imam ini mengalami baik diri maupun umat yang dilayani kemudahan dalam hidup terutama melalui teknologi komunikasi dan informasi. Peran imam mewakili gereja atau agama tidak berubah dari zaman ke zaman. Peran baik masalah teknis yang dihadapi dunia maupun masalah policy/kebijakan dan identitas, tidak berubah. Yang berubah adalah pola keterlibatan.

Yang Mulia bapak Uskup sudah tegas. Banyak urusan teknis maupun kebijakan, sudah bisa diambil alih oleh umat. Fokus para imam adalah pada masalah identitas. Ketika menyelesaikan masalah teknis tentang distribusi sumber daya maupun kewenangan, imam terlibat di sana untuk memastikan apakah itu dijalankan seusai dengan identitas kita sebagaimana telah disampaiakan Guru, Nabi dan Tuhan Yesus Kristus.

Dalam masalah kebijakan, para imam terlibat ddalam menyaring, memberi masukan kepada pemimpin pada setiap level, agar kebijakan yang diambil benar-benar berguna bagi banyak orang, terutama yang oleh Yesus Kristus sendiri mengidentikkan Diri dengan mereka yang dipenjara, yang di pengungsian, miskin, dsb.

Dengan demikian, persoalan kita saat ini adalah bagaimana dari waktu ke waktu, menjadikan diri kalian semakin pantas pada peran gembala, peran pemimpin umat. Dalam abad 21 ini, imam tidak menjadi satu-satunya sumber umat mendapatkan sabda atau khotbah. Melalui alat yang namanya HP, umat bisa mengakses kotbah terbaik dunia, termasuk interpretasi bacaaan.

Lalu apa peran imam dalam hal ini? IT menyediakan kemudahan, tawaran informasi bagaikan banjir memasuki ruang-ruang privat umat.  Imam dalam panggilannya kita harapkan menjadi penapis, membagi klarifikasi. Dalam masa covid, kita saksikan beberapa imam menyampaikan pesannya melalui berbagai media sosial. Kita berharap imam milenial mengasah diri dengan keterampilan menggunakan alat-alat ini dalam merasul. Sekaligus juga, imam menjadi teladan bagaimana menggunakan alat-alat ini dengan bijak.

Peristiwa hari ini bukan sebuah kebetulan. Kita merayakan pesta tahbisan yang biasanya selama ini hingar bingar. Tapi hari ini kita malah tidak lihat tanda-tanda bahwa ada peristiwa besar. Hampir biasa saja. Masyarakat melakukan kehidupan sehari-hari seperti biasanya. Tidak ada yang istimewa.

Tapi saya pikir, kita sepakat, bahwa tahbisan hari ini secara pribadi saya mengalami kekhusyukan kita untuk menikmati, mengikuti setiap detail dan makna upacara ini. Sangat terasa bagaimana tahbisan ini menggabungkan betul antara yang Ilahi dan yang duniawi.

Ada barisan banyak orang mengantar. Mulai dari keluarga, ibu bapanya. Ini membangkitkan sebuah harapan bersama, bahwa kekhusyukan acara yang kita alami hari ini adalah sebuah acara ritual yang mudah-mudahan membawa kesan yang membekas bagi kita semua. Kesan tidak berhenti begitu saja. Kita bawakan dalam doa dan dukungan kita bagi mereka berlima.

Bagi 5 imam baru yang ditahbiskan. Dalam era di mana informasi berseliwerang, HP hampir tak terpisahkan dari kita. Saya mewakili umat, juga sebagai orang tua, mengajak para imam ini. Bahwa kalian atau di atas bahu kalian, ada beban besar utk bersama umat membangun ketahanan/resilience untuk tidak tergoda pada semua tawaran yang datang bertubi-tubi. Seperti teladan Kristus, perlu waktu berteduh, waktu untuk kontemplasi. Tidak semua waktu dipakai untuk berjumpa dengan kami. Ini semua untuk bangun sebuah kehidupan yang saleh. Umat pada abad 21 ini, butuh keteladanan pemimpin, gembala yang saleh.

*) Sambutan Bupati Yohanes Don Bosco Do, Bupati Nagekeo pada Perayaan Misa Tahbisan 5 imam baru, di Gereja Centrum Danga pada Rabu, 13 Januari 2021.

***

Misa Tahbisan dengan penerapan protokol kesehatan pencegahan covid-19 secara tegas dan konsukuen. Bangku tempat duduk diatur jarak 1 meter, masing-masing duduk sesuai nomor bangku.

“Yang tidak pakai masker, pulang.  Selesai misa, langsung keluar satu persatu, ambil snack di meja pada pintu gerbang keluar dan langsung kembali ke rumah masing-masing. Tidak boleh ada kerumunan…”
tegas Drs. Lukas Mere selaku ketua panitia misa tahbisan.

“Harus disiplin benar penerapan protkes covid-19. Jangan sampai muncul kasus covid kluster tahbisan!” pesan Bapa Uskup, Mgr Vincensius Sensi Potokota.

“Saat misa tahbisan, protokol kesehatan terpantau tertib dan tegas penerapannya. Kita menanti, ketegasan yang sama saat MISA PERTAMA di masing-masing keluarga Imam Baru nanti.  Panitia Keluarga diingatkan akan tanggung jawab protkes covid-19. Menciptakan kerumunan, ada pasal pidananya. Ingat! COVID MASIH MENJADI ANCAMAN SERIUS,” tegas Silvester Teda Sada dari Satgas Covid Nagekeo bidang Kehumasan.

Comment

News Feed