by

ASN wajib pakai sarung tenun, ada yang salah kaprah

-Budaya-226 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat mewajibkan ASN (aparatur sipil negara) mengenakan sarung atau kain tenun pada Selasa dan Jumat, bertujuan untuk mempromosikan tenun ikat paling kaya ke dunia, juga untuk menggenjot pendapatan penenun.

Gerakan atau program pemakaian sarung tenun kemudian akan mendongkrak permintaan akan tenun, sehingga berdampak langsung pada pendapatan yang lebih baik bagi penenun. Pemerintah Indonesia juga memiliki perhatian pada tenun sebagai bagian dari program ekonomi kreatif, khususnya ekonomi berbasis seni dan budaya.

Viktor mengungkapkan, sarung tenun NTT tidak hanya dilihat sebagai produk kerajinan tangan, tetapi merupakan manifetasi karya intelektual leluhur yang luar biasa. Jadi perlu dilestarikan dan dipromosikan ke dunia.

Giorgio Babo Moggi

Giorgio Babo Moggi, ASN di kantor gubernur Kupang, mendukung peraturan gubernur tentang pakaian adat, namun dia menyaksikan beberapa rekannya pernah salah memakai sarung tenun.

Menurutnya, sebagian ASN masih kurang paham tentang sarung, mana hanya diperuntukkan bagi laki-laki atau untuk perempuan, serta tata cara pemakaian sarung tersebut. “Sebenarnya sarung tenun itu kompleks. ASN harus meningkatkan pengetahuan tentang makna, nilai, dan tata cara memakai sarung tenun, ”kata Giorgio seperti dikutip mosalaki.com hari ini.

Mengingat sarung tenun memiliki nilai yang kaya, maka akan membuka peluang bagi perekonomian, memberi kontribusi yang besar bagi perkembangan pariwisata di NTT dan negara ini, tambah Giorgio. “Wisata budaya kini menjadi industri pariwisata yang trending di abad ini, dan provinsi NTT memiliki potensi ekonomi kreatif berbasis budaya.”

Sementara itu, clothroads.com melaporkan bahwa di pulau-pulau terpencil di Flores, Lembata, Alor, Timor, Sabu, dan Sumba, para wanita masih memintal kapas secara mandiri, menyiapkan pewarna alami nila dan mengkudu, dan menenun dengan alat tenun tradisional.

“Pulau-pulau yang terjauh dan kaya budaya ini menawarkan beberapa tenun ikat paling beragam di dunia. Mengingat perambahan dunia modern, pertanyaannya tentu seberapa lama mereka akan bertahan – mungkin satu generasi.”

Comment

News Feed