by

Buronan Kasus Korupsi Bank NTT Ditangkap

DEPOK (eNBe Indonesia) – Seorang buronan kasus tindak pidana korupsi Bank NTT cabang Jawa Timur bernama Dewi Susiana Efendy, ditangkap tim tangkap buronan (Tabur) Kejaksaan Agung, Selasa 19 Januari 2021 pukul 12:00 WIB.

Penangkapan ini berkat kerja sama tim Tabur Kejaksaan Agung bersama Tim Tabur Kejaksaan Tinggi (Kejati) Nusa Tenggara Timur dan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur.

“Tersangka ditangkap di Jalan Valencia AA 6 nomor 18 Gedangan Kota Sidoarjo Jawa Timur,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Leonard Eben Ezer Simanjuntak, Selasa (19/1).

Dijelaskannya, tersangka merupakan Daftar Pencarian Orang (DPO) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Nusa Tenggara Timur.

Adapun identitas sebagai berikut:

  • Nama Lengkap : Dewi Susiana Efendy
  • Tempat Lahir : Surabaya
  • Tanggal Lahir : 27 Maret 1975.
  • Jenis Kelamin : Perempuan
  • Kewarganegaraan : Indonesia
  • Tempat Tinggal : PSJ, Taman Vancouver J7 No. 33 RT 002 RW 009 Kel. Ketajen Kec. Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur
  • Agama : Kristen
  • Pekerjaan : Wiraswasta

Menurut Leo, akibat perbuatan tersangka Dewi Susiana Effendy negara dirugikan kebih dari Rp128 milyar.

“Bahwa penyidikan dugaan tindak pidana korupsi atas nama DEWI SUSIANA EFFENDY, berdasarkan Surat Perintah Penyidikan Kepala Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Print-01/N3/Fd1/01/2020 tanggal 16 Januari 2020 dan Surat Perintah Penyidikan Kepala Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur Nomor Print-02/N.3/Fd.1/06/2020 tanggal 8 Juni 2020, dalam perkara Tindak Pidana Korupsi Pemberian Fasilitas Kredit Modal Kerja pada Bank NTT Kantor Cabang Surabaya yang berdasarkan penghitungan oleh BPKP mengakibatkan kerugiaan Negara sebesar Rp. 128.000.000.000 (seratus dua puluh delapan miliar rupiah),” terang Leo.

Menurutnya, Kejaksaan Agung untuk tahun 2021 telah berhasil mengamankan 16 orang yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Kejaksaan. Melalui program Tabur (Tangkap Buron) Kejaksaan.

“Kami mengimbau kembali kepada seluruh dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Kejaksaan untuk segera menyerahkan diri dan mempertanggungjawabkan perbuatannya karena tidak ada tempat yang aman bagi dalam Daftar Pencarian Orang (DPO), “pungkasnya. (rri.co.id)

Comment

News Feed