by

Optimisme kredit perbankan

-Ekonomi-88 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Berdasarkan survei terbaru, Bank Indonesia (BI) menunjukkan pertumbuhan kredit baru yang lebih cepat yang disalurkan oleh industri perbankan pada kuartal I 2021. Responden meyakini kredit modal kerja, diikuti dengan kredit investasi dan kredit konsumer, dapat mendorong pertumbuhan pinjaman baru yang disalurkan oleh industri perbankan. Sementara itu, pertumbuhan kredit pada triwulan IV 2020 tertahan dipengaruhi oleh kredit investasi.

Responden memperkirakan kebijakan kredit yang kurang ketat pada triwulan I 2021 tercermin pada penurunan indeks standar kredit menjadi 0,4% dari 3,2% pada periode sebelumnya. Survei terbaru juga menggambarkan optimisme responden terhadap pertumbuhan kredit di tahun 2021 sekitar 7,3% secara tahunan (yoy) sejalan dengan kondisi moneter dan ekonomi serta risiko kredit yang relatif terkendali.

Kredit baru berdasarkan sektor sebagian besar akan disalurkan ke pertanian, perburuan dan kehutanan, transportasi, gudang, dan komunikasi. Penyaluran kredit baru untuk konsumsi akan difokuskan pada perumahan dan apartemen, segmen multiguna, dan otomotif.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga memprediksi penyaluran kredit baru tumbuh 7,5% plus minus 1% tahun ini, dan BI menargetkan pertumbuhan 7-9%. Perbankan nasional proyeksikan pertumbuhan pinjaman sebesar 6-7% tahun ini.

Sementara itu, suku bunga kredit diperkirakan turun secara bertahap tahun ini hingga semester pertama 2022. Pada Oktober 2020, suku bunga kredit untuk modal kerja mencapai 9,38%, investasi 9,01%, dan konsumsi 11,05%. Pemotongan suku bunga acuan BI menjadi 3,75% akan mengurangi biaya dana bank.

OJK mengimbau perbankan untuk tetap menjaga mitigasi risiko tahun ini, karena ketidakpastian yang masih tinggi seiring dengan pemulihan ekonomi yang terus berlanjut. Akibat dampak pandemi COVID-19, bank tahun lalu terpaksa merestrukturisasi pinjaman dan operasinya.

Bank perlu memiliki model bisnis baru, tetapi terkendali dan relevan dengan situasi saat ini dengan era normal baru, membantu mendorong pertumbuhan ekonomi. Per 30 November 2020, restrukturisasi kredit mencapai Rp951,2 triliun untuk 7,53 juta debitur. Bank juga perlu meningkatkan kapasitas digitalnya untuk transaksi bisnis melalui platform digital.

OJK juga melaporkan, perbankan meningkatkan alokasi dana sebagai cadangan kerugian akibat pemotongan valuasi untuk mengantisipasi dampak pandemi COVID-19 tahun lalu. Per Oktober 2020, perbankan nasional mencatat penurunan laba bersih sebesar 29,16% menjadi Rp92,64 triliun dari Rp130,77 triliun pada periode yang sama tahun 2019.

Comment

News Feed