by

Hakekat Literasi dan Romantika Nagekeo Bersatu

Kupang (eNBe indonesia) – Sejak kapan manusia berliterasi? Sebuah pertanyaan sederhana. Kesederhanaan itu tak membuat pertanyaan ini langsung mudah dijawab. Tapi, pertanyaan ini  penting untuk diajukan guna menelusuri jejak permulaan kemampuan manusia membaca dan menulis.

Kemampuan membaca dan menulis, dalam bahasa Latin, disebut “literatus”.  Namun, dalam konteks yang luas dan “sedikit menyimpang”, literasi dapat diartikan  sebagai kemampuan membaca, menulis, berbicara dan mendengar.

Hemat kata, aktivitas literasi melibatkan empat kemampuan ini; membaca (reading), menulis (writing), berbicara (speaking) dan mendengar (listening). Pembaca yang baik akan membentuk penulis yang hebat, pembicara yang ulung dan pendengar yang setia.

Penulis sejati, ia pasti membaca, mampu berbicara dan mendengar. Pembicara yang hebat lahir dari kebiasaan membaca, menulis dan mendengar.

Dan, darimana seseorang  mampu berbicara sesuatu jika tak bersumber dari apa yang dibaca, didengar dan yang ditulis – meskipun dalam konsep di benaknya.

Sedangkan pendengar yang baik, ia akan menjadi pembicara yang baik, penulis yang ulet dan pembicara yang super.

Namun,  kemampuan membaca, menulis, berbicara dan mendengar tidak terjadi begitu saja tanpa adanya media atau perantara.

Bagaimana seseorang ingin membaca sesuatu kalau tanpa ada media yang menyajikan bacaan? Bagaimana mungkin seseorang akan menulis jika tidak tersedia wadah yang tepat untuk menulis? Bagaimana orang berbicara jika tidak tersalur pada media yang tepat? Atau, dimanakah ruang yang tepat untuk ‘mendengar’ suara-suara dari luar jika tanpa media yang memediasinya?

Apa artinya? Ketrampilan literasi itu terasa jika ada wadah atau ruang untuk mengekspresikan empat kemampuan yang disebutkan diatas. Nagekeo Bersatu adalah wadah yang berangkat dari konteks pertanyaan di atas. Bermula dari sebuah group facebook lalu menjelma pertemuan-pertemuan secara peorangan atau berkelompok hingga pengembangan media online.

Dalam perjalanannya, Nagekeo Bersatu menjadi ruang maya yang mempertemukan orang-orang Nagekeo dari berbagai latar belakang suku, agama, profesi serta tingkat kemampuan. Semua berbaur dalam diskusi, debat dan polemik tanpa kesimpulan akhir. Pada dasarnya, itulah tujuan. Orang bebas menyimpulkan dengan cara yang berbeda asalkan tetap merawat persatuan dan kesatuan.

Dengan kata lain, Nagekeo Bersatu menjadi ruang maya bagi anggota-anggotanya “berliterasi” – sebagaimana defenisi literasi di atas. Ada yang membangun opini dan merawatnya dari gempuran lawan-lawannya. Ada yang “berbicara” – dalam arti dengan menanggapi melalui saluran komentar. Ada mereka yang “mendengar” (pembaca pasif) dan meresapinya tanpa menanggapi sedikitpun. Ada yang “mendengar” (pembaca aktif). Mereka mengikuti setiap perkembangan dalam group, terlibat dalam pembicaraan atau perdebatan bahkan menulis opini untuk melakukan counter attack.

Diakui, mengulas romantika Nagekeo Bersatu tak cukup dalam selembar kertas, berhalaman-halaman web atau jutaan deretan aksara. Nostalgia Nagekeo Bersatu hanya bisa dirasakan sepanjang usia mereka yang pernah melewatinya. Tak bisa hanya pada satu titik perhentian.

Perjalanan panjang dilalui. Dinamika mewarnainya. Nagekeo Bersatu t’lah melewatinya dan tumbuh dalam dinamika dan romantisme yang melahirkan media eNBeindonesia.com.

Logo eNBeindonesia (Dok. eNBe)

Kehadiran eNBeindonesia hanya sebuah metamorfosis group Facebook Nagekeo Bersatu. Perubahan wujud atau bentuk. Atau, dalam istilah kerennya, perubahan platform  dari media sosial ke media online. Toh, apapun wujudnya, tetap menjadi rumah anggota Nagekeo Bersatu bernaung, bergumul dan berdialetika.

Bahwa ada perbedaan, itu realitas yang tak dapat diingkari. Menolak perbedaan bukan langkah yang bijak. Perbedaan tak berarti meniadakan persatuan. Persatuan tak sertamerta meleburkan perbedaan. Karena itu, pemilihan Peo, simbol pemersatu, dalam tradisi dan adat Nagekeo, menegaskan persatuan dan kesatuan menjadi roh eNBeindonesia. Bahwa setiap orang memiliki sudut pandang yang saling bertolak belakang dan respon beragam nada terhadap setiap gagasan. Inilah warna dari kumpulan entitas eNBeindonesia.

Peo harus berpijak pada landasan yang kokoh. Landasan segitiga sama kaki menunggambarkan kedudukan eNBeindonesia. Tak tergoyahkan. Disapu badai sekalipun!

Buku adalah simbol literasi. Berbicara literasi tak terlepas dari buku. Artinya, buku yang bergaris hijau menegaskan bahwa literasi; membaca, menulis, berbicara dan mendengar sepanjang hayat dikandung badan. Dan, membaca (buku) menjadi akar tiga ketrampilan lain yakni menulis, berbicara dan mendengar. Dalam konteks yang konkrit, buku di sini adalah media eNBeindonesia. eNBeindoensia harus terus hidup. Hidup yang produktif. Menghasilkan karya-karya bermutu.

Sedangkan bintang di atas buku, menggambarkan visi atau tujuan. eNBeindonesia pasti memiliki visi yang besar dan jauh kedepan. Tak sekedar visi yang instan dan insidental. Visi harus abadi dan menghidupi. Menghidupi dengan memberi warna, menciptakan suasana dan memperkaya satu sama lain dengan pengetahuan.

Visi yang besar dapat terwujud atau dapat pula tidak tercapai. Itu semua sangat bergantung pada landasan yang kokoh. Sebagaimana disinggung sebelumnya, Nagekeo Bersatu lahir dari keberagaman maka semangat itu pula yang tercermin dalam 5 bunga kuning di kaki Peo. Lima dasar falsafah Pancasila sebagai pilar pemersatu selain Peo itu sendiri.

eNBeindonesia mau menegakkan pilar itu sebagai perwujudan spirit keberadaannya di tengah gempuran media online yang tumbuh subur seperti jamur di musim hujan. Pada akhirnya, eNBeindonesia tampil sebagai media online yang berjaya (Peo berawarna kuning) dalam tugas perwataan yang berdampak pada bonnum commune. Kejayaan, kemakmuran dan kegembiraan adalah harapan yang menjadi tujuan (goal) atau visi (vision) eNBeindonesia.

Kembali pada pertanyaan di alinea pertama di atas; sejak kapan manusia berliterasi? Jawabannya, sejak manusia masih dalam kandungan. Rahim seorang ibu menjadi ruang berliterasi ibu dan anaknya. Pandangan dapat diterima jika literasi yang dimaksudkan terdiri 4 ketrampilan yakni membaca, menulis, berbicara dan mendengar. Hakekat literasi demikian adanya, apalagi eNBeindonesia. Ia harus menjadi pelopor, penggerak dan media berliterasi yang sesungguhnya.

Dan sang penggagas, Hans Obor, telah meletakan eNBeindonesia pada relnya. Media yang merawat keberagaman. Tumbuh dan berkembang mengikuti jaman. Bepegang teguh pada prinsip leluhur dari nilai-nilai Peo sebagai simbol pemersatu. Tentu saja, eNBe menjadi “obor” literasi dari Flobamora untuk Indonesia bahkan dunia.

Selamat menikmati suguhan eNBeindonesia.com – Flobamora dalam berita. *

Kupang, 23 Januari 2021

Giorgio Babo Moggi, pegiat media online.

Comment

News Feed