by

Singapura, investasi terbesar di Indonesia

DEPOK (eNBe Indonesia) – Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan pada Senin (25/1) bahwa investasi asing langsung ke Indonesia meningkat 5,5% year-on-year (y/y) menjadi Rp111,1 triliun (US$7,92 miliar) pada kuartal empat tahun 2020, terkecil dalam tiga kuartal, setelah kenaikan 1,1% di periode sebelumnya.

Singapura dan Cina kecuali Hong Kong termasuk di antara sumber utama investasi. Investasi dari Singapura mencapai US$9,8 miliar dan investasi dari China mencapai US$4,8 miliar.

Transportasi, pergudangan dan telekomunikasi dan utilitas termasuk di antara sektor-sektor yang menerima manfaat. Untuk tahun 2020, total investasi mencapai Rp412 triliun, turun 2,4% dari 2019, karena investor menunda keputusan bisnis akibat pandemi virus corona.

Kepala BPKM Bahlil Lahadalia mengatakan pada kuartal keempat tahun 2020, vaksinasi sudah dimulai dan disahkannya omnibus law memberikan kepercayaan bagi investor asing. Sedangkan investasi dalam negeri mencapai Rp103,6 triliun pada kuartal empat tahun lalu. Total investasi tumbuh 3% y/y dan 2,7% kuartal ke kuartal (q/q), dan menyerap 294.780 pekerja.

BPKM menargetkan investasi mencapai Rp817,2 triliun untuk tahun 2020, sedangkan realisasinya melebihi target tersebut, yakni sebesar Rp826,2 triliun, dan menyerap 1,15 juta tenaga kerja pada 153.349 proyek investasi.

Investasi dalam negeri tumbuh 7% menjadi Rp413,5 triliun pada tahun 2020, mewakili 50,1% dari total investasi tahun lalu, dipimpin oleh transportasi, gudang, telekomunikasi, listrik, air, dan gas. Investasi pada transportasi-gudang-telekomunikasi mencapai Rp144,8 triliun sedangkan investasi listrik-air-gas mencapai Rp102 triliun.

Menariknya, investasi di luar pulau Jawa tumbuh 11,3% y/y menjadi Rp417,5 triliun, sedangkan investasi di pulau Jawa turun 5,9% menjadi Rp408,8 triliun, karena pemerintah mendorong proyek infrastruktur di luar Jawa.

Investasi untuk Sumatera mencapai Rp200,7 triliun (24,3% dari total investasi nasional), Sulawesi Rp71,8 triliun (8,7%), Kalimantan Rp68,8 triliun (8,3%), Maluku dan Papua Rp51,3 triliun (6,2%), Bali & Nusa Tenggara Rp24,8 triliun (3%). Investasi asing untuk Jawa pada tahun 2020 mencapai US$13,50 miliar, Sumatera US$6,19 miliar, Sulawesi US$3,51 miliar, Maluku-Papua US$3,16 miliar, Kalimantan US$1,62 miliar, Bali-Nusa Tenggara US$676,6 juta.

Untuk 2021, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mematok target investasi Rp855,8 triliun, naik dari target Rp817,2 triliun pada 2020. Sedangkan Presiden Joko “Jokowi” Widodo menargetkan investasi Rp900 triliun tahun ini. BKPM menargetkan investasi tersebut akan menyerap 1,3 juta tenaga kerja tahun ini.

Untuk mendukung target investasi tahun ini, pemerintah berencana merevisi daftar negatif dan lebih terbuka kepada investor asing. Berbagai insentif yang disiapkan dalam negeri bagi pelaku pertambangan, migas untuk mendukung proyek hilir dan mendorong produksi nasional. Pemerintah menargetkan produksi satu juta barel per hari (bph) minyak dan gas dan sekitar 12 miliar kaki kubik gas per hari atau 3,2 juta barel setara minyak per hari pada 2030.

Sementara Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, Otoritas Investasi Indonesia (INA) akan membentuk induk, sub Dana dan perusahaan patungan untuk melaksanakan rencana strategis investasi sovereign wealth fund. Sebagian besar dana, jelasnya, akan diinvestasikan pada proyek brown field yang sudah memiliki aliran pendapatan seperti jalan tol, bandara, dan pelabuhan.

Seperti diberitakan, pemerintah telah menyuntikkan modal Rp15 triliun (US$1,07 miliar) di BUMN baru tersebut, yang bersumber dari APBN sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Penciptaan Lapangan Kerja. Untuk menambah kapasitas investasi INA, pemerintah berkomitmen menambah modal lembaga hingga Rp75 triliun secara bertahap hingga akhir tahun ini.

Comment

News Feed