by

Belajar dari Kepemimpinan Messi

-Pojok GBM-160 views

Giorgio Babo Mogi“…Ada bermacam-macam tipe pemimpin. Ketika situasi sedang sulit, Messi akan muncul. Dan ia mengerjakan dengan baik tugas kepemimpinan di saat sulit itu empat tahun lamanya. Kepemimpinannya adalah kepemimpinan yang diam. Dalam pergolakan, ia selalu maju ke depan…” (Pep Gurdiola, Mantan Pelatih Barcelona)

Bulan Maret 2013 adalah bulan monumental kebangkitan Barcelona setelah mengalami kekalahan beruntun dari AC Milan pada Leg Pertama Liga Champion dan Duel El Classico menghadapi Real Madrid. Barcelona bangkit digdaya menuntaskan dendam pada AC Milan di kandang. Sang megabintang, Lionel Messi, sosok di balik ‘pembantaian’ yang berderai air mata lawan dan fans.

Messi menjadi sosok yang mencuri perhatian miliaran penduduk dunia. Ia bangkit menjadi inspirator kemenangan dengan menghujan AC Milan tanpa balas. Ia menjadi ‘nyawa’ Barcelona. Intelegensi dan ketrampilan sepak bola serta sederet prestasi klub dan individu menghantarnya pada penguasa tahta pemain sepak bola sejagat.

Namun, Messi juga seorang manusia. Jatuh bangun sepanjang perjalanan karirnya. Kekalahan beruntun pada leg pertama Champion Legaue berhadapan dengan AC Milan dan Duel El Classico menjadi titik nadir terendah keterperukuan La Pulga. Dentuman kritik berkecamuk. Lagi-lagi, Messi menjadi sasaran tembakan kritik tersebut. Segudang prestasi yang dimiliki tidak sebanding dengan pencapaian Barcelona saat itu.

Ia sadar, ia dan Barcelona sedang berada di puncak. Semakin tinggi puncak pencapaian, semakin kencang tiupan anginnya. Messi tenang menghadapi segala kritikan. Secara dingin membalas para pengkritik dengan mengutip ucapan sang mantan pelatihnya, Pep Gurdiola.

“Ketika sebuah tim selalu menang, orang bosan dan ingin tim lain yang meraih kemenangan dan karena alasan itu, mereka ingin kami kalah.”

Messi menghargai segala kritikan. Tetapi ia lebih mementingkan untuk evaluasi tim tanpa mengkambing hitamkan pihak lain. Biarkan mereka mengkritik karena mereka memiliki alasan untuk itu. Berpikir positif merupakan hal yang lebih penting daripada menanggapi segala kritikan.

“Ada banyak alasan kenapa mereka tak ingin kami menang. Saya tak pernah memikirkan itu dan aku tak tertarik akan hal itu juga. Aku tahu ada banyak orang yang berharap kami kalah, tetapi kami tak berpikir soal mereka.”

Dalam kehidupan seharian, para pemimpin sering berhadapan terpaan kritikan. Secara tidak sadar mereka menghabiskan energi untuk ‘berperang’ wacana dan membangun benteng-benteng argumen untuk saling serang. Energi mereka habis terbuang, waktu untuk mengurus rakyat sia-sia terbuang.

Memilih diam adalah sebuah kebajikan. Diam yang aktif. Kuping tetap terpasang, benak selalu terasah tajam untuk membedah segala persoalan, dan hati nurani terang untuk menggapai langkah kebijakan dan strategi. Diam yang bekerja.

Kebangkitan Barcelona dan kembalinya si anak hilang, Lionel Messi, menjadi inspirasi bagi para calon pemimpin dan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT).

NTT sudah lama disemat dengan segala kritikan dan sinis. Entah itu bersumber dari orang luar NTT ataupun dari kaum cerdas-elitis NTT sendiri. Secara tidak sadar mengamini segala julukan diberikan seperti “NTT, Nanti Tuhan, Tolong”, Provinsi Korup, dan sebagainya. Kenyataan mungkin “iya”, tetapi mencari solusi itu lebih penting daripada kita terus berlitani mendengungkan stigma negatif tersebut di atas. Kapan waktu kita mengubah wajah NTT yang miskin, korup dan terbelakang ini?

Kita sedang merindukan pemimpin. Pemimpin yang tahan bathin menghadapi segala gempuran kritik baik yang berasal dari dalam maupun luar NTT sendiri. Ketika kita turut menyematkan NTT dengan segala atribut negatif, itu menunjukkan kita kehilangan kepercayaan diri dan jati diri menjadi orang NTT.

Kita sedang berharap pemimpin yang mendengar kritik, diam-diam mencari solusi dan membalik keadaan kritikan tersebut. Pemimpin tidak bisa bebas dari kritik. Bahkan boleh dibilang pemimpin bertumbuh dan berkembang dari kritikan. Kuncinya bagaimana kita me-manage kritikan demi kritikan. Para pemimpin dapat belajar dari Messi dan Barcelona. Mereka begitu percaya diri, optimistis, dan berpikir positif terhadap kemampuan sendiri.

Ungkapan Pep tentang Messi, barangkali dapat menjadi pembelajaran bagi para pemimpin.

”Ada bermacam-macam tipe pemimpin. Ketika situasi sedang sulit, Messi akan muncul. Dan ia mengerjakan dengan baik tugas kepemimpinan di saat sulit itu empat tahun lamanya. Kepemimpinannya adalah kepemimpinan yang diam. Dalam pergolakan, ia selalu maju ke depan.

”Keyakinan Pep terbukti ketika Messi menjadi inspirator Barcelona menumpaskan AC Milan. Masyarakat dunia berbalik dan memuji Messi dengan segala sebutan seperti pesulap dan alien.

Semoga pengalaman Messi mensiasati kritik diikuti pemimpin pada semua level di negeri ini. Untuk membungkam kritik bukan dengan kritik, melainkan diam dan kerja keras yang berdaya hasil untuk kepentingan masyarakat yang dipimpinnya.* (Giorgio Babo Mogi/GBM)

Comment

News Feed