by

Siquarra, Inerie dan Zakeus Dalam Kisah Perjalanan di Trans Flores

Flores (eNBe Indonesia) – Hari-hari terakhir ini Kupang dirundung mendung bahkan hujan lebat bertubi-tubi. Keindahan kota tampak dari udara. Sabana tumbuh menutup permukaan yang dulunya tandus. Pepohonan mulai lebat daunnya. Pemandangan di jendela Citylink benar-benar memanjakan mata.

Menyaksikan keindahan kota dari udara sebagai suatu anugerah dan kesempatan di awal tahun. Sekaligus mengawali perjalanan tugas di tahun 2021.  Tapi, ada perasaan risau, takut, atau gelisah berpergian dengan pesawat. Phobia SJ182 benar-benar menghantui. Membayangkan terjadi sewaktu-waktu. Manusiawi sekali, khan?

Untungnya, menjelang keberangkatan langit  Kota Kupang cerah. Gumpalan awal berkumpul di titik tertentu. Jauh dari lintasan yang dilalui pesawat. Keadaan ini memupuk asa – menikmati keindahan sebuah perjalanan awal tahun ini.

Namun, menjelang masuk Pulau Flores. Pesawat menyisir dari arah selatan setelah melampaui bentangan Laut Sawu. Melintas di wilayah perbatasan Nagekeo dan Ende. Disambut kabut tebal berarak berlawanan arah burung besi. Pesawat dalam kepungan  awan. Pandangan mata tertutup.

Tetesan hujan mengalir di luar kaca jendela. Pertanda hujan. Hati mendadak gelisah dan terus bertanya-tanya. Gerangan pesawat mendarat di Soa nanti? Gelisah. Lalu menutup mata.

Suara pramugari dari ujung airphone mengalihkan kegundahan. Ia seperti paham dengan kegelisahan yang melanda hati dan pikiran penumpang. Lalu, ia mengumumkan sesuatu yang hemat saya tak terlalu penting.

Sekitar dua menit melewati lorong awan. Puncak Ebulobo pun tampak. Sisa-sisa rumbai kabut menghiasi langit  Boawae. Gereja Katolik F.X. Boawae pun ditelisik lewat celah-celah gumpalan awam. Citylink melaju perlahan tanpa ragu. Ketika sayapnya terus mengepak, terdengar bunyi roda-rodanya keluar dari sangkarnya. Mendarat sudah dekat. Hati pun tenang.

Landasan telah basah. Rupanya Soa baru diguyur hujan. Langit mendadak gelap. Kabut melingkupi. Gunung Ebulobo yang biasanya angkuh dipandang dari bandara Soa didekap erat kabut tebal.

Kami menuju ruang kedatangan dengan hati yang legah karena telah melewati ujian detik-detik pendaratan. Sesuai standar protokol kesehatan, kami wajib melapor. Langkah kami terhenti karena harus mengisi Ehac melalui Android.

Anis, penjemput, sudah menunggu kami di mobilnya. Teman-teman seperjalanan, Anna, Ardus dan Marisa, lebih dulu menyusul ke mobil. Dalam mobil, kami sepakat melanjutkan perjalanan ke Manggarai Timur dan Manggarai serta makan siang di Aimere.

Ardus menawarkan makan siang di Villa Gemo Beach ­- milik temannya. Perjalanan satu jam lagi. Kami harus menahan lapar. Tapi pemandangan sepanjang Kajuala menjadi obat kuat yang membuat kami lupa sejenak amukan perut. Kami banyak bercerita. Foto di spot dengan latar belakang deretan bukit di bawah kaki Inerie. Inerie, ibu yang cantik, dalam bahasa Ngada. Memang ia cantik. Tak tampak dirinya. Kabut menyelimutinya.

Setiba di Aimere, Anis membelok mobil ke Villa Gemo Beach. Bangunan unik. Serba kayu. Suasananya tenang tapi sepi. Hanya beberapa orang duduk di bale-bale. Aktivitas restoran tidak tampak. Ardus menemui seorang ibu di bale-bale dan mendapat jawaban restoran tutup.

Kami berbalik. Kata Ardus mampir di Rumah Makan Padang. Begitu pula Anis, driver sekaligus pemilik mobil. Saya membantah, “Kita sudah sering makan di Kupang. Kita cari warung yang lain saja.”

Pesona Siquarra

Anis langsung nyeletuk, “Kita makan di Siquarra.”

“Ulang, Nis!”

“”Siquarra.”

Mendengar namanya, saya kontan membayangkan tempat dan suasana serta menunya. Apalagi namanya keberat-baratan. Seperti sebuah kata yang mirip-mirip bahasa Spanyol.

“Dimana tuh, Nis?”

“Waelengga.”

“Ya, ya, saya ingat sekarang. Karena akhir tahun lalu kami melewati jalan Trans Flores. Salah satu bangunan di sisi kiri saya waktu itu sempat mencuri perhatian. Mungkinkah itu Siquarra. Ayo, kita makan di sana saja.”

Tak sampai lima belas menit tiba di Restaurant Siquarra. Bangunan sederhana. Semi permanen. Letak persis di tepi jalan. Suasana sepi. Tak ada pengunjung yang mampir kecuali seorang pelayan yang setia menunggu tamu yang datang.

Lampu hias kerlap-kerlip seolah efek dari dentuman musik yang diputarkan. Rupanya hanya pemanis pandangan. Ruanganya tak terlalu ruas. Terdapat sekitar 4-5  meja makan. Kendi-kendi aksesoris tergantung di setiap sudut ruang.

Pemandangan unik ini mengingatkan masa sekolah dulu. Kala melahap novel Wiro Sableng 212 dan sejenisnya saat pelajaran siang hari di kelas, saya jumpai kata-kata kendi dan lukisan bangun lebih kurang seperti ini. Entah, mungkin itulah pula sang pemilik hendak mengajak kita pulang pada suasana tempo doeloe sebelum termos, cerek, gelas dan lain sebagainya ada  bahkan musik. Menarik.

Permukaan dinding belakangnya terbuat dari kaca polos yang dapat digeser atau dibuka-tutup. Dari ruangan ini kita mendapatkan view yang lapang. Bukit tropis yang kaya pepohanan serta lembah yang terbentang sawah yang padinya mulai menguning. Suasana yang menarik kami pada kerinduan akan kampung halaman.

Sisi lain yang menarik dari tempat ini, kita akan dengan mudah memandang view Gunung Inerie yang tampak dekat beserta barisan penunungan atau perbukitan dimana kakinya menjuntai. Keindahan ini akan terlihat dan dinikmati bila kabut tak menutupnya atau pada saat langit di atas Inerie cerah-ceria.

Inerie benar-benar cantik. Bikin jatuh hati. Jauh begitu anggun, apalagi memandangi secara dekat. Akh, sulit dilukiskan. Hanya bisa dirasakan tanpa kata-kata. Tak cukup melukiskan.

Saat kami begitu mengagumi view, pelayan menyodorkan daftar menu makanan yang mengundang selera. Ada banyak pilihan menu untuk semua kalangan – dari kampung maupun kota. Namun, Covid jua, tingkat kunjungan restoran berkurang sehingga berdampak pada persediaan menu Siquarra.

Menu yang pas adalah soto. Itu kebiasaan sebagian besar petualang. Katanya, bagusan makan yang panas-panas sekaligus mengusir mabuk. Sayangnya, soto ayam tidak tersedia. Menu terbatas. Pilihan jatuh pada soup ayam.

Kami menunggu tak sampai 20 menit. Untuk sebuah resto cepat saji terbilang lama. Tapi, bagi para pelintas, menikmati saja dan harus sabar menunggu. Toh, kenikmatan bukan pada urusan makan-minum semata, tawaran suasana dan view juga menentukan. Dan, kami pun menikmatinya. Ngobrol sembari melemparkan pandangan ke puncak Inerie.

Pelayan menghantar pesanan. Disusul pria separuh baya yang kemudian diketahui sebagai pemilik resto. Mengumbar senyum ramah. Menyapa kami semua. Lalu, entah dia atau pelayan, memutarkan lagu Mogi yang didendangkan oleh sang penciptanya – Kraeng Ivan Nestorman. Sebuah pujian untuk sang istri – begitu ceritanya.

Pilihan musik yang tepat. Sang pemilik seolah-olah paham dengan selera saya. Dengan bangganya, saya mendengarkan musik itu. Lalu, saya ingat lagi dengan tulisan saya yang menggugat yang kemudian mempertemukan Mario Klau dengan eja Ivan. Weta Katarina Mogi pasti masih ingat dengan polemik waktu itu.

Kekuatan lagu ini pada syair dan kualitas musiknya. Kraeng Ivan mampu menggubahnya menjadi musik bercita rasa tinggi atau musik elit. Orang  yang jarang mendengar bahasa daerah akan terkecoh dengan lagu ini. Mereka akan membayangkan lagu dari negeri asing atau belahan dunia lain. Dan, saya bayangkan orang yang mengunjungi resto ini akan menilai yang sama – musik dan menunya sepadan.

Asal Nama Siquarra

Di sela-sela kami menikmati suguhan Siquarra, pemilik resto mengabadikan moment itu. Ia melakukan berkali-kali. Tentu kami senang dan akan tercatat dalam perjalanan Siquarra.

Kami menguras waktu cukup lama di sini. Makan dan bercerita. Tiba waktunya kami berpisah. Karena penasaran dengan nama resto ini, usai foto bersama dengan teman-teman berlatar belakang papan nama resto, saya pun mewancarainya secara singkat.

“Namanya keren, Kraeng. Bagaimana awal ceritanya?”

“Namanya berasal Siku, bahasa setempat, artinya tikungan. Sedangkan arra berasal dari nama pohon ara. Jadi tikungan pohon ara.”

“Kok bisa begitu?”

“Ya, dulu ada sepohon ara tumbuh di sini.” Sembari tunjuk bekas tempat pohon itu tumbuh.

“Kenapa ditebang?”

“Tidak ditepang. Tumbang sendiri.”

“Pohon Ara seperti yang dilukiskan dalam kisah Zakeus”, lanjutnya.

Sosok Zakeus

Bagi umat Kristiani pasti sangat familiar dengan cerita tentang Zakeus, sang pemungut cukai. Postur tubuhnya pendek. Suatu waktu, Yesus dalam kerumunan orang banyak. Zakeus ingin melihat Yesus. Satu-satunya jalan ia memanjat pohon ara. Dan, Zakeus merebut perhatian Yesus.

Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.”

Kisah Zakeus adalah peristiwa iman. Mungkin juga menginspirasi Mekas Jansen, sang pemilik resto. Sadar atau tidak sadar, pemilihan diksi untuk sebuah nama mengandung sejuta makna.

“Inilah hasil kerja saya selama 20 tahun. Memiliki rumah dan resto. Saya pernah bekerja di restaurant dan hotel di Bajawa. Saya menyatakan diri keluar dengan baik-baik. Bukan karena ada masalah. Kini, mantan bos dan keluarga saya sudah seperti keluarga saya.” Ujarnya sebelum saya melangkah ke mobil.

Kisahnya tentang pemilihan kata ara dalam nama restonya, mengajak saya pada sosok Zakeus. Sosok yang terbatas. Dianggap kelompok berdosa. Secara fisik berpostur pendek. Tetapi, keingintahuan akan sosok Yesus, Sang Guru, Rabi, tak memupuskan akalnya. Ia rela naik pohon ara demi melihat Yesus secara langsung.

Jika ada pelintas Trans Flores mampir di resto ini tentu bukan karena Jansen, sang pemilik, yang memiliki postur lebih kurang seperti saya dan Zakeus, bukan pula karena pohon ara yang tiada itu (tinggal cerita) melainkan kekuatan nama (the power of name), keramahan (hospitality) dan cita rasa menu yang memenuhi selera pengunjung.

Suatu saat kita akan menjadi “zakeus-zakeus” dalam wujud yang lain. Zakeus yang memiliki daya keingintahuan tinggi, dan pada waktunya, jika melewati tempat ini, Anda pasti akan berkata, “Jansen, kami akan menumpang makan di restomu (Siquarra).”

Tapi, mari kita doa bersama dan bersama berdoa, semoga badai Covid segera berlalu.

 

Giorgio Babo Moggi, Pegiat media online.

Comment

News Feed