by

 Ka’e Berto Lalo Di Mata Saya

Kupang (eNBe indonesia) – Saya sengaja memilih judul tulisan di atas  untuk menakar seberapa jauh saya mengenal sosok ka’e Bertoldus Lalo atau biasa disapa Berto Lalo.

Kadang dalam beberapa kesempatan dalam cerita, kerap saya sering salah menyebut namanya dengan nama Romo Beni Lalo.

Romo Beni Lalo, imam projo Keuskupan Agung Ende. Saya kenal Romo Beni sejak ia kuliah di Sanata Dharma Yogya. Sebenarnya keduanya tak ada hubungan sama sekali. Ka’e Berto Lalo dari Riung sedangkan Romo Beni Lalo dari Ende.

Kemiripan nama kerap salah diucapkan. Padahal dua orang yang berbeda. Tapi yang menyamakan mereka adalah sebagai alumnus Seminari St. Yohanes Berchmans Mataloko Ngada. Tapi kadang nama Romo Beni Lalo sangat membantu ketika saya mau menyebut ka’e Berto Lalo.

Saya tidak kenal dekat dengan ka’e Berto seperti teman-teman NTT diaspora di Jakarta. Usia perkenalan kami berjalan dua tahun sejak ia dilantik menjadi salah satu pejabat administrator Biro Pemerintahan Provinsi NTT dan saya menjadi salah satu pejabat pengawas di Badan Kepegawaian Daerah.

Perkenalan itupun bukan karena karena posisi atau jabatan. Saya tahu kami sama-sama ASN Provinsi NTT. Tak lebih dari itu.

Pertemuaan pertama tercipta di kantin Kantor Gubernur. Sahabat saya, Servas Poso Soli memperkenalkan saya kepada ka’e Berto.  Sejak itu kami tegur sapa dimana saja kami berpapasan. Ia akan selalu menyapa dulu dengan panggilan  “Ade”.

Secara personal, ketemu dan berkenalan secara langsung baru terjadi saat itu. Itupun berkat Servas Poso Soli. Namun, sosok ka’e Berto Lalo bukanlah figur yang asing. Namanya sangat familiar di telinga saya. Itu karena  kiprahnya di Jakarta bersama masyarakat NTT diaspora sejak ia menjadi Kepala Kantor Perwakilan Provinsi NTT. Nama dan wajah terpampang di media sosial dan media online. Apalagi hajatan orang Ngada baik reba maupun Ngada Cup,  ka’e Berto menjadi salah satu figur sentral.  Dari kisah ini, saya  justeru mengenalnya dari sana.

Dari pertemuan di kantin Kantor Gubernur, kami bertemu lagi secara kebetulan di sebuah rumah makan di Liliba. Dia bercerita soal kepindahannya dari Jakarta. Dan, sementara dia tinggal ‘ngekos’. Istri dan anak-anak masih di Jakarta. Urusan perut, ia beli di luar.

Dari pertemuan di kantin, juga di rumah makan, saya mendapatkan gambaran sosok kae Berto Lalo sebagai pribadi yang cerdas, komunikatif, suportif, dan mudah akrab dengan siapa saja.

Penampakan fisiknya memang gagah. Penampilannya memang keren. Kadang orang mungkin berprasangka ia sebagai sosok yang angkuh. Saya sendiri sempat berpandangan demikian.  Kenyataan, jauh dari prasangka. Ka’e Berto adalah orang yang supel, ramah, akrab dan cerdas serta berwibawa.

Kesempatan lain, kami bertemu lagi di ruang kerja saya.  Ka’e Berto memasukan persyaratan administrasi untuk mengikuti seleksi terbuka jabatan Kepala Biro Pemerintahan. Ka’e Berto justeru menyapa lebih dulu.

Ka’e Berto tak terpilih. Lalu dimutasi ke Badan Pertabatasan Provinsi NTT. Di sana ia mengemban sebagai Sekretaris Badan. Kepindahannya tak mengubah pribadinya. Ka’e Berto tetap ka’e yang saya kenal sebelumnya.

Sekian bulan di sana, ka’e Berto bertarung lagi dalam seleksi terbuka untuk memperebutkan jabatan Kepala Biro Organisasi yang lowong. Lagi, kami bertemu lagi. Krtika ia memasukan berkas-berkas persyaratan administrasi. Seperti biasa, ia akan selalu menyapa lebih dulu. Ka’e itulah saya beranikan diri menyapanya “Ka’e” atau kakak.

Ia bersama rekan-rekannya melewati rangkaian proses seleksi. Ia terpilih. Di penghujung tahun 2020, 30 Desember, ia dilantik sebagai Kepala Biro Organiasi oleh Gubernur NTT Victor Bungtilu Laiskodat. Kabar pelantikan kami ikuti lewat media online karena pada waktu yang bersamaan saya sedang melaksanakan tugas  di Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Saya hanya bisa mengirimkan pesan Whatsapp.

Salam Damai Natal ka’e. Proficiat ka’e untuk posisi yang baru. Sukses di tempat yang baru ka’e.

Jawabannya penuh syukur dan doa pada tanggal 31 Deswember 2020.

Terimakasih banyak ade Goris. Salam dan doaku buatmu.

Ka’e Berto adalah salah satu pejabat yang tak mudah lupa dengan orang lain ketika meraih posisi yang lebih tinggi. Ka’e Berto adalah ka’e yang selalu merespon sapaan baik melaui Whatsapp maupun perjumpaan langsung – bahkan ia lebih dulu menyapanya.

Dan, seperti siapa dan apa ka’e Berto di mata saya? Usia perkenalan kami belum berapa lama. Dua tahun. Dalam beberapa kali perjumpaan, saya menemukan ka’e sebagai sosok yang cerdas, komunikatif, suportif, dan rendah hati – lebih dulu menyapa kami yunior. Kecerdasan ditunjukkan melalui pikiran atau gagasan cerdas pada dua kali pertemuan di kantin dan rumah makan serta kemampuan komunikasinya terstruktur.

Pribadi yang suportif atau selalu mendukung, memberi kata-kata penguatan dan motivasi bagi saya – tentunya.

Pula kerendahan hati terpancar dari dirinya. Ia akan selalu berusaha lebih dahulu menyapa saya. Sapaannya, “Ade” – untuk menunjukkan kedekatan dan keakraban sebagai saudara. Urusan jabatan atau posisi di birokrasi ditanggalkan.

Perkenalan kami singkat. Keberasamaan pun singkat – itupun jarang bertemu. Perkenalan, pertemuan dan kebersamaan yang singkat itu, saya menemukan mutiara di dalam dirinya sejauh saya menjadi abdi negara dan masyarakat.

Ka’e Berto adalah salah figur birokrat yang diidolakan saya (honestly). Kepergiaannya, Sabtu (06/02/2021) melemaskan segala angan tentang sang role model. Antara percaya dan tidak percaya. Kabar kepergian seperti mimpi di siang bolong.

Sebelum kepergiannya, dua minggu lalu, saya sempat mendengar suaranya ketika ia menelopon atasan saya, Naftaly S. Huky, tanya perihal Sasaran Kerja Kepegawaian (SKP) nya. Suaranya normal. Ia mengabarkan bahwa ia sedang isolasi mandiri. Dua hari kemudian, stafnya ke ruangan, cek lagi perihal SKP tersebut. Pagi ini, saya mendapat kabar kepergiaanya dari group Whatsapp BKD kemudian dari status facebook orang-orang dekat dan yang mengenalnya serta media online.

Ka’e Berto t’lah melewati ujian para assessor dan tim Pansel JPTP Provinsi NTT sehingga layak  dipilih dan dilantik Gubernur NTT menjadi Kepala Biro Organisasi. Dan, pada akhirnya, ia melampaui semua ujian dari Sang Pencipta. Hari ini kembali menghadap-Nya. Ia t’lah sembuh dari segala deritanya. Ia t’lah menemukan jalan pulang kepada-Nya melalui kematian dimana Yesus, Bunda Maria dan para orang kudus menantinya.

Selamat jalan Ka’e menuju Yerusalem baru. Doa kami mengiringi kepergianmu. Terimakasih untuk perjumpaan kita.

 

Giorgio Babo Moggi, ASN Provinsi NTT/Pegiat Media Online

Comment

News Feed