by

Ekonomi akan tumbuh?

-Ekonomi-111 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pada 5 Februari 2021 bahwa ekonomi Indonesia tetap berada dalam resesi pada tahun 2020 karena berkontraksi sebesar 2,07%, pertama kali dalam lebih dari dua dekade. Faktor utamanya adalah pandemi COVID-19. Negara terus berjuang, tetapi Pemerintah sangat yakin bahwa pertumbuhan akan terjadi pada kuartal pertama (K1) tahun 2021. Bahwa kontraksi ekonomi menyempit dari 5,32% pada Q2 tahun 2020 menjadi 3,49% pada Q3, dan 2,19% pada Q4, tampaknya ini menjadi pertanda baik.

Investasi terpukul paling hebat oleh pandemi tahun lalu, karena berkontraksi sebesar 4,95% secara tahunan (year on year). Impor barang modal turun 16,73%. Konsumsi rumah tangga mengalami kontraksi 2,63% pada tahun 2020, didorong oleh daya beli yang lemah. Penjualan semen domestik turun 10,38%, dan penjualan mobil turun 41,83%. Penjualan ritel juga turun 12,03%, dan impor barang konsumsi turun 10,93%.

Ekspor turun 7,7% tahun lalu, sedangkan penurunan harga batubara dan minyak sawit mentah akan mengganggu kinerja ekspor tahun ini. Sedangkan belanja pemerintah tumbuh 27,15% tahun lalu, mendukung untuk mempersempit kontraksi ekonomi.

Secara sektoral, kontraksi tahun lalu dipimpin oleh sektor transportasi (-15,04%) dan sektor akomodasi, makanan & minuman (-10,22%). Industri pengolahan juga mengalami kontraksi 2,93%, perdagangan tumbuh minus 3,72%, konstruksi minus 3,26%, dan pertambangan-pengeboran menyusut 1,95%. Penerapan pembatasan sosial yang lebih ekstensif (PSBB) mengurangi pergerakan orang dan barang, mempengaruhi sektor transportasi dan pergudangan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengantisipasi kontraksi tahun lalu sekitar minus 2% akibat tingginya tekanan pandemi COVID-19. Dia mengatakan pertumbuhan tersebut melandai karena konsumsi rumah tangga yang lemah dan daya beli masyarakat.

Ia kemudian menyampaikan bahwa kebijakan fiskal melalui instrumen APBN akan terus berperan penting dalam menahan perekonomian dari keterpurukan yang lebih dalam tahun 2021, dalam rangka percepatan pemulihan ekonomi dan penguatan reformasi.

Dari sisi belanja negara tahun ini, Pemerintah menyiapkan anggaran kesehatan Rp169,7 triliun, perlindungan sosial Rp419,3 triliun, ketahanan pangan Rp104,2 triliun, infrastruktur Rp414,0 triliun, pendidikan Rp549,5 triliun, pembangunan teknologi informasi dan komunikasi Rp30,5 triliun, subsidi energi dan nonenergi Rp172,9 triliun, transfer ke daerah Rp796,3 triliun, dan dana desa Rp72,0 triliun. Dana yang disiapkan untuk insentif Pemulihan Ekonomi Nasional tahun ini sebesar Rp619 triliun.

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto meyakini perekonomian Indonesia akan pulih pada K1 tahun ini antara 1,3 hingga 1,8%, seiring dengan persiapan Pemerintah untuk meningkatkan konsumsi masyarakat. Investasi juga diproyeksikan tumbuh 3-4% tahun ini.

Tetapi pandemi tetap menjadi faktor signifikan yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Meningkatnya penyebaran virus corona telah mendorong pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di beberapa daerah di Jawa dan Bali. Belanja pemerintah, termasuk program pemulihan ekonomi nasional, belum banyak membantu pertumbuhan ekonomi domestik. Pemerintah harus lebih fokus untuk menjaga konsumsi masyarakat atas barang dan minuman yang merupakan penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi nasional yaitu mencapai 50% dari PDB. (yosefardi.com)

Comment

News Feed