by

Laba BCA Rp27 Triliun

-Ekonomi-105 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Bank Central Asia (BBCA) membukukan laba bersih Rp27,13 triliun pada 2020; turun 5% dari Rp28,56 triliun pada tahun 2019. Pendapatan bunga bersih tumbuh 7,3% menjadi Rp54,55 triliun, dan laba operasi pra-provisi (PPOP) tumbuh 11,2% menjadi Rp45,42 triliun, didukung oleh likuiditas yang besar, penurunan biaya dana, dan pengeluaran yang lebih rendah. Namun pencadangannya melonjak 152,3% menjadi Rp11,6 triliun dari Rp4,59 triliun pada 2019 untuk mengantisipasi potensi penurunan kualitas aset.

Pada triwulan IV tahun 2020, BBCA membukukan laba bersih sebesar Rp7,09 triliun; itu menurun 9% dari kuartal sebelumnya. Pendapatan bunga bersih hanya naik 3% menjadi Rp18,86 triliun sedangkan beban operasional naik 22,9% menjadi Rp7,25 triliun. Namun provisi turun 5,2% menjadi Rp2,47 triliun.

Kredit BBCA turun 2,5% menjadi Rp588,67 triliun tahun lalu sedangkan dana pihak ketiga naik 19,3% menjadi Rp840,75 triliun. Di sisi penyaluran kredit, kredit korporasi meningkat 7,7% secara tahunan (y/y) menjadi Rp255,1 triliun. Sementara kredit komersial dan UKM turun 7,9% y/y menjadi Rp186,8 triliun.

Kredit konsumer, KPR turun 3,7% menjadi Rp141,2 triliun karena pembayaran pinjaman yang lebih tinggi. Dari total portofolio kredit tersebut, sekitar 21,6% atau Rp127,2 triliun berkaitan dengan pembiayaan berkelanjutan. BBCA membukukan pinjaman yang direstrukturisasi sebesar Rp104,2 triliun atau sekitar 18% dari total pinjaman yang berasal dari sekitar 100.000 nasabah.

Giro dan tabungan (CASA) naik 21% menjadi Rp643,9 triliun. Sedangkan deposito tumbuh 14% menjadi Rp196,9 triliun. CASA menyumbang 76,6% dari total dana pihak ketiga. CAR BBCA tetap solid di 25,8% dan LDR yang sehat sebesar 65,8%. NPL dipertahankan di 1,8%, didukung oleh relaksasi kebijakan restrukturisasi.

Industri perbankan tetap tangguh meski menghadapi masa-masa sulit di tahun 2020 (per November). Kebijakan makroprudensial dan stimulus fiskal turut mendukung kinerja perbankan di tengah memburuknya kondisi perekonomian. Suku bunga tabungan yang lebih tinggi — seperti yang terlihat pada peningkatan dana pihak ketiga (11,6% y/y) —memungkinkan likuiditas bank tetap mencukupi, dengan LDR tetap pada level yang nyaman di 82,3%. LDR tersebut mencapai Rp6.635 triliun.

Pinjaman atau kredit mengalami kontraksi sebesar 1,4% y/y (Rp5.447 triliun). Meski begitu, tekanan dari pandemi telah berkurang, terbukti dengan penurunan restrukturisasi kredit terkait COVID-19. Kebijakan restrukturisasi kredit regulator telah membantu menjaga NPL (3,2%). CAR berada pada level aman 24,2%. Laba bersih bank turun 30,9% menjadi Rp98,9 triliun untuk periode Jan-Nov 2020, dan margin bunga bersih (NIM) turun 50 basis poin menjadi 4,4%. (yosefardi.com)

Comment

News Feed