by

Engkau Tidak Mungkin Menyenangkan Semua Orang

-Opini-301 views

Oleh Rd. Silverius Betu

Bajawa masih diselimuti kabut tipis dan suhu udara menunjukan angka 18 derajat Celsius. Di tengah udara yang lembab dan dinginnya merayab sampai di balik baju hangat, saya duduk diam menikmati senja dalam kebisuan. Pikiran saya tidak bisa diam, mengembara ke masa-masa perjuangan menuju imamat dan berhenti pada sosok Rm. Benediktus Daghi, Pr. Sosok yang punya andil yang besar dalam sejarah perjalanan imamat saya. Dalam pengalaman jatuh dan bangun, romo Bene menjadi Pembina, bapa dan saudara yang dekat dan akrab sekaligus pernah menjadi lawan dalam penegakan aturan dan kedisiplinan. Bagi saya romo Bene adalah salah satu cermin tempat saya berkaca tentang imamat saya, di masa lalu, hari ini dan masa depan.

Tentang beliau dengan segala kelebihan dan kekurangannya sudah banyak orang yang bersaksi melalui media sosia ketika berita tentang kematiannya mengguncang jagat maya, Senin, 1 Pebruari 2021 yang lalu. Tulisan ini mau melengkapi apa yang sudah ada dari kesaksian dan refleksi pribadi saya. Saya memang tidak langsung menulis pada waktu itu karena masih shok dan saya ingin tulisan ini lebih netral karena saya sedikit mengambil jarak dengan situasi kehilangan yang menyakitkan. Saya ingin menyampaikan beberapa moment penting dan merefleksikannya.

Berani Melupakan

Tahun 1993 ketika saya dan teman-teman angkatan TOR 92 memasuki tingkat I, setelah ditempa selama setahun di TOR Lela dalam suasana gempa, kami didampingi oleh Rm. Bene sebagai pendamping tingkat. Dalam usia yang masih muda, kami sering melakukan pelanggaran disiplin hidup berasrama. Suatu sore sehabis olah raga di lapangan bola, saya dengan salah seorang teman melanjutkan olah raga di kamar mandi. Kami bertinju dan di soraki teman-teman yang lain. Tanpa kami sadari ternyata Rm. Bene sejak awal menyaksikan tingkah-laku kami. Sore itu ia memanggil kami dan meminta untuk membuat surat pernyataan bahwa tidak akan ribut di KM lagi. Kalau berani melanggar lagi maka siap menanggung konsekwensi termasuk yang paling berat, keluar dari seminari. Tiga hari kemudian kejadian yang sama saya ulangi dengan teman yang lain lagi, tanpa saya sadari juga disaksikan oleh Rm. Bene. Saya menjadi tidak aman dan menghadap beliau dengan kepasrahan untuk siap menerima konsekwensi termasuk harus keluar. Ketika saya mengetuk pintu kamarnya, beliau membuka pintu sambil tersenyum. “Kau perlu apa, Boim?” “Romo, saya mau omong tentang kejadian sore tadi dan surat perjanjian yang sudah saya buat 3 hari lalu.” “Surat perjanjian apa? Saya sudah tidak ingat. Pulang ke bilik, belajar yang baik untuk ujian besok.” Saya pulang ke kamar dengan gembira sambil berjanji untuk tidak melakukan pelanggaran lagi. Ini adalah cara memaafkan yang luar biasa: “Melupakan untuk menobatkan.” Terima kasih romo Bene untuk maafmu.

Tidak Mungkin Menyenangkan Semua Orang

Dalam pembinaan entah waktu menjadi pendamping maupun sebagai praeses, waktu pertemuan bersama maupun pertemuan pribadi Rm Bene selalu menyampaikan: “Jangan kerja supaya disenangi orang, karena engkau tidak mungkin menyenangkan semua orang. Kerjakanlah tugasmu dengan gembira dan hati senang karena itulah yang akan membahagiakanmu. Kalau engkau gembira dalam tugasmu, Tuhan dan orang lain juga pasti akan gembira” Kata-kata nasihat ini terus saya ingat dan saya lakukan sampai hari ini. Saya mengerjakan tugas yang dipercayakan bukan pertama-tama supaya orang senang, pembesar senang atau umat senang tetapi supaya saya gembira dan bahagia karena pekerjaan itu bejalan dengan baik dan berhasil. Saya tidak butuh orang yang selalu bertepuk sorak supaya saya berhasil tetapi saya butuh orang yang sama-sama bekerja dengan cinta supaya cita-cita dan harapan bisa tercapai. Bekerja untuk menyenangkan orang atau agar dikagumi dan dipuji orang akan berakhir pada kelelahan ketika tidak ada pujian yang datang. Terima kasih Rm. Bene, engkau telah bekerja dengan gembira sehingga menggembirakan Tuhan dan sesama.

Maksud Baik Disampaikan Dengan Cara Yang Baik

Ketika saya pamit kepada Rm. Bene untuk menjalani TOP tanpa jubah dan dalam batas waktu yang tidak ditentukan setelah menyelesaikan pendidkan tingkat VI di Ledalero dan Ritapiret beliau berpesan kepada saya: ”Boim, dalam banyak hal engkau baik, hanya engkau perlu memperbaiki cara dan kata-kata dalam menyampaikan pendapat. Maksud baik harus disampaikan dengan cara yang baik. Tidak semua hal yang engkau tahu harus engkau ungkapkan, kadang-kadang kita harus diam sampai orang meminta pendapat kita.” Nasihat yang sama juga disampaikan oleh dua imam lain dari Keuskupan Agung Ende.

Ini adalah pukulan yang telak bagi saya, karena saya sadar bahwa sering menyakiti orang lain dengan kata-kata saya yang tajam, termasuk kepada Rm. Bene. Tentang peritiwa bulan November 1999, tentu sudah banyak yang membaca di status FBnya Rm. Maksi Regus. Saya hanya mau ceritakan episode selanjutnya, ketika saya dipanggil kembali untuk ditabiskan menjadi diakon pada awal tahun 2003, waktu kembali ke rumah Rita, romo Bene memanggil saya ke kamarnya. Beliau mengisahkan semua hal tentang alasan mengapa saya ditunda untuk ditahbiskan. Beliau memulai dengan kalimat ini: “Boim kita bicara sebagai kakak dan adik, sebentar lagi engkau akan ditahbiskan menjadi diakon dan imam. Kita akan sama-sama menjadi imam diosesan Agung Ende. Bukan tidak mungkin kita akan bekerja pada satu tempat yang sama. Maka jangan ada rahasia di antara kita, jangan ada unek-unek yang tersisa antara kita berdua.“ Maka mulailah sharing yang panjang dan saya lebih banyak mendengarkan. Kita memang pernah kerja di bidang yang sama yaitu pendidikan walau tidak tinggal sekomunitas. Maksud baik memang harus disampaikan dengan cara yang baik. Ketika maksud baik disampaikan dengan cara yang salah, waktu yang salah dan bahasa yang salah maka maksud baik itu tidak akan pernah saampai ke tujuan, dia sudah diblock oleh ketersinggungan, kemarahan dan keacuhan. Terima kasih Rm. Bene untuk nasihat bijakmu.

Pada bagian akhir tulisan ini saya ingin memohonkan maaf yang sedalam-dalamnya kepada romo Bene untuk seluruh kata daan perbuatan saya dan teman-teman yang pernah menyakiti romo. Terima kasih untuk segalanya, teristimewa untuk teladan kesetiaan sebagai imam sampai akhir. Semoga romo bahagia di Surga.

Comment

News Feed