by

Tiga pilot dari Nagekeo & Bandara Internasional Mbay

-Profil-3,229 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Flores itu menjadi sentral bagi propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), kawasan Indonesia Timur, bahkan Indonesia dalam konteks pengembangan industri penerbangan (aviation). Yoachim Purwanto Goawona, pilot maskapai Garuda Airlines (Captain pesawat A330), menilai pemerintah pusat dan pemerintah daerah propinsi (Pemprov) dan pemerintah daerah (Pemda) Nagekeo sudah on the track, mempersiapkan pengembangan bandara internasional di Mbay, Nagekeo, Flores.

Pemerintah sudah mencanangkan pembangunan bandara internasional di Mbay (Surabaya 2) medio 2012/2013 dan telah mengalokasikan dana sebesar Rp43 miliar. Sayang dana tersebut akhirnya migrasi ke bandara Tambolaka, Sumba Barat Daya (SBD) karena Pemda Nagekeo gagal melakukan pembebasan lahan di sekitar bandara.

Dalam perencanaan, bandara Mbay dibangun pada total lahan 251 hektar untuk pembangunan run way sepanjang 4 kilometer (4,000 meter) dengan lebar 750 meter. Dari kebutuhan lahan ini, 138 hektar adalah lahan ex jepang dengan panjang landas pacu 600 meter dan 114 hektar adalah lahan yang harus dibebaskan. Jika harga per meter square diperkirakan sebesar Rp100,000, maka Pemda Nagekeo harus menyiapkan dana sebesar Rp114 miliar untuk pembebasan lahan tersebut.

Plt. Dinas Perhubungan Nagekeo Efraim Muga ketika diwawancarai RRI tahun lalu mengatakan, pemkab sudah mengamankan tanah bandara yang sudah disertifikat seluas 49.9 hektar. Pemkab butuh sekitar 20 hektar lagi untuk penambahan Runway. Dokumen berupa masterplan dan sertifikat sudah dipersiapkan untuk dibahas dengan Kementerian Perhubungan.

Yoachim Purwanto Goawona

“Saya mengapresiasi upaya pemda Nagekeo sekarang ini yang ingin segera merealisasikan pembangunan bandara Mbay. Sejak dulu kita menginginkan bandara Mbay, dan jika bupati sudah membuka diri maka saya percaya ke depan Nagekeo bisa maju, apalagi banyak orang pintar di Flores,” ujar Purwanto kepada Redaksi eNBe Indonesia kemarin (11/2).

Purwanto menegaskan, Mbay bisa menjadi bandara alternatif karena bandara di Bali sudah sulit dikembangkan lagi, terutama area untuk parkir. Dan bandara Mbay jauh dari hambatan-hambatan (obstacle), dan sangat-sangat aman (safe). Garuda dengan pesawat tipe Boeing dan Airbus tentu bisa melayani Flores melalui bandara Mbay, terutama angkutan kargo.

“Pejabat sudah membuka diri, bangun sinergi, untuk dapat hasil optimum. It could be happen. Ingat Amerika maju karena aviation (industri penerbangan), karena standard of procedure (SOP) itu harga mati, disiplinnya yang bagus, maka penerbangannya pun sempurna (perfect) dan safe (aman).”

Purwanto menandaskan, Garuda Airline adalah urat nadi bagi bangsa ini, tidak hanya fokus pada aspek komersial tetapi melayani kebutuhan sosial masyarakat terkait bencana, dan lain-lain. “Karena incident (peristiwa) itu bisa jadi accident (kecelakaan), maka harus start dari manajemen, pilot bekerja sesuai SOP, jika diabaikan maka akan jadi masalah, meski bermula dari hal-hal sangat simpel.”

Kenyataan saat ini, lanjut Purwanto, aspek keselamatan (safety) mulai diabaikan (neglected), semua maskapai penerbangan harus fokus pada awareness (kesiagaan), preparation (persiapan), dan safety itu ditentukan oleh faktor manajemen, human, supporting financial, juga pengguna jasa itu sendiri. Tidak semua (pengguna jasa) mengerti soal safety, maka perlu edukasi mulai dari rumah.

GOOD GUY

Purwanto mengakui jika Flores saat ini sudah menghasilkan banyak orang baik (good guy) yang secara rill membangun Flores. Tidak seperti dulu, pemimpin sekarang banyak melakukan terobosan, salah satunya menteri asal Flores Jhonny G Plate. “Pak Jhonny itu sudah high way, punya visi bagus, bikin jalan tol online. This is the man. He is a good guy, kita support.”

Purwanto dalam kapasitasnya ingin pemda-pemda di Flores dan NTT membangun industri aviasi, mulai dari sekolah penerbangan misalnya. Banyak anak-anak Flores dari kecil bercita-cita jadi pilot, tapi sulit meraihnya karena kurang difasilitasi. Anak-anak Flores perlu melihat dunia luar, agar mereka memiliki keyakinan teguh dalam mencapai cita-cita.

“Ada salah satu anak dari Flores yang jadi wanita penerbangan di Amerika. She jumps out. Dua putra saya pun jadi pilot sekarang (Garuda). Ada pilot senior asal Ende (Pius Realino) sangat dikagumi di maskapai Sriwijaya. Semoga ini jadi inspirasi bagi generasi NTT umumnya dan Flores khususnya.”

Yoachim Purwanto Goawona, saat ini tinggal di Tangerang, Banten, telah pensiun dari Garuda Indonesia setelah mengabdi 43 tahun. Purwanto adalah putra sulung (7 bersaudara) dari pasangan bapak Stefanus Goawona (polisi) kelahiran Nunukae, Nagekeo dan ibu Theresia S Goawona kelahiran Jogyakarta. Purwanto menikah dengan Dotty Willyana kelahiran Jakarta dengan tiga putra; Jody Prastiwo (pilot), Gregorius Goldi Prastiwo (pilot), dan Czar Gabriel (SMA kelas 2), juga dua cucu.

Purwanto adalah sosok yang selalu rindu pulang kampung (Flores), meski Flores telah banyak berubah saat ini, telah hilang banyak sisi keindahannya terutama ketiadaan burung-burung berkicau, tapi budaya masih dilestarikan. Flores mesti ditata ulang, dan akan menjadi sangat indah dan luar biasa. Tentu. butuh kemauan kolektif generasi Flores saat ini.

Comment

News Feed