by

Berpulangnya Orang-Orang Baik: Sebuah Obituari Tentang Ma Vita Tandi dan Bapak Paulus Manehat

Kupang (eNBe Indonesia) – Dua ribu empat. Tujuh belas tahun silam. Saya datang ke kota ini, Kota Karang. Saya datang dari Yogya penuh optimis untuk memulai babak kehidupan pasca pendidikan sarjana.

Tak terbayangkan dalam masa kecil, remaja apalagi di bangku kuliah bahwa suatu waktu saya menjadi dosen – gurunya para mahasiswa.

Pada masa itu, jurnalis, arsitek dan biarawan adalah cita-cita saya. Kala mengutarakan cita-cita menjadi jurnalis,  Sr. Virgula yang mengunjungi saya di asrama menantang dengan sebuah pertanyaan.

“Apakah kamu tahu bahwa seorang wartawan bisa mengubah seekor tikus menjadi seekor gajah?”

Analogi Suster benar. Saya mengangguk. Tetapi penilaian suster tak bisa digunakan sebagai standar untuk menilai terhadap sebuah profesi. Toh, jika ada jurnalis yang mengubah  tikus menjadi gajah atau sebaliknya,  itu perbuatan  oknum wartawan.

Arsitek, pilihan keren. Karena saya memperhatikan para insinyur jebolan Jogja yang mengabdi di almamater dengan berbagai karya monumentalnya seperti gedung asrama, sekolah, gereja dan bangunan novisiat Sang Sabda.

Tapi, ketika pemilik dan pendiri yayasan juga guru bahasa Latin, Pater Wasser, mewawancarai kami satu per satu, cita-cita saya berubah; ingin kuliah Filsafat di Ledalero, jika berkenan menjadi bruder.

Pada akhirnya, apa yang diangan-angan tak satupun terwujud. Jurnalis bukan, arsitek bukan, apalagi biarawan. Namun, semuanya itu memiliki benang merah antara cita-cita yang tidak terwujud dengan realitas yang terjadi  –  sebagai dosen muda di Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang.

Apa benang merahnya? Sadar atau tidak sadar, para guru bisa menjadi idola pada masa itu adalah alumni kampus ini. Kisah-kisah para guru tentang almamaternya memicu imajinasi saya. Pula figur-figur di lingkungan sekolah mengingspirasi, lalu semesta menarik saya untuk mengabdi sebagai dosen. Saya pun tak tahu dan membiarkan hidup mengalir begitu saja  hingga akhirnya dengan profesi saya kini.

Dua ribu empat silam. Saya memulai karier sebagai dosen. Bertemu dengan orang-orang hebat (dosen-karyawan). Nama Unwira diperhitungkan sebagai lembaga pendidikan swasta high qualified. Apalagi kalau guru-guru kami bernostalgia tentang Unwira. Kagum. Maka adalah kebanggaan ketika mendapat kesempatan mengabdi di Unwira – almamater para guru yang pernah mengajar saya. Bangga karena masuk dalam lingkaran universitas yang high qualified.

Meski datang dari kota (Yogya) tak mengubah wajah anak yang lahir dari kampung. Gugup, malu-malu. Biasalah. Jujur, saya bukanlah anak milineal – bermental tebal.

Melakoni profesi dosen muda, mengawali perjumpaan saya dengan orang-orang baik. Mama Victoria Tandi, SE adalah salah satu orang baik yang kami jumpai. Kami biasa menyapa Ma Vita. Mama Vita pribadi yang kalem, murah senyum dan mudah menyapa. Karakter ini pun tak berubah ketika ia menjadi ibu Wakil Walikota – mendampingi suaminya Bapak Daniel Hurek – dosen senior di Unwira juga.

Kami masuk Unwira, Bapak Daniel tidak aktif mengajar karena terpilih sebagai anggota legislatif. Perjalannnya yang kemudian menghantar menjadi orang nomor dua Kota Kupang.

Meskipun kesibukannya mendampingi sang suami, Ma Vita tetap menjadi karyawati Unwira yang humble – tegur sapa seperti biasa. Sejauh pengalaman pribadi, Ma Vita tampil tenang dan anggun. Dan, kadang-kadang ia mengajak bicara bahasa Lio karena itu tahu Lio dan Nagekeo memiliki kemiripan bahasa.

Membaca postingan adik Melisa Sarlin Benggu masih mengundang seribu tanya. Apakah ini benar Ma Vita yang saya kenal di Unwira? Atau, Ma Vita yang lain? Keraguan saya terjawab ketika saya membaca posting Ma Kristina Yulita Jedo.

Mata berkaca-kaca. Memori berputar lagi pada kenangan lebih kurang 5 tahun bekerja di Unwira. Perjumpaan dan kebersamaan dengan Ma Vita di Unwira.

Saya masih ingat Ma Vita bukan sosok yang banyak bicara. Tenang, murah senyum. Dan, Ma Vita, salah satu saksi ketika saya dan beberapa dosen muda menerima gaji di ruang Biro Keuangan di Unwira. Sebelum masuk ke ruang kerja Bruder Domi Doron, kami melewati dan mengantri di ruang kerja para pegawai.

Memang tak banyak interaksi dengan Ma Vita. Mungkin karena unit kerja yang berbeda. Tetapi, Ma Vita adalah sosok yang menjadi pusat perhatian karena aura, ketenangan dan kematangannya.

Sepertinya halnya mendengar dan membaca kepergiannya, Ma Vita hadir seperti cermin lalu setiap orang melihat kembali kenangan-kenangan bersamanya. Sesuai dengan nama panggilannya Vita, Ma Vita adalah telah menjadi sumber kehidupan yang menghidupi orang lain supaya berkelimpahan melalui kebaikan-kebaikan yang ditebarkannya.

***

Dari Unwira, saya berpindah ke Pemerintah Provinsi NTT. Persahabatan saya dengan orang-orang Unwira tetap terawat. Lima tahun bersama mereka adalah waktu yang singkat tetapi keakraban terasa seperti telah dibangun  bertahun-tahun lamanya – termasuk dengan Ma Vita.

Duka belum berakhir,  datang lagi kabar duka tentang kepergiannya Bapak Paulus Manehat. Kabar ini, saya baca dari postingan Bapak Frans Wotan – Kabid Formasi dan Sistim Informasi Kepegawaian BKD Provinsi NTT.

Saya mengenal Bapak Paul Manehat sejak  menjalani masa orientasi di Bagian Pengembangan Biro Kepegawaian Setda Provinsi NTT (2009). Saya ditempatkan di Sub Bidang Diklat dan Formasi dengan Kasubagnya Bapak Flafianus Dua, sedangkan Kepala Bagian adalah Bapak Paul Manehat sendiri.

Di mata saya, Bapak Paul adalah sosok yang serius dalam perkataan dan tindakan. Sebagai pegawai baru saya tak berani bercanda – meskipun ia sering berkelakar. Tetapi, saya menemukan dalam diri Bapak Paul memiliki cara sendiri untuk menempa stafnya – pengalaman pribadi.

Pengalaman saya mungkin berbeda dengan staf yang lain. Penilaian saya mungkin berbeda pula dengan penilaian staf yang lain. Itu wajar. Setiap orang memiliki sudut pandang dan pengalaman yang berbeda-beda.

Tantangan pertama yang diberikan kepada saya adalah menyusun Formasi CPNS Tahun Anggaran 2009. Saya mengakui pengalaman saya nol di birokrasi. Tetapi Bapak Flafi meyakinkan saya.

“Goris tinggal baca dan tinggal ikut format-format terdahulu.”

Jawabannya yang singkat. Tetapi jawaban itu mengandung trust kepada saya. Karena mereka tahu bahwa saya mantan dosen Teknik Informatika, soal “bermain data” bisa diandalkan.

Namun tidak demikian adanya. Saya butuh waktu untuk beradaptasi dan berproses di dunia birokrasi. Peralihan profesi yang begitu cepat dan tantangan yang diberikan pula terlalu dini. Toh, bagaiamanapun saya tetap menerima tantangan Bapak Paul dan Bapak Flafi. Ini instruksi.

Apa yang harus saya lakukan? Langkah pertama adalah mengumpul semua usulan formasi dari setiap perangkat daerah, kemudian memperlajari kondisi bezetting PNS serta analisis jabatan dari Biro Organisasi. Lalu, memetakan lagi kebutuhan pegawai berdasarkan nomenklatur jabatan dan kesesuaian dengan kualifikasi pendidikan yang dibutuhkan.

Dari hasil analisis dan dukungan mentor Kasubag Diklat dan Formasi kala itu, Bapak Flafianus Dua, Provinsi NTT  mengusulkan 418 formasi CPNS untuk tahun anggaran 2009. Usulan ini  dikirim ke Badan Kepegawaian Negara dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Secara mengejutkan, usulan tersebut diterima seratus persen  tanpa mengurangi jumlah usulan formasi.

Saya tidak tahu hal tersebut. Pada suatu siang, Pak Vinsen Salo mendatangi saya lalu menyodorkan tangan dan berujar, “Terimakasih, Ade. Sudah membuka banyak peluang kerja bagi orang lain.”

“Maksud ka’e, apa?” Saya benar-benar tidak tahu.

“Saya dengar dari Pak Karo (alm. Karolus Kia, Kepala Biro Kepegawaian waktu itu) di rumah sakit tadi  katanya formasi kita diterima semua.”

“Bagaimana cara Ade buat usulan formasi sehingga bisa diterima semua?”

“Entahlah Ka’e. Saya bekerja dengan hati.” Jawab saya dengan canda.

Tantangan belum berakhir. Pada saat kesempatan rapat staf bersama Kepala Biro, saya melihat kegusaran di wajah Bapak Paul melihat waktu persiapan pelaksanaan seleksi CPNS yang semakin singkat.

Usai rapat, saya sampaikan niat kepada Bapak Flafi agar  kita buatkan sistem sederhana untuk mempermudah pekerjaan nanti.  Niat ini disampaikan pula kepada Bapak Paul.

Suatu waktu Bapak Paul cari saya ke rumah kontrakan. Ia memastikan lagi apakah sistem yang dijanjikan sudah dikerjakan atau belum. Saya meyakinkan kepada beliau bahwa sistem siap digunakan.

Atas bantuan teman dosen – yang kemudian menjadi PNS, Facun Baur – kami merancang sebuah sistem sederhana (berbasis LAN) untuk mengentri data pelamar sehingga dapat mencetak  daftar nominatif pelamar, daftar hadir, dan kartu test secara otomatis.

Sistem selesai dibangun langsung digunakan. Petugas yang menerima berkas di loket SPN, pada sore harinya  wajib mengentri data masing-masing. Dan, sistem tersebut sangat membantu. Dalam waktu dua minggu, kami menghasilkan daftar nominatif peserta test, daftar hadir dan kartu test yang tercetak.

Di tengah rentang waktu itu,  saya sakit karena kurang tidur (hampir setiap hari pulang pagi). Saya tidak masuk kantor sementara  pencetakan nominatif peserta, kartu tes dan daftar hadir tetap dilaksanakan. Bapak Paul tidak hilang akal. Ia mengutus Guido Laga Uran dan Reza Mahendra   ke rumah kontrak saya dengan membawa printer guna mencetak nominatif peserta, kartu tes dan daftar hadir yang tersisa.

Tidak cukup saya lukiskan kerjasama saya dengan Bapak Paul Manehat – antara atasan dan bawahan. Melalui tulisan ini, saya mau menyampaikan  suka dengan tantangan diberikannya. Termasuk dorongannya untuk menggantikan dia membawa materi Prajabatan di BPSDM jika Bapak Flafianus Dua berhalangan serta dorongannya agar saya mengikuti ELTA (2011) dan ADS (2010). Singkat kata, segala capaian penulis baik yang tertulis maupun tidak tertulis dalam obituari ini tak terlepas sosok Bapak Paul Manehat.

***

Akhir kata, Ma Vita dan Bapak Paul Manehat adalah sosok orang-orang baik yang saya kenal. Mereka pergi dalam jarak waktu yang berdekatan. Mereka berasal dari institusi yang berbeda sehingga memperkaya perjalanan saya. Sebab kematian merekapun berbeda tetapi menuju satu tujuan; KRISTUS yang adalah JALAN dan KEBENARAN yang HIDUP.

Mengenang mereka adalah dengan cara menulis kebaikan-kebaikan mereka serentak melupakan kekurangan-kekurangan manusiawi mereka. Biarakan kekurangan-kekurangan itu terkubur bersama raga mereka dan kebaikan-kebaikan mereka terangkat bersama jiwa atau roh mereka  – mengharum semerbak bagi orang-orang yang ditinggalkannya karena mereka telah melakukan banyak hal dalam tugas dan pengabdiannya.

Menutup tulisan ini, saya  mengutip motto Unwira, “Ut Vitam Habeant Abundantius” – Supaya mereka memiliki kehidupan yang berkelimpahan, demikian halnya mereka, Ma Vita dan Bapak Paul melalui kebaikan-kebaikan mereka supaya mereka (orang lain) berkelimpahan secara rohaniah.

Selamat jalan Ma Vita dan Bapak Paul menuju Yerusalem baru. ***

Comment

News Feed