by

Perempuan Ngada terintimidasi, patrilineal terbungkus matrilineal

-Opini-1,320 views

DEPOK (eNBe Indonesia) – Aris Woghe, mengikuti jejak Maria Matildis Banda, fokus mengembangkan karya sastra di NTT, mulai dari tempat kelahirannya Ngada, Flores. Aris, lulusan Universitas Gajah Madah (UGM) Yogyakarta ini, akhirnya menerbitkan novel anyarnya, Kemelut Kasta, setelah digarap selama 5 tahun.

Aris ingin mendobrak tradisi kasta di Ngada, tradisi yang sesungguhnya bertentangan dengan ajaran agama Katolik, sebagaimana ditegaskan dalam Alkitab, Galatia 3:28 (Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus).

Kasta di Ngada mengelompokan tiga status sosial masyarakat; Rang Atas (Ga’e), Rang Tengah (Ga’e Kisa), dan Rang Bawah (Ho’o). Dalam novelnya, Aris hanya mengisahkan percintaan antara Maria dari kasta atas dengan Simon dari kasta bawah.

Aris Woghe

“Wanita kasta atas dilarang kawin pria kasta bawah. Jika nekat, secara budaya dosa (la’a sala). Hukumannya, dulu diikat di pucuk bambu lalu dilontarkan seperti anak panah, biarkan dia mati di sana. Sekarang, diusir dari kampung. Setelah satu tahun boleh kembali tetapi dilakukan acara pemulihan dengan potong kerbau,” jelas Aris dalam acara bedah novel Kemelut Kasta, tayang livestreaming pada youtube channel Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Minggu (13/2).

Aris, dalam novelnya, menggambarkan sosok Maria dan Simon yang akhirnya memberontak setelah sekian lama bersikap positif dan menuruti tuntutan budaya. Cinta yang mengeras memaksa wanita dan pemuda Ngada ini berubah peringai. Maria tak peduli lagi pada ayahnya Lambert, yang juga tokoh adat itu.

“Maria dan Simon merasa pilihan hidup mereka tidak bisa dibatasi oleh sekat apapun termasuk budaya dalam hal ini tradisi kasta yang mereka rasa sangat mengekang kebebasan. Keduanya jadi bahan pergunjingan di kampung Manu Solo (kebun saya). Maria dan Simon pun memilih pergi, ke kota Ende, lalu ke Serawak, Malaysia,” ujar Aris.

Lambert, ayah Maria, tetap teguh memaksa putrinya paham bahwa perempuan adalah ahli waris keluarga sekaligus penerus keturunan. “Tapi sekali daramu bercampur dengan darah pria yang tidak sederajat, ternoda oleh karena cinta buta, rusaklah generasi kita di pundakmu, martabat keluarga dipertaruhkan.”

Jika terpaksa, Maria tetap kawin dengan Simon, jelas Aris, ada ruang adat diberikan (dhoro ga’e), artinya rang atau kasta perempuan turun untuk sejajar dengan kasta laki-laki, tentu melalui upacara adat (sembelih kerbau).

Elshy, peserta bedah novel Kemelut Kasta yang juga kelahiran Ngada, juga menandaskan bahwa kaum perempuan di Ngada sangat terintimidasi, karena perempuan harus bersuami sama kasta, sedang pria bebas kasta.

Emilianus Yakob Sese Tolo (EYST), peneliti masalah sosial dan Dosen STFK Ledolero, bahkan menggambarkan bahwa tradisi kasta di Ngada itu probelmatis karena pernikahan itu menurunkan kasta seseorang, tapi dalam kadar itu kasta atas harus membagi harta waris dengan kasta bawah.

Emilianus Yakob Sese Tolo

“Persoalan kasta di Ngada lebih ekstrim dibanding wilayah lain di Flores. Novel Kemelut Kasta berhasil menggambarkan situasi masyarakat Ngada dengan jujur, dan berpotensi membongkar tradisi kasta,” ujar EYST yang tampil sebagai penanggap dalam bedah novel dimaksud.

Menurut EYST, novel Kemelut Kasta memberi gambaran ekonomi politik secara lebih realistis dan sekaligus memberi saran bahwa sistem kasta itu buruk dan karena itu bisa menjadi seruan moral praktis agar sistem kasta tidak perlu dipraktekan lagi atau perlu dilawan.

“Novel kasta juga memberi gambaran bahwa perempuan Flores, terutama Ngada, harus dihargai kedudukannya dan fungsinya dalam masyarakat sebagai makluk yang bebas dalam menentukan hidupnya tanpa terkungkung dalam budaya feodalisme, yang masih hidup dalam masyarakat Flores modern hari ini.”

Di Ngada itu, lanjut EYST, sebenarnya menganut sistem patrilineal yang terbungkus sistem matrilineal. Perempuan tidak bebas menjual tanah, justru laki-laki yang berkuasa, dan tampil berbicara di rumah adat.

Comment

News Feed